ISPA Capai 87.730 Kasus, Dinkes Gresik Ungkap Lima Penyakit Terbanyak Sepanjang 2026

Fajar Yuliyanto • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 20:36 WIB
PELAYANAN : Suasananya pelayanan di rumah sakit di Gresik. (Foto : Dok/Radar Gresik)
PELAYANAN : Suasananya pelayanan di rumah sakit di Gresik. (Foto : Dok/Radar Gresik)

RADAR GRESIK — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik mencatat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling banyak diidap oleh masyarakat Kabupaten Gresik sepanjang tahun 2026. Berdasarkan laporan sistem E-Pus Dinkes Gresik, jumlah temuan kasus ISPA menembus angka 87.730 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Gresik, dr. Puspitasari Wardani, menyampaikan bahwa berdasarkan data rekapitulasi E-Pus 2026, terdapat lima jenis penyakit yang mendominasi kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan.

“Lima penyakit terbanyak dari laporan E-Pus 2026 yakni infeksi saluran napas akut (ISPA), gangguan otot, hipertensi, dispepsia, dan faringitis akut,” kata Puspitasari, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga: Penghasilan Tak Tetap Bikin Iuran Tersendat, BPJS Kesehatan Gresik Kenalkan Program NADI JKN

Menempel di posisi kedua setelah ISPA, penyakit yang cukup masif ditemukan pada warga adalah myalgia atau gangguan otot dengan catatan 36.692 kasus. Selanjutnya, penyakit tidak menular berupa hipertensi menempati urutan ketiga dengan 21.690 kasus.

Sementara itu, dispepsia atau keluhan gangguan pencernaan berada di peringkat kelima dengan 18.819 kasus, disusul peradangan tenggorokan atau faringitis akut di posisi kelima dengan 18.506 kasus.

Tingginya temuan data tersebut mengindikasikan bahwa persoalan kesehatan di Kabupaten Gresik tidak semata-mata didominasi oleh penyakit infeksi menular pada saluran pernapasan, melainkan juga dipicu oleh gangguan fisik akibat kelelahan serta penyakit tidak menular yang berkorelasi dengan gaya hidup.

Baca Juga: Cegah Penularan Kasus HIV di Gresik, Dinsos Terjunkan Tim ke Sekolah

Puspitasari menjelaskan bahwa gambaran riil kondisi kesehatan masyarakat Gresik juga terekam melalui pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Pemeriksaan massal ini dirancang tidak hanya untuk merespons keluhan sakit warga, tetapi juga difokuskan pada upaya skrining dini terhadap berbagai faktor risiko kesehatan, termasuk menemukan fakta masih rendahnya tingkat aktivitas fisik masyarakat.

“Kalau CKG itu kan sudah masuk di program PHTC, program hasil terbaik cepat. Jadi di RPJMN targetnya di seluruh kabupaten/kota itu 46 persen dari total populasi warga di kabupaten tersebut,” ujarnya.

Baca Juga: Berikan Bebas SPP Hingga Rekreasi untuk Paskibraka, Kebijakan SMK HU-BP Dipuji Anggota DPRD Gresik

Menyikapi temuan ini, Dinkes Gresik mengimbau masyarakat untuk mengubah paradigma kesehatan dengan tidak hanya datang memeriksakan diri saat kondisi tubuh sudah sakit. Program CKG terus didorong menjadi bagian dari gaya hidup untuk memantau kebugaran tubuh secara berkala.

Menurut Puspitasari, deteksi dini kesehatan idealnya dilakukan minimal satu kali dalam setahun agar potensi penyakit maupun faktor risikonya dapat ditangani sebelum berkembang menjadi lebih parah.

Langkah preventif ini dinilai sangat krusial mengingat peta penyakit di Gresik kini didominasi oleh kombinasi antara infeksi pernapasan, keluhan fisik, hingga penyakit kronis.

Baca Juga: Diduga Hilang Kendali Saat Nyalip, Terbalik Usai Terobos Pembatas Exit Tol KLBM Gresik

“Masyarakat diimbau lebih aktif menjaga kesehatan melalui pola hidup sehat, aktivitas fisik yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin,” pungkasnya. (jar/han) 

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Gresik
dinas kesehatan penyakit gresik 2026 ispa