Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Angka Kematian Ibu di Gresik Turun, Dinkes Kini Fokus Tangani Lonjakan Kasus Kematian Bayi akibat Asfiksia

Hany Akasah • Rabu, 7 Januari 2026 | 19:16 WIB
KOMITMEN: Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Gresik, dr. Anik Luthfiyah, saat memaparkan evaluasi kesehatan ibu dan anak.
KOMITMEN: Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Gresik, dr. Anik Luthfiyah, saat memaparkan evaluasi kesehatan ibu dan anak.

RADAR GRESIK – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik merilis raport kesehatan ibu dan anak sepanjang tahun 2025. Meski berhasil menekan Angka Kematian Ibu (AKI), Dinkes kini menghadapi tantangan besar menyusul meningkatnya Angka Kematian Bayi (AKB) yang cukup signifikan.

Berdasarkan data resmi, kasus kematian ibu pada tahun 2025 tercatat sebanyak 11 kasus, turun dari tahun 2024 yang mencapai 15 kasus. Namun, tren sebaliknya terjadi pada angka kematian bayi yang melonjak menjadi 114 kasus dari sebelumnya 84 kasus di tahun 2024.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Gresik, dr. Anik Luthfiyah, menjelaskan bahwa kematian ibu mayoritas disebabkan oleh faktor non-obstetri atau penyakit penyerta yang sudah diderita sebelum hamil.

“Penyakit kronis seperti diabetes, obesitas, dan gangguan jantung masih menjadi risiko utama yang memperberat kondisi kehamilan. Dari sisi usia, mayoritas kasus terjadi pada usia produktif, yakni kelompok 20 hingga 34 tahun sebanyak tujuh kasus,” ungkap dr. Anik.

Terkait kenaikan AKB, dr. Anik menyebutkan bahwa Asfiksia (gangguan pernapasan saat lahir) menjadi penyebab tertinggi dengan kontribusi 36 persen. Faktor lain yang tak kalah krusial adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

“BBLR sangat berkaitan dengan kualitas gizi dan kesehatan ibu selama masa kehamilan. Jika ibu memiliki penyakit penyerta atau gizi kurang, risiko bayi lahir dengan kondisi tidak sehat akan semakin besar,” tambahnya.

Guna merespons data tersebut, Dinkes Gresik telah menyiapkan serangkaian program penguatan layanan kesehatan dari hulu ke hilir. 

Mulai dari pemberian tablet tambah darah di sekolah dan pemeriksaan kesehatan calon pengantin, layanan antenatal dengan mewajibkan minimal enam kali kunjungan kehamilan dan penyediaan layanan USG terintegrasi BPJS di seluruh Puskesmas.

Serta mengembangkan Quality Improvement Collaborative (QIC) bekerja sama dengan Universitas Airlangga untuk memperkuat sistem rujukan antara Puskesmas dan Rumah Sakit.

“Tahun depan, cakupan program QIC akan diperluas ke lebih banyak Puskesmas dan Rumah Sakit di Gresik untuk memastikan penanganan kasus risiko tinggi dilakukan secara cepat dan tepat,” pungkas dr. Anik. (jar/han)

Editor : Hany Akasah
#bayi #kesehatan #gresik #Ibu #kematian #DINKES