Dalam keterangannya, Achmad Wasil berharap langkah bisnis PT Gresik Migas tidak hanya berhenti dalam menjual BBM subsidi maupun non subsidi. Namun juga bisa memanfaatkan peluang dari banyaknya Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) migas di Gresik. "Sesuai dengan namanya mudah-mudahan bisa menjual atau mendistribusikan minyak dan gas," ujarnya.
Meski demikian, Wasil menganggap langkah yang dilakukan Gresik Migas ini menjadi portofolio kuat serta pijakan dalam pengembangan bisnis perusahaan. Dengan pengelolaan yang baik Gresik Migas akan mampu menjadi BUMD yang sehat pada tahun 2024.
"Pemerintah Gresik akan melakukan intervensi yang dibutuhkan seperti menguarkan kebijakan agar semua OPD membeli BBM kendaraan dinasnya digerai pertashop melalui skema voucher. Hal ini tentu akan mendukung cashflow BUMD," jelasnya.
Sementara itu, Dirut Gresik Migas, M Habibulloh menyebut dalam dua hari gerai Pertashop dihalaman Pemkab Gresik sudah melayani 2.000 konsumsi BBM bagi ASN dan masyarakat umum.
"Kapasitas tangki disini 6.000 liter. Kami berharap kedepan bisa melayani maksimal sesuai dengan kapasitas," kata Habib.
Pria yang pernah duduk sebagai tenaga ahli DPR RI itu merinci untuk membuka gerai pertashop dengan dua mesin pompa, Gresik Migas merogoh kocek hingga Rp 800 juta. "Karena bisnis ritel ini marginnya tidak banyak kami proyeksikan BEP terjadi pada tahun ke-7 dari awal investasi," pungkasnya. (fir/han) Editor : Hany Akasah