Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Solidaritas Nelayan Randuboto Gresik, Melaut Bersama Demi Renovasi Rumah Ibadah Lewat Tradisi Kajakan

Yudhi Dwi Anggoro • Selasa, 29 April 2025 | 17:53 WIB
KAJAKAN : Para nelayan di Desa Randuboto, Kecamatan Sidayu saat membawa hasil tangkapan dari melaut untuk di bawa ke pengepul dan hasilnya untuk membantu merenovasi Masjid.
KAJAKAN : Para nelayan di Desa Randuboto, Kecamatan Sidayu saat membawa hasil tangkapan dari melaut untuk di bawa ke pengepul dan hasilnya untuk membantu merenovasi Masjid.

RADAR GRESIK - Pernahkah Anda mendengar tentang tradisi Kajakan? Inilah tradisi unik yang berasal dari Desa Randuboto, Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik. Setelah ratusan tahun lamanya, tradisi ini kembali dihidupkan oleh warga desa Randuboto.

Tradisi Kajakan merupakan sebuah kegiatan di mana para nelayan Desa Randuboto secara beramai-ramai melaut bersama. Hasil dari tangkapan laut tersebut kemudian akan digunakan untuk membantu merenovasi rumah-rumah ibadah seperti masjid, musala, ataupun langgar yang membutuhkan uluran tangan.

Dalam pelaksanaan tradisi Kajakan kali ini, tercatat sekitar 150 nelayan dengan menggunakan 52 perahu turut serta. Hasil tangkapan mereka nantinya akan dijual kepada pengepul, dan seluruh hasil penjualannya akan disalurkan untuk membantu renovasi rumah ibadah.

Baca Juga: Ratusan Pendekar Silat di Bungah Tampilkan Tradisi Pencak Macan yang Memukau Warga Gresik

Menurut Subianto (41 tahun), salah seorang nelayan yang ikut serta dalam tradisi Kajakan, hasil tangkapan laut yang diperoleh meliputi berbagai jenis, seperti kerang kecil, kerang hijau, kepiting, sembilang, dan beberapa hasil laut lainnya.

"Jadi, seluruh nelayan ikut melaut, mencari kerang, kepiting, sembilang, ataupun pari. Nantinya, hasil tangkapan ini akan dijual dan uangnya akan diserahkan kepada langgar yang membutuhkan dana untuk renovasi," Jelas Subianto.

Hasil tangkapan kali ini pun terbilang melimpah, dengan total berat mencapai lebih dari satu kuintal.

"Total tangkapan kami bisa mencapai lebih dari satu kuintal, baik itu kerang kecil maupun besar, sembilang, pari, ataupun kepiting," ungkap Subianto.

Baca Juga: Beda Dari Kota Lainnya, Tradisi Kupatan di Gresik Digelar Hari ke-8, Ternyata Ada Makna Uang Koin dalam Ketupat

Dari hasil tradisi Kajakan ini, diperkirakan total hasil tangkapan nelayan dapat menghasilkan sekitar puluhan juta rupiah setelah dijual kepada pengepul.

"Saat dijual kepada pengepul, hasil tangkapan nelayan dalam tradisi Kajakan ini diperkirakan dapat mencapai total sekitar 15 juta rupiah," beber Subianto.

Sementara itu, Kepala Desa Randuboto, Andhi Sulandra, menjelaskan bahwa tradisi Kajakan ini telah ada sejak ratusan tahun silam. Namun, tradisi ini sempat vakum dan terakhir kali diselenggarakan pada tahun 1998.

"Tradisi Kajakan ini memang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Namun, penyelenggaraannya terakhir kali pada tahun 1998. Oleh karena itu, kami berupaya untuk mengaktifkan kembali tradisi ini," ungkapnya.

Baca Juga: Gresik Rayakan Tradisi, Kontes Bandeng Kawak 2025 Perkuat Budaya dan Ekonomi Perikanan

Lebih lanjut, Kades Andhi menekankan bahwa tradisi Kajakan bukan sekadar ritual, melainkan mengandung makna solidaritas dan kepedulian terhadap lembaga agama yang membutuhkan dana untuk perbaikan rumah ibadah. Saat ini, Langgar Sabillul Muttaqin menjadi fokus utama bantuan renovasi.

"Tradisi Kajakan ini memiliki makna tentang aksi solidaritas dan kepedulian terhadap lembaga agama yang memerlukan dana untuk renovasi rumah ibadahnya," jelas Andhi.

Saat ini, dana yang terkumpul dari tradisi Kajakan akan digunakan untuk membantu renovasi Langgar Sabillul Muttaqin, khususnya untuk pemasangan paving di halaman langgar serta pembangunan tempat wudu baru bagi pria dan wanita.

Baca Juga: Sanggring Gumeno, Tradisi Kolak Ayam Lima Abad yang Menggugah Selera dan Spiritualitas

"Untuk saat ini, tradisi Kajakan digunakan untuk membantu dana renovasi Langgar Sabillul Muttaqin, seperti pavingisasi halaman langgar dan pembuatan tempat wudu baru bagi pria dan wanita di langgar tersebut," tandas Andhi.

Andhi Sulandra berharap agar tradisi Kajakan ini dapat terus berlanjut di tahun-tahun mendatang, mengingat banyaknya lembaga keagamaan di Desa Randuboto.

"Kami berharap tradisi Kajakan ini tidak hanya berlangsung tahun ini saja, namun dapat terus berlanjut di tahun-tahun mendatang," pungkas Andhi. (yud/han)

Editor : Hany Akasah
#Tradisi #gresik #Kajakan #nelayan #Melaut #Randuboto #langgar #Renovasi #masjid