Tidak hanya menjadi pengrajin wayang kulit saja, Suroto juga melestarikan karya-karyanya dengan sekaligus menjadi dalang Pewayangan Gagrak Pesisiran. Warga asal Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah itu, mengaku bisa menjadi pengrajin wayang kulit dan dalang dari kegemarannya melihat pentas seni pewayangan sejak muda, kemudian dia belajar secara otodidak.
“Sekitar tahun 2010 saya mulai menjadi dalang, kalau jadi pengrajin wayang kulit sekitar empat tahun lalu,” ujar Suroto.
Suroto menuturkan minat menjadi pengrajin wayang kulit dan dalang semat-mata untuk melestarikan budaya warisan khas Nusantara khususnya Jawa. Uniknya, wayang kulit yang diproduksi oleh Suroto memiliki kreasi motif dan warna yang berbeda-beda. Perbedaan itu bisa tergantung wilayah.
“Kalau wilayah Gresik ini misalnya, karena pesisir maka lebih cenderung warna biru dan merah tua,” tuturnya.
Meski kesenian tersebut sudah jarang dilihat, namun peminat koleksi wayang kulit di Indonesia masih ada. Permintaan cukup banyak dan tergantung ukuran dan tingkat kesulitan dalam membuat wayang kulit.
“Setiap ukuran dan tingkat kesulitan dalam proses memahat berpengaruh terhadap harga. Saya juga berharap seni wayang kulit dan dalang dapat terus dilestarikan khususnya oleh generasi muda di Kabupaten Gresik. Sehingga budaya dan tradisi warisan leluhur bisa tetap eksis dan tidak tergerus oleh kemajuan zaman, " pungkasnya.(yud/han)
Editor : Hany Akasah