24.4 C
Gresik
Saturday, 25 March 2023

Dosen UPN Veteran Jatim Latih Pembuatan Pupuk Cair Organik dari Guano

GRESIK-Tiga orang dosen UPN Veteran Jawa Timur mengadakan Pelatihan Pemanfaatan Guano Untuk Pembuatan Pupuk Padat Bernilai Ekonomis. Mereka adalah Dr. Ir. Maroeto, M.P., Ketua Pengabdian, anggota pengabdian Dewi Puspa Arum, S.Pd., M.Pd, Wahyu Santoso, S.P., M.P dan Drs M Taufiq. M.M. serta dosen dari Universitas Negeri Malang (UNM) Dr Agung Winarno, M.M. Kegiatan diikuti oleh 20 anggota Kelompok Tani Desa Nguruwan Kecamatan Sooko Kabupaten Tuban pada tanggal 18-19 Juli 2022 .

Ketua Pengabdian Masyarakat Dr. Ir. Maroeto, M.P mengatakan, tujuan pelatihan ini adalah pemberdayaan masyarakat di Desa Nguruwan dengan memanfaatkan guano/ limbah kotoran kelelawar yang banyak ditemukan di Desa Nguruwan. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memanfaatkan bahan organik segar  yang mudah ditemukan antara lain daun lamtoro, daun turi, daun kelor, dan daun mimba. Bahan organik yang mempunyai kandungan unsur hara tinggi lainnya dalam pembuatan pupuk cair ini, yaitu bonggol pisang, jantung pisang, lidah buaya, lidah mertua, air kelapa, air cucian beras, air sumur, dan kotoran sapi . Selanjutnya, diperlukan pula aktivator dalam pembuatan pupuk cair organik ini, yaitu molase/gula putih/gula merah, EM 4/decomposer, dan dedak. “Alat yang dibutuhkan dalam pembuatan pupuk organik cair ini antara lain 3 buah tumbler ukuran 60 L, gayung gagang panjang, karung goni ukuran 25 kg, tali pramuka, ayakan pasir ukuran 2mm, cetok, terpal, botol pupuk, dan ember,” jelas Maroeto.

Tumbler ukuran 60 L disiapkan 3 buah sebagai bentuk perlakuan untuk membedakan jenis pupuk cair. Perlakuan ini dibedakan berdasarkan komposisi bahan organik segar, gramasi guano, gramasi kotoran sapi. Perbedaan perlakuan pada Tumbler 1, Tumbler 2, dan Tumbler 3 diperlukan untuk mengetahui kualitas pupuk cair organik yang dihasilkan. Perbedaan kualitas ini diperoleh melalui pengambilan sample pupuk organik cair yang dihasilkan tiap 7  hari. Selanjutnya, sample yang telah dikumpulkan diuji di laboratorium untuk mengetahui parameter  kadar pH, persentase C-org, persentase N-tot, pesentase P-tot, dan persentase K-tot. Pupuk organik cair dapat dipanen setelah 21 hari/ 3 minggu proses pembuatan.

Dalam kegiatan ini, kelompok tani tidak hanya mendapatkan pengarahan tentang proses pembuatan pupuk padat dan pupuk cair. Kelompok tani juga mendapatkan materi pelatihan tentang pemilihan bahan organik segar dan bernutrisi tinggi lainnya yang mudah ditemukan di sekitar Desa Nguruwan Tuban. Melalui kegiatan ini diharapkan kelompok tani dapat membuat sendiri pupuk organik cair untuk keperluan pemupukan lahan pertanian.

 

Kepala Desa Nguruan, Tuban,  H. Eko Siswanto, S.E berharap melalui pelatihan ini dapat mengurangi dampak negatif pemanfaatan pupuk kimia yang dapat merusak kesuburan tanah. “Petani yang telah teredukasi tentang manfaat penggunaan pupuk organik diharapkan mampu berdikari dalam mengolah dan menghasilkan pupuk organik cair  dan tidak bergantung pada penggunaan pupuk kimia,” harap Eko. (han)

GRESIK-Tiga orang dosen UPN Veteran Jawa Timur mengadakan Pelatihan Pemanfaatan Guano Untuk Pembuatan Pupuk Padat Bernilai Ekonomis. Mereka adalah Dr. Ir. Maroeto, M.P., Ketua Pengabdian, anggota pengabdian Dewi Puspa Arum, S.Pd., M.Pd, Wahyu Santoso, S.P., M.P dan Drs M Taufiq. M.M. serta dosen dari Universitas Negeri Malang (UNM) Dr Agung Winarno, M.M. Kegiatan diikuti oleh 20 anggota Kelompok Tani Desa Nguruwan Kecamatan Sooko Kabupaten Tuban pada tanggal 18-19 Juli 2022 .

Ketua Pengabdian Masyarakat Dr. Ir. Maroeto, M.P mengatakan, tujuan pelatihan ini adalah pemberdayaan masyarakat di Desa Nguruwan dengan memanfaatkan guano/ limbah kotoran kelelawar yang banyak ditemukan di Desa Nguruwan. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memanfaatkan bahan organik segar  yang mudah ditemukan antara lain daun lamtoro, daun turi, daun kelor, dan daun mimba. Bahan organik yang mempunyai kandungan unsur hara tinggi lainnya dalam pembuatan pupuk cair ini, yaitu bonggol pisang, jantung pisang, lidah buaya, lidah mertua, air kelapa, air cucian beras, air sumur, dan kotoran sapi . Selanjutnya, diperlukan pula aktivator dalam pembuatan pupuk cair organik ini, yaitu molase/gula putih/gula merah, EM 4/decomposer, dan dedak. “Alat yang dibutuhkan dalam pembuatan pupuk organik cair ini antara lain 3 buah tumbler ukuran 60 L, gayung gagang panjang, karung goni ukuran 25 kg, tali pramuka, ayakan pasir ukuran 2mm, cetok, terpal, botol pupuk, dan ember,” jelas Maroeto.

Tumbler ukuran 60 L disiapkan 3 buah sebagai bentuk perlakuan untuk membedakan jenis pupuk cair. Perlakuan ini dibedakan berdasarkan komposisi bahan organik segar, gramasi guano, gramasi kotoran sapi. Perbedaan perlakuan pada Tumbler 1, Tumbler 2, dan Tumbler 3 diperlukan untuk mengetahui kualitas pupuk cair organik yang dihasilkan. Perbedaan kualitas ini diperoleh melalui pengambilan sample pupuk organik cair yang dihasilkan tiap 7  hari. Selanjutnya, sample yang telah dikumpulkan diuji di laboratorium untuk mengetahui parameter  kadar pH, persentase C-org, persentase N-tot, pesentase P-tot, dan persentase K-tot. Pupuk organik cair dapat dipanen setelah 21 hari/ 3 minggu proses pembuatan.

-

Dalam kegiatan ini, kelompok tani tidak hanya mendapatkan pengarahan tentang proses pembuatan pupuk padat dan pupuk cair. Kelompok tani juga mendapatkan materi pelatihan tentang pemilihan bahan organik segar dan bernutrisi tinggi lainnya yang mudah ditemukan di sekitar Desa Nguruwan Tuban. Melalui kegiatan ini diharapkan kelompok tani dapat membuat sendiri pupuk organik cair untuk keperluan pemupukan lahan pertanian.

 

Kepala Desa Nguruan, Tuban,  H. Eko Siswanto, S.E berharap melalui pelatihan ini dapat mengurangi dampak negatif pemanfaatan pupuk kimia yang dapat merusak kesuburan tanah. “Petani yang telah teredukasi tentang manfaat penggunaan pupuk organik diharapkan mampu berdikari dalam mengolah dan menghasilkan pupuk organik cair  dan tidak bergantung pada penggunaan pupuk kimia,” harap Eko. (han)

Most Read

Berita Terbaru

/