PHE WMO Dorong Kemandirian Ekonomi Warga Sidorukun melalui Pelatihan Tata Boga

Cak Fir • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 17:32 WIB
Melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM), PHE WMO menggelar Pelatihan Keterampilan Berbasis Kompetensi bagi warga Desa Sidorukun Gresik.
Melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM), PHE WMO menggelar Pelatihan Keterampilan Berbasis Kompetensi bagi warga Desa Sidorukun Gresik.

GRESIK – PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) terus memperkuat komitmennya dalam memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM), PHE WMO menggelar Pelatihan Keterampilan Berbasis Kompetensi bagi warga Desa Sidorukun, Gresik.

Memasuki 2026, program tersebut menghadirkan pendekatan berbeda. Jika pada tahun-tahun sebelumnya pelatihan lebih banyak diarahkan pada keterampilan teknis industri, kali ini PHE WMO memfokuskan pelatihan pada bidang tata boga yang dipadukan dengan penguatan jiwa entrepreneurship.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat agar memiliki keterampilan produktif sekaligus mampu mengembangkan peluang usaha secara mandiri. Pendekatan ini dinilai relevan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat yang masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga.

Sebagian keluarga di wilayah tersebut masih tergolong prasejahtera dan rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Kondisi itu antara lain dipengaruhi ketergantungan keluarga pada satu sumber penghasilan utama dari kepala keluarga. Di sisi lain, sebagian pemuda dan ibu rumah tangga belum terserap ke sektor formal karena keterbatasan keterampilan serta masih rendahnya motivasi untuk memulai usaha.

Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu langkah strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi. Masyarakat tidak hanya diarahkan untuk memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga memahami bagaimana keterampilan tersebut dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi yang memiliki nilai tambah.

PHE WMO menggandeng Pemerintah Desa Sidorukun dan UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Surabaya dalam pelaksanaan pelatihan yang berlangsung pada 7–17 September 2026 di UPT BLK Surabaya.

Selama 10 hari, para peserta mendapatkan pembelajaran secara intensif, mulai dari praktik pembuatan 10 jenis olahan roti, kue kering, hingga jajanan pasar tradisional. Materi pelatihan tidak berhenti pada kemampuan produksi, tetapi juga dilengkapi dengan pembekalan pengelolaan usaha.

Peserta diperkenalkan dengan aspek higienitas produksi, pengembangan dan kreasi produk, hingga simulasi perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP). Perhitungan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan variasi kualitas bahan baku sehingga peserta memiliki pemahaman yang lebih baik dalam menentukan biaya produksi dan harga jual.

Kepala Desa Sidorukun, Djuli Aspug, menyambut positif pendekatan baru pelatihan ini. Menurutnya, keterampilan tata boga memiliki potensi pasar yang sangat terbuka di tingkat desa, seperti pemenuhan kebutuhan ribuan paket konsumsi untuk acara warga atau peringatan Hari Kemerdekaan.

“Tahun ini arahnya jelas, yaitu membentuk jiwa entrepreneurship. Harapannya, selepas pelatihan warga bisa langsung mengimplementasikan skill dan ilmu yang di dapat. Jika kebutuhan snack kegiatan desa bisa diproduksi sendiri oleh warga, ekonomi lokal tentu akan berputar dan perlahan warga bisa lepas dari ketergantungan pada bantuan pemerintah,” ujar Aspug.

Menurutnya, keberadaan keterampilan yang dapat langsung diterapkan menjadi modal penting bagi warga untuk menciptakan sumber penghasilan baru. Dengan memanfaatkan kebutuhan pasar di lingkungan sekitar, peluang usaha dapat dimulai dari skala rumah tangga sebelum berkembang lebih luas.

Dalam kesempatan terpisah, Manager CRC Regional 4, Rahmat Drajat menegaskan bahwa pelatihan kompetensi ini merupakan agenda rutin perusahaan bagi masyarakat di wilayah Ring 1 operasional. Memasuki dua dekade keberadaannya, PHE WMO berkomitmen untuk terus hadir memberikan solusi yang berkelanjutan bagi persoalan masyarakat.

“Di tengah terbatasnya lapangan kerja dan rentannya ekonomi keluarga yang hanya bertumpu pada satu pencaharian, penguasaan keterampilan praktis menjadi kunci. Kami ingin masyarakat, khususnya kelompok pemuda dan ibu rumah tangga, tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga termotivasi untuk berwirausaha dan paham cara mengelola produk secara ekonomis,” ujar Rahmat.

Penguatan keterampilan dan kewirausahaan tersebut menjadi bagian dari pendekatan PHE WMO dalam memastikan program pemberdayaan masyarakat memberikan manfaat yang dapat berkelanjutan. Dengan bekal kompetensi yang diperoleh, peserta diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memahami aspek dasar pengelolaan usaha.

Senada dengan hal tersebut, Manager WMO Field, Nofrie Nianta Charitapermana, menekankan bahwa program pemberdayaan masyarakat ini memiliki kaitan erat dengan keberlangsungan dan kelancaran operasi perusahaan di wilayah tersebut.

“Kelancaran dan keamanan operasional PHE WMO selama ini tentu tidak lepas dari dukungan penuh serta hubungan harmonis yang terjalin dengan masyarakat sekitar, termasuk warga Desa Sidorukun. Kami menyadari bahwa perusahaan dan masyarakat harus tumbuh berdampingan," imbuhnya.

Oleh karena itu, Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat ini adalah salah satu upaya kami memperkuat sinergi tersebut. Ketika kemandirian ekonomi masyarakat terbangun dan kesejahteraan meningkat, hal itu akan menciptakan lingkungan sosial yang kondusif, yang pada akhirnya sangat mendukung kelancaran operasi kami untuk terus berkontribusi bagi negara.

PHE WMO memandang hubungan yang harmonis dengan masyarakat sebagai bagian penting dari keberadaan perusahaan di wilayah operasi. Karena itu, pemberdayaan masyarakat tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membangun kapasitas warga agar mampu menciptakan peluang ekonomi secara mandiri.

Melalui pelatihan tata boga ini, PHE WMO berharap para peserta dapat mengembangkan kompetensi yang diperoleh menjadi peluang ekonomi berkelanjutan. Peluang tersebut dapat diwujudkan melalui usaha mandiri, pemenuhan kebutuhan pasar lokal, maupun akses terhadap kesempatan kerja.

Program ini sekaligus menegaskan komitmen PHE WMO untuk terus menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi. Dengan mengembangkan keterampilan, memperkuat kapasitas kewirausahaan, dan membuka akses terhadap peluang ekonomi, perusahaan berupaya mendorong terciptanya masyarakat yang semakin mandiri dan berdaya.

Editor : Cak Fir
phe wmo Pertamina Tata Boga