RADAR GRESIK-Warga Bawean Gresik diguncang ratusan gempa selama tiga hari berturut-turut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gresik mencatat sebanyak 4.085 rumah, 138 rumah ibadah, 68 sekolah dan 12 perkantoran di Kecamatan Tambak dan Sangkapura rusak terdampak gempa bumi di wilayah tersebut sejak Jumat (22/3/2024) kemarin.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, sebagian besar warga mengungsi bukan karena rumah mereka rusak akibat gempa. Namun, sebagai antisipasi terjadinya gempa susulan.
“Total 229 gempa terjadi dengan skala richter atau magnetudo berbeda-beda di Pulau Bawean,” kata Muhari.
Untuk mengantisipasi kejadian tak terduga, BPBD Gresik telah mendirikan posko penanganan darurat gempa bumi, yang berlokasi Desa Dekatagung, Desa Lebak, dan pendopo Kantor Kecamatan Sangkapura, Gresik, Jatim.
Kemudian, hasil kaji cepat BPBD Jatim telah berhasil mendata total jumlah dampak kerusakan akibat gempa. Yaitu rumah rusak ringan sebanyak 2.654 unit, rumah rusak sedang 1.177 unit, dan rumah rusak berat sebanyak 779 unit. Dampak kerusakan itu tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Jatim.
Selain itu, lanjut Abdul Muhari, gempa juga menyebabkan rusaknya sekolah sebanyak 78 unit, rumah sakit 5 unit, tempat ibadah 156 unit, dan gedung 8 unit.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, Gempa Bawean berkekuatan M 5,9 dan M 6,5 pada 22 Maret 2024 merupakan jenis gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang dipicu aktivitas sesar aktif dengan mekanisme geser/mendatar (strike-slip) di Laut Jawa.
Daryono menerangkan gempa Bawean berpusat di zona aktivitas kegempaan rendah (low seismicity). "Karena terjadi di wilayah yang jarang terjadi gempa dangkal. Selama ini wilayah Laut Jawa lazimnya menjadi episenter gempa-gempa hiposenter dalam (deep focus) akibat deformasi slab Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi di bawah Lempeng Eurasia, tepatnya di bawah Laut Jawa dengan kedalaman sekitar 500-600 km," paparnya.
Daryono mengatakan gempa Bawean berpusat di zona Sesar Tua Pola Meratus. Dia menerangkan wilayah Laut Jawa utara Jawa Timur secara geologi dan tektonik berada pada zona Sesar Tua Pola Meratus yang mengindikasikan keberadaan jejak sesar-sesar atau patahan yang berusia tua.
Gempa Bawean membuktikan jalur sesar di Laut Jawa masih aktif. Daryono menilai gempa dapat berulang dan terjadi kapan saja meski Laut Jawa utara Jawa Timur termasuk zona kegempaan rendah.
Editor : Hany Akasah