GRESIK - Pelaku usaha properti di Kabupaten mulai harus mengatur nafas agar survive dan bertahan. Sebab, saat ini peoperti kota Pudak sedang mengalami perlambatan.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia Kabupaten Gresik, Widodo Ferianto mengatakan, sejak perbankan menerapkan kenaikan pada rasio Repayment Capacity (RPC) kemampuan membayar kembali atas pinjaman dengan angka yang tinggi, calon pembeli perumahan banyak yang tidak lolos verifikasi kredit.
Hal ini memberikan pukulan tajam kepada bisnis properti secara langsung lantaran lebih dari 80 persen konsumen perumahan di Gresik membeli rumah melalui skema kredit.
"Perbankan saat ini sangat selektif dalam mengucurkan kredit karena tidak mau terjadi gagal bayar yang berdampak naiknya angka Non Performing Loan (NPL)," kata Widodo.
Akibat hal tersebut, lanjut dia, tidak hanya pasar properti saja yang terganggu namun hampir semua transaksi pinjaman. Termasuk sektor kredit pembiayaan proyek perumahan. Tidak hanya itu, tingginya rasio RPC juga membuat plafon kredit menjadi turun.
Sebagai contoh jika dulunya pegawai dengan gaji UMK masih bisa mencicil rumah, namun saat ini bank akan lebih selektif dalam memberikan kucuran kredit. Kalaupun lolos tentu bank akan menurunkan plafon kredit yang diberikan sehingga berdampak pada tingginya uang muka atau DP.
"Kebijakan bank mengurangi faktor resiko gagal bayar. Namun hal ini membuat kepercayaan diri konsumen turun dan ragu jika mengajukan kredit. Imbasnya produk yang kami jual tidak bisa berputar dengan cepat," tuturnya.
Widodo berharap, pemerintah bisa memberikan kebijakan sekaligus memberikan solusi atas kondisi ini. Sebab, jika tidak segera diatasi maka akan banyak pengusa properti di kota Santri yang gulung tikar. Belum lagi ditambah suku bunga kredit yang terus naik. Tentu saja hal ini membuat masyarakat semakin ragu membeli ruman.
"Saat ini pengembang-pengembang di Gresik hanya menghabiskan stok lama. Kami berharap ada sejumlah kelonggaran yang diberikan oleh pemerintah agar pasar semakin bergairah," pungkasnya. (fir/han)
Editor : Hany Akasah