Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Freeport Indonesia Teken Pasokan Perak dan Timbal Produksi Smelter Gresik, Industri Lokal Kini Tak Lagi Bergantung Impor

Muhammad Firman Syah • Sabtu, 12 Juli 2025 | 12:55 WIB
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas menunjukkan dokumen kerjasama pasokan logam strategis berupa perak dan timbal hasil produksi PMR Gresik.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas menunjukkan dokumen kerjasama pasokan logam strategis berupa perak dan timbal hasil produksi PMR Gresik.

Batam – Komitmen memperkuat hilirisasi industri pertambangan nasional terus diwujudkan oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui penandatanganan Heads of Agreement (HoA) dengan PT Solder Tin Andalan Indonesia (Stania). Nota kesepahaman ini mencakup kerja sama pasokan logam strategis berupa perak dan timbal hasil produksi Precious Metal Refinery (PMR) PTFI di Gresik, yang akan digunakan sebagai bahan baku solder tin oleh Stania.

Penandatanganan dilakukan oleh Presiden Direktur PTFI Tony Wenas dan Direktur Utama Stania An Sudarno, serta disaksikan oleh Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu dan Direktur Utama PT Arsari Tambang Aryo Djojohadikusumo, di Batam, Kamis (10/7).

“PTFI memproduksi perak dan by-product seperti timbal dari proses pemurnian. Produk-produk ini akan kami suplai ke Stania untuk digunakan dalam industri solder. Volume awal mencapai 10 ton perak dan 250 ton timbal per tahun,” jelas Tony Wenas.

Kesepakatan ini merupakan bagian dari strategi besar PTFI dalam mendukung hilirisasi mineral yang dicanangkan pemerintah. Hal ini sekaligus menguatkan rantai pasok domestik dan mendukung ekosistem industri kendaraan listrik (EV), semikonduktor, dan logam mulia.

“Kami melihat antusiasme dari industri hilir dalam negeri, dan hal ini perlu terus ditumbuhkan. Permintaan lokal menjadi kunci keberlanjutan PMR dan percepatan visi hilirisasi nasional,” ujar Tony.

PMR milik PTFI di Gresik merupakan satu dari sedikit fasilitas pemurnian logam mulia terintegrasi di Asia Tenggara, dengan kapasitas 50 ton emas, 200 ton perak, 30 kg platinum dan 375 kg paladium. Nah, hingga Juli 2025 PMR telah memulai produksi komersial perak batangan, dengan proyeksi output hingga 100 ton perak dan 2.000 ton timbal per tahun.

“Kami percaya kolaborasi lintas sektor seperti ini akan mempercepat tumbuhnya industri logam nasional yang kuat dan mandiri, serta menjadi pilar penting dalam transformasi ekonomi Indonesia,” tutup Tony Wenas.

Direktur Utama Stania, An Sudarno, menyebutkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Stania untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku solder. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), impor produk solder berbahan logam mencapai USD 240 juta pada 2023, dengan Tiongkok dan Korea Selatan sebagai pemasok utama. Substitusi impor ini menjadi sangat strategis di tengah tren geopolitik dan dinamika harga global.

“Dengan dukungan pasokan dari PTFI, kami tidak hanya memperkuat keberlanjutan produksi, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku luar negeri,” kata Sudarno.

Kebutuhan awal Stania mencakup 250 ton timbal dan 10 ton perak per tahun. Kedua belah pihak tengah menyiapkan perjanjian definitif, termasuk analisis teknis dan evaluasi rantai pasok.  Kolaborasi strategis ini menjadi bagian dari kontribusi nyata dunia usaha dalam mendorong realisasi visi Indonesia Emas 2045, melalui penguatan struktur industri berbasis sumber daya alam dan peningkatan ekspor berbasis olahan. 

Baca Juga: Telan Investasi 10 Triliun, Pabrik Emas Gresik milik PT Freeport Indonesia Perkuat Ekonomi Nasional

Ditempat terpisah, Anggota Komisi XI DPR RI Dapil Gresik-Lamongan, Thoriq Majiddanor menyampaikan apresiasi dan dukungannya atas sinergi korporasi nasional yang sejalan dengan agenda pemerintah dalam substitusi impor dan penguatan hilirisasi.

“Setiap inisiatif yang mampu mengurangi impor dan memperkuat industri dalam negeri harus diapresiasi. Hilirisasi tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga ketahanan nasional. Langkah Freeport dan Stania adalah contoh konkret kolaborasi strategis yang patut direplikasi di sektor lain,” ujar politisi yang akrab disapa Jiddan.

Ia menambahkan bahwa DPR terus mendorong kementerian teknis dan sektor perbankan untuk mendukung penuh industri hilir, termasuk memberikan insentif bagi perusahaan yang menyerap bahan baku domestik.

"Kalau bisa diproduksi dalam negeri, kenapa harus impor? Ini saatnya Indonesia berdaulat di sektor logam dan teknologi. Apalagi ini dari Gresik untuk Indonesia. Sebagai putra daerah saya turut bangga," tegasnya.

Editor : Cak Fir
#perak #smelter gresik #freeport indonesia #Emas #mineral