RADAR GRESIK – Upaya menekan dan mengentaskan angka stunting di Kabupaten Gresik terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor yang solid. Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Kabupaten Gresik gencar menyosialisasikan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) sekaligus menggembleng kapasitas Tim Pendamping Keluarga (TPK) secara berkala setiap bulan.
Langkah strategis ini menjadi kunci utama untuk memastikan seluruh keluarga yang masuk dalam kategori berisiko stunting memperoleh intervensi dan pendampingan yang tepat sasaran.
Pencegahan dilakukan menyeluruh dari hulu, mulai dari edukasi kesehatan reproduksi remaja, pembekalan calon pengantin, hingga pengawasan intensif bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta anak usia bawah dua tahun (baduta) dan balita.
Baca Juga: Kekerasan Terhadap Laki-Laki Masih Terjadi di Gresik, Dinas KBPPPA Imbau Penguatan Hubungan Sehat
Kepala Dinas KBPPPA Kabupaten Gresik, dr. Titik Ernawati, menegaskan bahwa penguatan kompetensi kader di lapangan merupakan fondasi vital demi meningkatkan efektivitas pencegahan stunting di tingkat desa dan kelurahan.
Saat ini, KBPPPA Gresik telah menerjunkan sebanyak 3.030 anggota TPK yang tersebar secara merata di 356 desa dan kelurahan se-Kabupaten Gresik. Unsur TPK tersebut terdiri atas gabungan tiga elemen penting, yakni tenaga kesehatan (bidan atau perawat desa), kader TP PKK, serta kader Keluarga Berencana (KB).
“Setiap bulan kami secara konsisten menggelar peningkatan kapasitas bagi tim pencegahan stunting,” ujar dr. Titik di sela agenda sosialisasi di Kantor Kecamatan Manyar, Gresik.
Baca Juga: Lindungi Hak Anak, Dinas KBPPPA Gresik Turun Tangan Dampingi Korban Dugaan Kekerasan di Ponpes
dr. Titik menjelaskan, TPK bertugas melakukan pemetaan komprehensif terhadap kondisi keluarga berisiko. Pendataan tidak hanya mencakup indikator kesehatan fisik remaja, calon pengantin, ibu hamil, maupun anak, melainkan juga menyentuh aspek kelaikan hunian, ketersediaan sanitasi air bersih, hingga profil sosial-ekonomi keluarga.
Berdasarkan data pemetaan sasaran pendampingan tahun 2026, tercatat sebanyak 26.124 keluarga di Kabupaten Gresik masuk dalam kategori memiliki faktor risiko stunting. Sementara itu, sebanyak 38.048 keluarga lainnya terdata aman atau tidak memiliki faktor risiko.
Di samping itu, pencegahan stunting diperkuat melalui pengawalan program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya bagi kelompok 3B (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD). KBPPPA bersama kader bergerak aktif mengawal pendistribusian dan mengedukasi masyarakat agar asupan gizi yang disalurkan benar-benar diserap secara optimal oleh sasaran.
Baca Juga: Dorong Kepemimpinan Kritis Perempuan Desa, Dinas KBPPPA Gresik Gelar Evaluasi Sekolah Perempuan
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Gresik, Nurul Haromaini Ali, menggarisbawahi bahwa penanganan masalah stunting tidak dapat diselesaikan oleh satu instansi saja, melainkan membutuhkan gotong royong seluruh pihak.
Sejumlah program unggulan yang terus didorong oleh TP PKK Gresik meliputi perluasan cakupan Gerakan Genting, optimalisasi peran TPK, pembentukan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat), pengawalan program MBG bagi kelompok 3B, serta penguatan edukasi kesiapan berkeluarga bagi generasi muda.
Menurut sosok yang akrab disapa Ning Nurul ini, stunting bukan sekadar masalah kecukupan makanan bergizi pada anak, melainkan berkorelasi erat dengan kondisi kesehatan ibu, penerapan pola asuh, ketersediaan sanitasi yang bersih, hingga daya dukung ekonomi.
Baca Juga: Kekerasan Terhadap Laki-Laki Masih Terjadi di Gresik, Dinas KBPPPA Imbau Penguatan Hubungan Sehat
“Kami menyadari bahwa stunting bukan hanya persoalan gizi semata, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan ibu, pola asuh anak, sanitasi lingkungan, dan kondisi sosial ekonomi keluarga. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi mutlak agar keluarga berisiko mendapat bantuan yang sesuai kebutuhan,” jelas Ning Nurul.
Ia berharap, sinergi yang terbangun antara jajaran pemerintah daerah, TP PKK, tenaga medis, kader lapangan, dan partisipasi aktif masyarakat mampu mendeteksi serta menangani potensi stunting secara dini dan berkelanjutan demi melahirkan generasi masa depan Gresik yang sehat, cerdas, serta berdaya saing.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Manyar, M. Fither Kuntajaya, menginstruksikan seluruh Ketua TP PKK Desa dan tiga kepala puskesmas di wilayah Kecamatan Manyar untuk tegak lurus mendukung program pencegahan stunting yang telah dirancang.
Baca Juga: DPRD dan Pemkab Gresik Sepakati KUA-PPAS 2027, Belanja Daerah Disepakati Tembus Rp 3,58 Triliun
Penguatan koordinasi hingga tingkatan desa diharapkan membuat proses deteksi dini dan intervensi gizi dapat tereksekusi dengan cepat, tepat, serta memberikan dampak nyata bagi tumbuh kembang anak-anak di Kabupaten Gresik. (jar/han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik