Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Gula Aren Bawean Dibuat Tradisional, Sudah Masuk Pasar Luar Negeri

Hany Akasah • Jumat, 3 Juni 2022 | 12:00 WIB
GULA MERAH : Warga di Dusun Langcabur, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Bawean saat memproduksi gula merah asal Bawean.  (Ist./Radar Gresik)
GULA MERAH : Warga di Dusun Langcabur, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Bawean saat memproduksi gula merah asal Bawean. (Ist./Radar Gresik)
GRESIK - Gula merah khas Pulau Bawean memiliki rasa citra tersendiri. Bahan dasar minuman itu, bisa juga dibuat oleh-oleh saat berkunjung ke pulau tersebut. Uniknya, proses pembuatan gula merah atau gula aren ini masih dilakukan secara tradisional. Salah satunya, di Dusun Langcabur, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Bawean.

Lokasi sentra industri gula merah itu, mudah dijangkau. Hanya berjarak 2,5 kilometer dari arah utara Alun-Alun Kecamatan Sangkapura. Kemudian, berjalan kaki menuju ke Dusun Langcabur, Desa Daun.

Tiba di lokasi terdapat bangunan sentra industri gula merah yang terbuat dari kayu berukuran 3x6 meter. Setiap hari, Saiminah ,30, ibu dua anak ini bercucuran keringat mengaduk air dari pohon aren untuk dibuat gula merah menuturkan butuh waktu setengah hari mengaduk air aren hingga kental sampai berwarna kecoklatan.

Setelah mendidih, air aren yang sudah berwarna coklat itu. Selanjutnya, dicetak di bambu bulat berukuran kecil lalu setelah agak dingin dibungkus dengan daun pisang yang sudah dikeringkan.



Setiap hari Saiminah mampu memproduksi 60 cetak gula merah. Dari jumlah itu, 10 cetak gula merah yang siap jual jika ditimbang beratnya 1 kilogram yang dijual dengan harga Rp 15 ribu di orang pertama. Sementara, orang kedua harganya bisa mencapai Rp 22 ribu hingga Rp 25 ribu perkilonya.

"Saya membuat gula merah turun-menurun dari orang tua. Sebelum meneruskan usaha ini, saya pernah jadi TKI di Serawak Malaysia. Kemudian balik ke kampung halaman  membuat gula merah lagi," ujarnya, Kamis (2/6).

Proses pembuatan gula merah memang tidak mudah. Sebab, butuh ketelatenan mulai dari awal sampai jadi kemudian dijual ke konsumen. Sebelum jadi gula merah, suaminya (Rahdi) tiap hari mengambil air aren. Di Pulau Bawean, air tersebut dinamakan lak'ang. Setelah itu, dimasukkan bambu besar yang telah dibakar.



"Satu air aren yang dimasukkan bambu sama saja dengan satu pohon. Kalau ambil sembilan ada sembilan pohon aren," jelasnya.

Permintaan gula aren meningkat karena sering dipakai untuk kuliner di berbagai warung, restoran hingga hotel. “Permintaan dari Gresik, Surabaya, Jakarta bahkan ke luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia,” ungkapnya.

Sementara itu, Jenah ,25, salah satu pembeli gula aren menyatakan selain dibuat bahan campuran minuman, gula merah khas Bawean bisa juga dipakai untuk bahan dasar pembuatan bubur.

Baca juga : Bea Cukai Gresik Bantu Pasarkan Gula Aren Khas Bawean ke Eropa

"Gula merah khas Bawean berbeda rasanya dengan gula merah daerah lain. Di tempat kami proses pembuatannya masih sangat tradisional dan sampai sekarang masih bertahan," pungkasnya.  (*/han) Editor : Hany Akasah
#UMKM #Gula Aren Bawean #khas bawean #ekspor-impor