Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Bambang Haryadi mengatakan, sejauh ini progres pengembangan Smelter di PT Smelting yang merupakan bagian dari ekspansi PT Freeport Indonesia cukup bagus. Hal ini terlihat dari realisasi capaian pembangunan proyek yang mencapai 79 persen hingga akhir Maret lalu.
"Hari ini kita sudah mendapatkan laporan progres sekaligus melihat langsung pekerjaan fisik dilapangan. Nah, karena PT Freeport Indonesia ini saat ini menjadi BUMN dibawah Mind ID sehingga kami lebih mudah memantaunya," kata Bambang.
Meski telah mendapatkan capaian progres pengembangan Smelter cukup baik dari PT Smelting namun Bambang ingin memastikan jika proses akuisisi yang akan dilakukan pada tahun depan menguntungkan bagi negara. Untuk itu, dalam mengawali proses akuisisi PT Smelting ini pihaknya berencana mengirimkan surat permohonan audit kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI atas laporan kinerja PT Smelting.
Baca Juga : PT Smelting Gelontor Ratusan Bingkisan Lebaran Bagi Warga Ring Satu
"DPR RI sebagai bagian dari pemerintah juga harus tahu laporan keuangan PT Smelting. Sehingga kami bisa menilai apakah perusahaan ini sehat atau butuh dorongan lain," imbuhnya.
Bambang optimis setelah proses akuisisi PT Smelting terealisas akan meningkatkan produksi Katoda tembaga tanah air dari yang sebelumnya hanya 600 juta ton pertahun menjadi 900 juta ton pertahun.
"Hilirisasi ini merupakan program yang terus dikawal secara serius oleh Pemerintah karena akan membawa dampak manfaat yang luas bagi negara. Untuk itu kami berikan perhatian yang besar," tandasnya.
Ditempat sama, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas menambahkan, akuisisi PT Smelting menjadi bagian dari rencana PTFI bersama dengan Mitsubishi Material Corporation (MMC) untuk meningkatkan kapasitas pengolahan konsentrat tembaga PT Smelting dari 1 juta ton pertahun menjadi 1,3 juta ton per tahun dengan total investasi mencapai 250 juta dollar AS juta atau setara dengan Rp 3,78 triliun.
"Ekspansi di PT Smelting penting sekali sesuai dengan amanat pemerintah agar seluruh konsentrat yang doproduksi PTFI bisa dilakukan di dalam negeri. Untuk progres fasilitas di PT Smelting ini yargetnya Desember tahun ini sudah selesai. Namun jika melihat progres dan capaian yang dipaparkan PT Smelting sepertinya tidak sampai akhir tahun," kata Tony.
Dijelaskan, nantinya biaya ekspansi yang telah dikeluarkan oleh PTFI dikonversi menjadi saham PTFI yang baru berdasarkan nilai buku atau debt equity swap. Tony setelahnya, rasio kepemilikan saham bakal berubah dengan PTFI memegang saham mayoritas 66 persen dari saat ini di posisi 39,5 persen. Sementara itu, saham MMC bakal susut ke level 34 persen dari semula di posisi 60,5 persen.
Baca Juga : Bea Cukai Apresiasi Radar Gresik Berikan Penghargaan ke PT Smelting
"Ini aksi korporasi yang sebelumnya telah kami tawarkan kepada MMC. Nah, karena MMC tidak mau keluar biaya akhirnya biaya kami yang tanggung sehingga saham Mitsubishi di PT Smelting terdelusi," imbuhnya.
Lebih lanjut Tony mengungkapkan, ekspansi ini juga bakal mengubah struktur bisnis PT Smelting dari custom smelter menjadi smelter dengan sistem tolling. Dengan skema bisnis yang baru, kepemilikan konsentrat yang dilebur dan dimurnikan di PT Smelting adalah milik PTFI, termasuk katoda tembaga, lumpur anoda dan produk sampingan lainnya yang diproduksi tetap menjadi milik PTFI. PT Smelting menerima biaya dari PTFI sebagai kompensasi atas layanan tolling tersebut.
"Sebelum perubahan struktur bisnis, PT Smelting memperoleh pendapatan dengan membeli konsentrat tembaga dari perusahaan pertambangan, memproduksi katoda tembaga, lumpur anoda dan produk sampingan lainnya dan menjual produk tersebut kepada pelanggan. Namun setelah ada ekspansi ini semua pengelolaan konsentrat kami yang mengendalikan," pungkasnya. (fir/han) Editor : Hany Akasah