Ketua Bidang Pengembangan Sumberdaya Laut Perkumpulan Peduli Konservasi Bawean, Abdul Saddam Mujib mengatakan, penemuan guci kuno tersebut sebagai indikasi perairan laut Bawean kaya akan harta karun bawah laut.
”Apalagi penemuannya di perairan barat pulau Bawean. Diduga, sempat ada Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT),” ujar Abdul Saddam Mujib, Jumat (12/8).
Menurutnya, pada abad ke-17 hingga 19, perairan laut Jawa merupakan daerah lalu lalangnya kapal kapal Cina, Portugis, Inggris dan negara lainnya.
Dengan penemuan itu, Saddam berharap penemuan guci tersebut bisa menjadi daya tarik wisatawan. ”Jadi bukan barang antik saja tapi dibuatkan semacam pameran foto keanekaragaman hayati laut di Bawean seperti terumbu karang, dugong ( putri duyung ) sampai dengan hiu paus,” ujar pria yang proses menulis aktivitas tambak di Pesisir Bawean.
Sementara Adji Sudarmo Kakaikan penulis Majalah Scuba Diver Australasia - Ocean Planet Indonesia ( SDDAI) mengatakan, kalau benar dua barang itu bernilai sejarah, bisa dijadikan daya tarik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik berwisatawan sejarah. Harapannya, bisa menumbuhkan pariwasata minat khusus, terutama bahari.
”Salah satunya, tembikar atau gerabah (koin, guci) era Dinasti Ming, atau Dinasti Qin,” kata Adji Sudarmo.
Dikatakan, penemuan itu bisa jadi ada kaitan proses penyebaran sejarah Islam di Indonesia. Sekitar, 1.300 Masehi, Sunan Gresik atau Maulanan Malik Ibrahim berasal Campa dataran Cina. ”Guci itu bisa tetap ditempatkan di bawah laut untuk manjadi spot penyelaman atau diving - pariwisata minat khusus,” tutur Adji. Misalnya, untuk underwater photography atau photo bawah laut.
Sementara itu, pihak kepolisian atau instansi saat ini memberikan arahan batasan nelayan melaut. Tidak melintasi lokasi tempat destinasi sejarah itu jika disitu ada barang bersejarah. ”Kedepan kalau dikelola dengan baik bersama instansi, masyarakat yang terlibat, maka akan menumbuhkan ekonomi mereka,” harap Adji.(*/han) Editor : Hany Akasah