GRESIK-Pedagang pasar Kota Gresik mengeluhkan jumlah pembeli yang terus menurun. Pemicunya, selain persaingan dengan toko digital alias marketplace juga sebagian perdagang merasakan adanya perlambatan ekonomi global sehingga membuat daya beli menurun.
Budi, 48, salah satu pedagang perabotan dapur mengatakan, jika dibandingkan sebelum Pandemi kini penjual di pasar Gresik hanya ada puluhan pedagang yang masih aktif. Sedangkan sisanya banyak yang sudah menutup tokonya secara permanen.
"Daya beli masyarakat turun karena bahan pokok yang terus tinggi juga menyebabkan pembeli tidak berbelanja di pasar setiap hari. Pedagang yang masih bertahan seperti penjual bahan pokok kebutuhan sehari-hari karena mempunyai pembeli tetap di tokonya," ujar Budi.
Baca Juga: Perbankan Lebih Selektif, Pasar Properti di Gresik Melambat
Hal serupa juga dialami pedagang bumbu dapur dan bahan pokok, Shodiq, 63, mengatakan, hingga pukul 10.00 baru mendapatkan empat pembeli. Padahal, ia sudah berjualan sejak pukul 05.00. Menurutnya, menurunnya jumlah pembeli ini telah dia rasakan sejak pandemi Covid-19 lalu.
Perubahan perilaku pembeli untuk membeli secara online juga berimbas pada pasar tradisional. Ditambah dengan kenaikan harga bahan pokok yang mulai tinggi juga membuat pembeli yang semakin jarang didapatkan bagi pedagang di pasar.
Menanggapi fenomena ini, Pengamat ekonomi Gresik, Indrajaya, mengungkapkan sejak pandemi Covid-19 lalu hingga saat ini daya beli masyarakat masih rendah. ”Pasar tradisional ini milik pemerintah yang secara pengelolaan pasar harus bisa lebih baik. Jika pasar sepi, pengelola juga bisa memberikan pelatihan mengenai cara berjualan secara online. Karena kan yang dibutuhkan adalah perputaran uang itu bisa tetap terjadi dan meningkatkan daya beli masyarakat juga,” katanya dosen Universitas Gresik itu.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Pemkab Gresik, Mahalatul Fardah masih mencari strategi dalam mengatasi sepinya pasar tradisional. (fir/han)
Editor : Hany Akasah