RADAR GRESIK-Giant Sea Wall adalah rencana proyek pembangunan tanggul laut raksasa di beberapa area pesisir Indonesia. Giant Sea Wall bakal dibangun mulai dari Jakarta membentang ke pesisir pantai utara (pantura) hingga Kabupaten Gresik Jawa Timur.
Calon Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bahkan mengingatkan kepada para pejabat negara jangan sampai pembangunan giant sea wall terjebak kepentingan politik lima tahunan.
Giant Sea Wall adalah Tanggul Laut Raksasa untuk memitigasi dampak dari degradasi Pantai Utara (Pantura). Termasuk dari Jakarta hingga Gresik. Giant Sea Wall juga merupakan bangunan yang mengamankan area Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang memang berada di pesisir pantura.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, dalam pembangunan proyek jangka panjang seperti Giant Sea Wall, secara bersamaan harus tetap memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.
Dalam paparan sebelumnya, disampaikan bahwa penurunan muka tanah (land subsidence) di wilayah Pantura Jawa dapat mencapai 1-25 centimeter (cm) per tahun.
Di sisi lain ancaman yang juga menanti yaitu kenaikan permukaan air laut sebesar 1-15 cm per tahun di beberapa lokasi serta fenomena banjir rob.
Hal itu merupakan ancaman jangka panjang yang harus segera ditanggulangi. Dirinya menjelaskan bahwa infrastruktur dari Giant Sea Wall nantinya perlu diberikan ruang atau kanal sebagai ruang untuk air laut, serta di wilayah pesisir tumbuhan mangrove harus dibiarkan hidup.
Giant Sea Wall adalah struktur yang terbuat dari beton atau bata. Dibangun sejajar dengan pantai pada peralihan antara pantai dan daratan atau bukit pasir, untuk melindungi wilayah pedalaman dari gelombang dan mencegah erosi pantai.
Tembok laut ini biasanya merupakan struktur besar yang dirancang untuk menahan gelombang badai. Ketinggian tembok laut setidaknya akan menutupi perbedaan antara permukaan pantai dan daratan, meskipun umumnya tembok laut dibangun lebih tinggi untuk melindungi daratan dari luapan gelombang.
Sea Wall ini digunakan untuk menstabilkan tebing yang terkikis dan melindungi jalan pesisir dan permukiman yang berbatasan dengan pantai. Puncak tembok sering kali memanjang hingga menjadi bagian tertutup batu yang dapat digunakan sebagai jalan, kawasan pejalan kaki, atau area parkir.
Bentuk permukaan tembok laut menentukan kapasitasnya untuk memantulkan atau menghilangkan energi gelombang. Dinding laut yang halus dan vertikal dibangun untuk memantulkan energi gelombang ke arah laut. Hal ini mungkin menimbulkan turbulensi dan menahan sedimen, sehingga semakin meningkatkan risiko erosi.
Tembok laut vertikal juga dapat menyebabkan lubang gerusan di kaki struktur yang menyebabkan ketidakstabilan.
Kemiringan dan permukaan yang tidak beraturan pada desain struktur tembok laut dapat meningkatkan kinerjanya, memungkinkan pemecahan gelombang, pembuangan energi, dan hamburan arah pantulan gelombang.
Tembok laut sering ditemukan pada kasus pantai yang sempit atau curam, di mana pemecah gelombang biasanya terlalu besar atau tidak ekonomis. Meskipun tembok laut melindungi infrastruktur dan permukiman di daerah pedalaman, erosi di depan tembok laut dan di sepanjang pantai yang berdekatan akan terus meningkat dengan laju yang semakin meningkat, tanpa mengatasi penyebab erosi.
Menanggapi hal itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengungkap kesanggupannya untuk merealisasikan rencana Presiden Terpilih Prabowo Subianto membangun tanggul laut raksasa atau giant sea wall yang terbentang dari Jakarta hingga Gresik.
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono menuturkan bahwa pihaknya telah sedikit banyak memiliki studi mengenai pembangunan tanggul laut tersebut. Pasalnya, Kementerian PUPR telah mengerjakan proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).
“Kami kalau dari PU sudah ada NCICD. Jadi kalau giant sea wallnya NCICD, prioritasnya adalah membangun Jakarta utara dulu,” jelasnya saat ditemui di kompleks Parlemen RI, Jakarta, Senin (9/9/2024).
Meski mendukung penuh proyek giant sea wall Jakarta – Gresik, Basuki menyoroti kemungkinan besarnya biaya konstruksi tersebut.
Berdasarkan studi Kementerian PUPR untuk membangun tanggul laut dari Bekasi hingga Jakarta saja memakan anggaran mencapai Rp90 triliun. Di mana, studi tersebut dikerjakan Kementerian PUPR bersama dengan Korea dan Belanda. “Iya, kami desainnya sudah dengan Korea dan Belanda. Dari Bekasi sampai Tangerang kira-kira Rp90 triliun,” jelasnya. (han)
Editor : Hany Akasah