RADAR GRESIK – Penanganan gizi kronis pada anak memerlukan investasi jangka panjang yang melampaui sekadar layanan kesehatan formal. Menyadari hal tersebut, PT Cargill Indonesia resmi menuntaskan fase kedua program promosi dan pencegahan stunting berbasis desa di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Senin (30/3).
Program yang berjalan sejak 2022 ini menitikberatkan pada penguatan pengetahuan dan kemandirian komunitas di enam desa sasaran, yaitu Manyarejo, Manyarsidomukti, Manyarsidorukun, Peganden, Leran, dan Banjarsari.
Baca Juga: Cargill Raih ISDA Gold Award, Dukung Agenda Pengelolaan Sampah Lewat Inisiatif Kompos 5R Berbasis Komunitasp
Bertempat di Hotel Horison Gresik, acara bertajuk “Refleksi dan Strategi ke Depan: Rukun Desane, Guyub Wargane, Ambalas Stuntinge” ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif.
Dalam arahannya, Wabup menegaskan bahwa stunting adalah persoalan kolektif yang tidak bisa diselesaikan secara parsial.
“Penurunan stunting ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Tidak cukup hanya Pemerintah Daerah atau Dinas Kesehatan saja. Ini harus kolaboratif antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Program boleh banyak, tapi target utama kita adalah dampak nyata pada penurunan angka stunting,” tegas Asluchul Alif.
Baca Juga: Tingkatkan Literasi Kesehatan, Dinkes Gresik dan Cargill Perkuat Aksi Cegah Stunting
Admin and Relations Manager PT Cargill Indonesia, Adi Suprayitno, menjelaskan bahwa tren penurunan angka stunting di Gresik (dari 15,4% ke 15,2% berdasarkan SSGI 2024) tidak boleh membuat semua pihak terlena.
Di wilayah industri seperti Manyar, tantangan pola asuh menjadi sangat nyata karena banyaknya orang tua yang bekerja.
“Banyak orang tua memiliki waktu pengasuhan terbatas karena bekerja di sektor industri. Selain itu, ada warga pendatang yang belum terhubung sepenuhnya dengan layanan kesehatan desa. Inilah mengapa kami fokus pada pendekatan promotif dan preventif,” ujar Adi.
Baca Juga: Jawab Kebutuhan SDM Industri yang Kian Tinggi, Kadin Gresik Terus Perkuat Vokasi
Salah satu capaian utama dalam fase kedua ini adalah penguatan Laskar Cegah Stunting. Kelompok penggerak ini melibatkan 42 kader terlatih dari unsur PKK, bidan desa, dan penyuluh KB.
Hingga Maret 2026, program ini telah menjangkau 452 Ibu Menyusui melalui kelas edukasi rutin dan 440 Balita PAUD melalui pendampingan praktik kesehatan keluarga.
Selain edukasi, program ini mendorong pembentukan Forum Rembuk Stunting Desa. Wadah ini berfungsi menyelaraskan isu kesehatan dengan perencanaan penganggaran di tingkat desa, sehingga upaya pencegahan memiliki dasar keberlanjutan yang kuat.
Pendekatan Cargill bersama mitra pelaksana Penala Samahita Parma (Penala) ini sejalan dengan agenda nasional yang menargetkan prevalensi stunting sebesar 5% pada tahun 2045.
“Kami tidak ingin hadir hanya sebagai donor program, tetapi berupaya membangun nilai bersama dan transformasi sosial agar komunitas mampu mandiri menjaga kesehatan generasi masa depannya,” tutup Adi Suprayitno.
Acara yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal ini dihadiri pula oleh Kepala Bappeda, Dinas Kesehatan, KBPPPA, Camat Manyar, serta perwakilan perusahaan-perusahaan di kawasan industri Manyar yang berkomitmen mendukung sinergi multipihak. (han)
Editor : Hany Akasah