Manyar – PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali mencatatkan capaian membanggakan dalam perjalanan hilirisasi industri pertambangan nasional. Melalui kerja keras dan koordinasi intensif, proses perbaikan fasilitas smelter yang sebelumnya terdampak kejadian kahar pada Oktober 2024 berhasil dipercepat. Hasilnya, smelter telah kembali beroperasi lebih awal dari jadwal semula.
Komitmen tersebut ditunjukkan secara langsung oleh Chairman of the Board Freeport-McMoRan Richard C. Adkerson dan Presiden & CEO Freeport-McMoRan Kathleen Quirk yang hadir di Gresik bersama Presiden Direktur PTFI Tony Wenas untuk memastikan kelancaran operasional awal smelter.
“Kehadiran pimpinan tertinggi Freeport-McMoRan menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab perusahaan dalam memastikan smelter kembali berjalan optimal. Ini bukan hanya pemulihan, tapi akselerasi,” ujar Tony Wenas.
Menurutnya, saat ini smelter telah memulai tahap produksi dan ditargetkan akan menghasilkan katoda tembaga pada pekan keempat Juni.
“Konsentrat telah masuk ke furnace, diolah menjadi anoda tembaga, dan selanjutnya diproses di electrorefinery menjadi katoda tembaga,” jelas Tony.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan mempercepat operasional smelter dari rencana semula bulan Juni menjadi Mei adalah cerminan dari resiliensi dan semangat gotong royong seluruh elemen perusahaan.
“Ini adalah buah dari sinergi tim, disiplin kerja, dan semangat untuk terus berkontribusi bagi bangsa. Kami menggunakan pesawat kargo besar seperti Boeing 747 dan Antonov-AN124 untuk percepatan pengiriman lebih dari 300 ton material penting dari luar negeri,” jelasnya.
Tak hanya logistik, upaya perbaikan juga dikerjakan oleh sekitar 2.000 tenaga kerja profesional yang bekerja dalam dua shift. Fokus utama diarahkan pada aspek keselamatan, pengadaan, konstruksi, dan instalasi dengan perencanaan matang dan penuh kehati-hatian.
“Keselamatan adalah prioritas utama kami. Kami ingin smelter kembali beroperasi bukan hanya cepat, tapi juga andal dan berkelanjutan,” tegas Tony.
Saat ini, smelter telah memasuki fase ramp-up, dengan kapasitas produksi yang akan meningkat bertahap dari 40 persen hingga mencapai 100 persen pada Desember 2025. Progres ini diyakini akan berdampak positif secara ekonomi, industri, dan geopolitik.
“Ini bukti nyata bahwa PTFI bukan hanya pemain besar di sektor tambang, tetapi juga mitra strategis pemerintah dalam mendorong hilirisasi dan kemandirian industri nasional,” ujar Tony.
Ia menegaskan, keberhasilan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dan mendukung agenda besar Indonesia Emas 2045.
“PTFI akan terus menjadi lokomotif hilirisasi mineral di Indonesia. Kami bangga dapat memberikan nilai tambah nyata bagi bangsa dan negara,” pungkasnya optimistis. (fir)
Editor : Cak Fir