RADAR GRESIK- Tidak seperti masyarakat pada umumnya, dalam merayakan hari raya Idul Fitri 1445 Hijriah. Sebagian masyarakat di Pulau Bawean, masih tetap mengungsi di tenda pengungsian.
Rumah warga sudah banyak yang rusak, dan sebagian sudah tidak layak dihuni. Karena mengalami retak dan warga pun masih takut lantaran masih beberapa hari terakhir ini, masih terjadi gempa susulan.
Salah satunya berada di Dusun Pamasaran, Desa Dekatagung, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean. Jelang Lebaran ketupat, warga masih beberapa aneka jajanan hari raya lebaran disuguhkan di tenda pengungsian. Beserta tempat tidur dan dapur kecil yang disiapkan.
“Sudah tidak berada di rumah sejak gempa pada tanggal 22 Maret 2024 lalu. Hingga saat ini, masih berada di tenda pengungsian. Termasuk menerima tamu keluarga juga disini. Rumah sudah hancur. Kami sajikan kue jajanan dan kue lebaran di tenda pengungsian,” ucap warga setempat, Nurul Wahida, Minggu (14/4).
Perempuan asal Dusun Pamasaran, Desa Dekatagung, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean ini, menyebut sudah hampir berminggu-minggu berada di tenda pengungsian.
“Setiap hari masih terjadi gempa susulan. Sangat kerasa sekali. Saya tidur langsung ditarik suami di tenda ini,” ujarnya.
Hingga saat ini, dirinya bersama beberapa warga lainnya di Dusun setempat masih takut ke rumah. Lantaran masih terjadi gempa susulan.
Apalagi saat hujan. Warga harus merelakan badannya basah. “Kadang basah dan sangat mengkhawatirkan, tapi mau gimana lagi. Disini ada balita, anak-anak dan orang tua. Ada empat KK berada di tenda ini,” tuturnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh warga lainnya Fadlun, selain rumah, tempat ibadah musala, di Dusun setempat juga rusak.
Warga pun membuat tenda untuk menerima tamu saat Lebaran tiba. Jelang Lebaran ketupat, warga juga menyuguhkan berbagai makan jajanan dan kue lebaran di dalam tenda pengungsian.
“Mulai awal gempa sampai hari ini, warga masih sholat di tenda. Tenda ini Sekaligus tempat istirahat bagi warga yang rumahnya ambruk dampak gempa,” ucapnya.
Diakuinya, hal yang dikhawatirkan di tenda saat malam hari. Ada binatang ular atau nyamuk dan binatang serangga lainnya.
“Saya sangat trauma sekali. Hingga saat ini saya tidak berani masuk musala. Saat ini yang paling dibutuhkan warga, selain bantuan sembako. Juga bantuan material pembangunan rumah atau rumah ibadah yang rusak,” tambahnya.
Diketahui, di Dusun tersebut, setidaknya ada 30 rumah dari 60 rumah yang terdampak gempa. Mulai rusak ringan, sedang, dan berat.
Selain di Dusun setempat, beberapa warga yang masih mengungsi ada di Dusun Dedawang, Desa Telukjatidawang, Kecamatan Tambak, Dusun Raba Desa Lebak, Kecamatan Sangkapura. (yud/han)
Editor : Hany Akasah