Ekonomi & Bisnis Features Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kota Gresik Lifestyle Moncer Seru Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro Politika Sosial Sport & Health

Ritukan: Tradisi Patrol Sahur Warga Pesisir Utara Gresik, Penanda Syahdu Menjelang Akhir Ramadan

Fajar Yuliyanto • 2026-03-12 11:42:41

SUASANA : Patrol sahur di suasana warga pesisir utara Gresik.
SUASANA : Patrol sahur di suasana warga pesisir utara Gresik.

RADAR GRESIK – Suasana dini hari di pesisir utara Kabupaten Gresik, khususnya di Kecamatan Ujungpangkah, berubah menjadi panggung seni rakyat yang meriah.

Menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, warga setempat membangkitkan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan Ritukan.

Bukan sekadar aktivitas membangunkan sahur biasa, Ritukan merupakan perpaduan antara religi, seni budaya, dan kegembiraan warga dalam menyambut datangnya Idulfitri.

Di Desa Pangkahwetan, tradisi ini menjelma menjadi pawai budaya yang megah. Warga tidak hanya membawa alat musik seadanya, tetapi juga menampilkan atraksi kesenian tradisional seperti Pencak Macan dan Reog.

Suara tetabuhan musik patrol berpadu dengan atraksi seni, menciptakan atmosfer sahur yang semarak dan penuh keceriaan.

Kepala Desa Pangkahwetan, Syaifullah Mahdi, mengungkapkan bahwa Ritukan telah mendarah daging bagi masyarakat Ujungpangkah. Ia sendiri mengaku telah mengenal istilah ini sejak masa kanak-kanak sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas desa.

“Ritukan di Pangkah sudah menjadi warisan nenek moyang. Ini adalah cara kami menikmati sepuluh hari terakhir Ramadan. Semua terlibat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa,” jelas Syaifullah.

Bagi masyarakat pesisir, kehadiran rombongan Ritukan di depan rumah menjadi alarm alami sekaligus pengingat bahwa bulan suci akan segera berakhir.

Tradisi ini biasanya mencapai puncaknya pada malam-malam ganjil di akhir Ramadan (malam likuran).

Selain sebagai sarana syiar, Ritukan menjadi momentum silaturahmi akbar bagi warga setelah seharian disibukkan dengan aktivitas masing-masing.

Usai pawai berkeliling kampung, warga biasanya pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira untuk bersantap sahur bersama keluarga.

Dalam tiga tahun terakhir, skala kemeriahan Ritukan terus meningkat. Penambahan unsur seni seperti Reog dan Pencak Macan sengaja dilakukan untuk menarik minat generasi muda sekaligus melestarikan budaya lokal Gresik.

“Kami ingin Ritukan tidak hanya sekadar membangunkan sahur, tapi juga menjadi ajang promosi seni budaya dan mempererat kerukunan warga. Alhamdulillah, setiap tahun antusiasmenya semakin luar biasa,” tutup Syaifullah. (jar/han) 

Editor : Hany Akasah
#patrol #pencak macan #ujungpangkah #reog #Ritukan #Geesik