Direktur Teknik dan Operasional BUMD Gresik Migas M Prisdianto Mihardjo membenarkan hal tersebut. Saat ini tinggal penyelesaian tahap akhirnya saja. "Nanti akan kami ajukan izin operasinya serta health, safety, security dan environment (HSSE),"ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama BUMD Gresik Migas, Habibullah mengatakan saat ini pihaknya masih mengejar pembangunan SPBN itu tuntas, termasuk instalasinya. Setelah itu pihaknya baru mengajukan HSSE ke Pertamina. Dari hasil pengecakan, nantinya apa yang menjadi kekurangan akan dilakukan perbaikan. "Jadi setelah selesai akan dicek dulu kelayakannya oleh Pertamina," ujarnya kepada wartawan.
Kemudian, jika sudah dinyatakan layak pihaknya akan mengajukan izin operasinya ke Pertamina. Baru SPBN bisa beroperasi. Ditargetkan SPBN Lumpur akan beroperasi pada bulan Oktober mendatang.
Pihaknya mengatakan SPBN di Lumpur memiliki kapasitas yang cukup besar. Masing-masing jenis bahan bakar memiliki tangki berkapasitas 20 kiloliter. Baik Pertalite, Pertamax, maupun Solar. “Tangki kami besar, karena itu harapan kami suplai ke SPBN Lumpur ini sesuai dengan kapasitas yang kami miliki,” kata dia.
Hingga saat ini pihaknya belum bisa memastikan berapa kiloliter yang akan disuplai ke Lumpur. Penetapan kapasitas suplai untuk SPBN Lumpur itu dilakukan oleh BPH Migas melalui Pertamina MOR V. Sebab kepastian itu akan keluar setelah HSSE diterbitkan. “Terutama untuk jenis Solar, harapan kami suplai untuk solar ini bisa maksimal,” imbuhnya.
Nantinya untuk pembelian solarnya akan difasilitasi Dinas Perikanan dan Kelautan Gresik. Sehingga tidak dijual secara bebas. Hanya nelayan yang terdaftar saja. “Memang SPBN itu dibangun untuk memfasilitasi nelayan di Lumpur. Sehingga nanti mekanismenya dari Dinas Perikanan,” pungkasnya. (rof)
Editor : Hany Akasah