RADAR GRESIK- Dampak action figure atau Anime bukan hanya membuat anak-anak atau pemuda menghabiskan waktu untuk menonton handphone, namun juga berdampak negatif lainnya.
Seperti yang dialami seorang pemuda berinisial MA, 20 tahun. Mahasiswa ITS Surabaya itu harus menjalani perawatan intensif di dokter kejiawaan atau psikiater RSUD Ibnu Sina dan RS Semen Gresik.
Penyebabnya, pemuda yang tinggal di Gresik itu sudah sejak sekolah menyukai action figure atau anime. Akibatnya, MA selama bertahun-tahun hidup dalam dunia imajinasi. Sehingga, jika diajak komunikasi seringkali tidak menyambung.
"Kayak linglung. Jadi pikiran kosong," kata MA
Menurutnya, dari kecil dirinya memang suka Anime. Sewaktu SMA, dirinya bisa bermalam fi warnet untuk melihat action figure anime beserta dengan game anime.
Dari hobi itu, MA mengaku kalau setiap malam tidak bisa tidur. Dalam pikirannya hanya action figure atau sosok anime. Bahkan, suka berbica sendiri dan membayangkan dialah yang menjadi sosok Anime.
"Selama tujuh tahun tidak bisa tidur. Insomnia karena di otak hanya anime dan tubuh ikut bergerak-gerak, ikut perang-perangan. Suka ngomong sendiri di kamar," kata MA.
Pola hidup yang tidak sehat karena insomnia hingga kini MA tidak bisa membedakan apakah dalam dunia nyata dan nyata. MA pun mengaku tidak bisa mengatur diri sendiri.
"Mandi jarang, bau badan menyengat. Saya tidak menemukan komunitas anime ini juga sehingga saya seperti hidup sendirian," kata MA.
Puncaknya yakni ketika ia dijauhi teman kuliah hingga lingkungannya. Maklum, MA tidak bisa berkomunikasi secara intens hingga kondisi fisiknya yang tidak terawat.
"Saya merasa sendiri sehingga ingin mengakhiri hidup. Untung keluarga support dan membawa ke psikiater jadi saya juga harus berusaha sembuh. Apalagi sekarang sudah semester akhir," kata MA.
Sementara itu, Direktur RSUD Ibnu Sina Gresik dr Sony mengakui jika saat ini cukup banyak pemuda dan anak-anak yang mengalami permasalah kesehatan mental.
"Handphone, media sosial dan lingkungan berpengaruh terhadap kesehatan mental mereka," kata dr Sony.
Di RSUD Ibnu Sina, kasus kesehatan mental pada anak-anak, remaja hingga pemuda meningkat sejak tahun 2020 an. Hal itu seiring dengan banyaknya anak, remaja hingga pemuda yang kecanduan gadget. (han)
Editor : Hany Akasah