RADAR GRESIK-Di wilayah seputaran masyarakat Lamongan dan sebagian Gresik tidak mau makan ikan lele.
Mereka percaya jika makam lele terkena musibah bahkan dikutuk jadi sengsara.
Salah satu warga Lamongan, Riri mengaku masyarakat Lamongan memang tidak suka makan lele. Bagi, mereka makan lele adalah pantangan.
"Padahal, banyak sekali orang Lamongan jual sambel atau pecel lele Lamongan, tapi bagi kami warga Lamongan tantangan itu makan lele. Jika dipaksa nanti akan belang-belang atau bakal kena kutukan serta musibah," kata Riri.
Dari berbagai literatur, pantangan konsumsi makan lele bermula dari konon suatu ketika Sunan Giri III atau Sedamargo ingin jalan-jalan blusukan menelusuri kampung-kampung rawa (dataran rendah yang sering banjir) dengan menggunakan perahu di daerah aliran kali Bengawan Solo, sampailah di kampung bernama Desa Barang.
Sunan Giri tak sengaja bertemu dan mampir ke rumah seorang janda yang punya harisma bernama Dewi Asika yang lebih dikenal sebagai Mbok Rondo Barang.
Saat pergi pulang dari sana, Sunan Giri III tidak sengaja lupa tidak membawa serta kerisnya ( tertinggal).
Akhirnya, ia memerintahkan orang kepercayaannya yang bernama Abdus Shomad yang berjuluk Ki Bayapati untuk mengambil keris tersebut.
Sayangnya, Ki Bayapati memilih mengambil keris tersebut dengan cara diam-diam. Mbok Rondo Barang yang sadar keris itu telah dicuri akhirnya berteriak minta tolong.
Untuk menghindari amuk massa, Ki Bayapati memilih untuk menceburkan diri ke sebuah kubangan/rongga kali yang dipenuhi ikan lele.
Anehnya, ikan lele yang ada di situ tidak bergerak sama sekali, seperti tidak terjadi apa-apa. Namun begitu warga masih curiga hingga ditunggi sampai lama, tapi Ki boyopati tidak muncul-muncul juga, sampai warga merasa capek dan putus asa hingga pulang ke rumah.
Setelah sepi dari pengamatan warga, Ki Bayapati pun akhirnya keluar dan selamatlah dia dari kejaran warga.
Karena merasa bisa selamat dari marabahaya akibat ulah dan jasa ikan lele, maka Ki Boyopati bersumpah untuk tidak memakan ikan lele.
Ki Boyopati berwasiat kepada anak turunnya juga agar ikuti sumpahnya untuk tidak memakan ikan lele yang telah berjasa dalam hidupnya.
Fenomena ini berlaku di masyarakat keturunan Ki Boyopati yakni di wilayah Lamongan dan sebagian masyarakat Lamongan hingga kini.
Jika ada warga Lamongan maupun Gresik yang melanggar, maka biasanya akan mendapatkan musibah.
Tingkatan musibahnya bermacam-macam, yang paling sering berupa sakit yang sulit diobati. Sakit yang paling ringan biasanya terkena penyakit kulit belang atau bersisik.
Jika sudah terkena musibah, ajaibnya cara penyelesaiannya adalah melakukan riadloh di makam Ki Boyopati yang berada di Desa Medang Kecamata Glagah Kabupaten Lamongan.
Makanya Ki Boyopati ini juga sering disebut sebagai sunan Medang, yang ramai diziarahi anak keturunannya pada setiap hari Jumat Pon.
Sedang keturunannya banyak tersebar di wilayah Lamongan timur dan Gresik barat. (han)
Editor : Hany Akasah