TIMIKA- Tim jurnalis Radar Gresik mengunjungi daerah operasi tambang PT Freeport Indonesia di Kota Tembagapura, Kabupaten Mimika Provinsi Papua Tengah. Radar Gresik diajak melihat lebih dekat sejumlah area tambang PTFI.
Dalam kesempatan tersebut, ada tiga tambang yang dipamerkan manajemen PTFI antaralain tambang terbuka (open pit minning) Erstberg, tambang Grasberg dan tambang bawah tanah (block cave) Deep Mill Level Zone (DMLZ).
Usai melaksanakan sarapan di restoran khusus karyawan, rombongan berbegas menuju ke area tambang terbuka Grasberg Mine yang ada diketinggian 4.282 Meter Dari Permukaan Laut (Mdpl).
Tentu saja, tinggi tambang yang pernah dinobatkan jadi tambang terbuka terbesar di dunia ini melebihi tinggi puncak Gunung Semeru alias Mahameru sehingga diharuskan menjalan prosedur pemeriksaan yang ketat.
Perjalanan menuju tambang Grasberg terbilang menantang. Untuk bisa sampai ke lokasi tujuan harus menempuh perjalanan mendaki dengan bus khusus selama kurang lebih 45 menit. Tidak cukup disitu untuk bisa sampai ke bibir tambang.
Tapi harus naik kereta gantung alias Tram dengan bentangan tali 1.600 meter dan pernah dinobatkan sebagai Tram terpanjang di dunia.
Tram ini berangkat dari ketinggian 2.500 Mdpl menuju ke ketinggian 3.600 Mdpl. Selama 7 menit naik Tram, kami disuguhi pemandangan area stockpile yang merupakan lokasi penyimpanan hasil tambang PTFI.
Superintendent Safety Grasberg Mine, Egi Oktavian mengungkapkan, selain melihat area pengolahan kereta gantung juga melewati tiga areal tambang bawah tanah yakni Grasberg Blok Cave (GBC) di kedalaman sekitar 1.200 meter dari permukaan Grasberg.
DMZL dan Big Gossan berada sekitar 1.500 meter diukur dari permukaan Grasberg. Tiga areal tambang berelevasi 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl).
"Kami memindahkan kegiatan tambang dari terbuka menjadi bawah tanah karena lebih safety dan ekonomis," kata Egi Oktavian.
Usai naik kereta gantung kurang lebih 10 menit, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Grasberg dengan yang sudah menunggu di area pemberhentian tram.
Nah, dalam perjalanan menuju Grasberg, bus juga melintasi tambang Ersberg yang merupakan area tambang pertama PT Freeport Indonesia di Tanah Papua.
"Jika dibandingkan dengan Grasberg, tambang Ersberg akan terlihat sangat kecil," imbuh Egi.
Baca Juga: Seluruh Baner Caleg Gerindra Wajib Pasang Foto Prabowo Subianto
Sesampainya di area Grasberg Mine rombongan diajak melihat sejumlah peralatan tambang yang dulunya pernah digunakan PTFI saat mengoperasikan tambang terbuka.
Ada tiga alat berat yang dijadikan monumen oleh PTFI yang dipajang di halaman museum Bunaken. Salah satunya yakni haul truk kendaraan pengangkut hasil penambangan dengan kapasitas 300 ton.
"Semua kendaraan ini dulunya pernah beroperasi dalam aktivitas tambang Grasberg. Namun saat ini sudah dimuseumkan dan menjadi area spot foto karena untuk tambang bawah tanah kendaraan berukuran super besar tidak digunakan," tutur Egi.
Kini, usai tambang Grasberg tak lagi beroprasi, PTFI menggalakkan kegiatan reklamasi dan revegetasi sejak 2020 lalu.
Berbagai upaya terus dilakukan agar area bekas penambangan menjadi daerah hijau. Hal ini dibuktikan dengan mulai tumbuhnya sejumlah tanaman khas dan hewan lokal yang mulai kerasan tinggal di area reklamasi.
Sementara itu, sebelum operasionalnya ditutup. Pertambangan Grasberg pernah menghasilkan 1 juta ton ore (biji tambang) perhari pada tahun 2018. Jumlah tersebut merupakan pencapaian tertinggi selama Grasberg beroperasi. (fir/han)
Editor : Hany Akasah