alexametrics
32 C
Gresik
Tuesday, 17 May 2022

Cegah Pneumonia, Dinkes Gresik Jemput Bola untuk Vaksin PCV

GRESIK  – Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik membuka layanan imunisasi jemput bola khusus PCV (Pneumokokus Konyugasi Vaksin) bagi bayi usia 2, 3 dan 12 bulan, mulai November 2021. Upaya luar biasa ini dilakukan karena capaian imunisasi PCV sebagai pencegah penyakit pneumonia di Gresik masih rendah.

Layanan imunisasi jemput bola untuk PCV ini berarti petugas mendatangi para ibu yang punya bayi di bawah 1 tahun.

Imunisasi PCV dalam skema pemerintah ini masih baru dirilis Juni 2021. Imunisasi PCV diberikan kepada bayi untuk mencegah balita terserang penyakit pneumonia atau radang paru-paru akibat bakteri Pneumonokokus.

Imunisasi PCV dilakukan 3 tahap. Yaitu tahap 1 usia bayi dua bulan, tahap 2 usia tiga bulan dan tahap 3 usia 12 bulan.

“Sebelumnya, mungkin karena kondisi pandemi Covid, masyarakat takut.
Sehingga banyak jadwal imuniasi rutin dan PCV ini delay (tertunda). Nah, untuk mengejar ketertinggalan maka kami mengupayakan layanan imunisasi mobile atau jemput bola,” ungkap Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, Nur Farida SKM, MM, dalam talkshow bertajuk “Yuk, Jaga Anak Indonesia dari Pneumonia”.

Acara bincang-bincang ini digelar di Radio MNC Trijaya FM Surabaya, Kamis 28 Oktober 2021.

Khusus untuk warga Gresik, Farida meminta para ibu yang bayinya belum diimunisasi PCV, mendaftar ke posyandu terdekat.

Petugas posyandu nanti akan menjadwalkan, lalu memberitahukan waktu imunisasi PCV yang bisa diikuti di puskemas, puskesdes atau posyandu wilayah tersebut.

“Nanti ibu-ibu bisa membuat janji dengan petugas imuniasi PCV melalui posyandu. Lokasi imunisasi tidak harus di fasilitas kesehatan (puskesmas, posyandu, puskesdes). Bisa di rumah warga, rumah Pak RT, Pak RW atau balai desa,” kata Farida yang alumnus Undip ini.

Upaya dinkes dengan layanan imunisasi jemput bola ini untuk mengejar capaian imunisasi PCV secara kumulatif di Kabupaten Gresik yang masih rendah. Baik untuk PCV tahap 1, tahap 2 maupun tahap 3.

Laporan yang masuk ke Dinas Kesehatan Provinsi Jatim menunjukkan, di Kabupaten Gresik jumlah kumulatif bayi penerima vaksin PCV tahap 1 (PCV 1 sejumlah 15,06 persen atau 2.990 bayi dari bayi lahir hidup sebanyak 19.859 bayi.

Lalu, untuk jumlah kumulatif bayi penerima PCV 2 sejumlah 8,60 persen atau 1.707 bayi dari bayi lahir hidup sebanyak 19.859 bayi.

Penyebab rendahnya capaian imunisasi PCV itu karena kendala petugas pelayan kesehatan yang sebelumnya difokuskan untuk penanganan pandemi COVID-19.

“Imunisasi PCV di Gresik ini gratis. Di Jatim ada 8 kab/kota yang gratis. Ini menjadi kesempatan bagi ibu yang punya bayi untuk memanfaatkannya. Kalau PCV yang mandiri di rumah sakit, mahal, sekitar 1 jutaan,” kata Farida.

Dalam kesempatan yang sama, Dr dr Dominikus Husada DTM&H, MCTM(TP) Sp.A(K) menjelaskan tentang bahaya penyakit pneumonia.

Pneumonia adalah radang paru-paru yang bisa disebabkan oleh jamur, bakteri, virus, atau bahan kimia. Namun prioritas dalam penanganan pemerintah saat ini adalah pneumonia yang disebabkan oleh bakteri Pneumokokus.

Ciri yang paling mudah dikenali oleh ibu tentang serangan pneumonia karena bakteri adalah, bayi mengalami batuk dan pilek, badan panas -karena infeksi- yang berakhir dengan sesak nafas. “Hampir seluruhnya, start dari batuk lalu sesak nafas,” ungkap dr Domi, sapaan akrabnya.

Menurut pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim ini, pneumonia ini paling rawan di usia bayi atau usia muda. Makin muda usia makin berbahaya. “Ini kebalikan dari covid, dimana makin tua makin bahaya,” terang dr Domi.

Apa beda batuk pneumonia dengan batuk yang lain? Menurut dr Domi, semua batuk bisa berujung pada pneumonia. Apalagi disertai panas tinggi dan berakhir dengan sesak nafas.

“Jadi bukan sesak berlendir, tapi cirinya kesulitan bernafas, hidung bayi sampai kembang kempis, nafas lebih cepat, anak merintih,” terang dr Domi.

Bayi yang rentan biasanya bayi dengan berat badan kurang atau bayi prematur. Sebab bayi dengan berat badan kurang disinyalir punya pertahanan tubuh lebih lemah. “Jagalah kesehatan ibu hamil lebih baik, agar anak bisa lahir normal dan sehat,” kata dr Domi.

Untuk pencegahan pertama dengan meningkatkan daya tahan bayi lewat ASI (air susu ibu). Sebab ASI lebih baik dibanding formula dalam meningkatkan daya tahan bayi sebelum 6 bulan.

Bentuk pencegahan  lainnya adalah dengan vaksin. Walau pun tidak semua pneumonia bisa dicegah dengan vaksin. Misalnya pneumonia karena bahan kimia atau penyakit lain.

Yang paling penting untuk pencegahan adalah mengatur lingkungan adik bayi. Usahakan bayi jangan dicium di wajah. Sebab penularan pneumonia paling besar dari saluran nafas.

“Cegah saluran nafas orang lain atau saudara berdekatan dengan saluran nafas bayi. Kalau mau mencium bayi, perutnya saja atau tangan atau kakinya, jangan wajahnya. Jangan mendekatkan hidung ke saluran nafas bayi,” saran dr Domi.

Tentang seberapa penting vaksin PCV bagi bayi, menurut dr Domi di negara maju, bahaya pneumonia karena bakteri ini sudah berkurang karena program vaksinasinya bagus.

Namun di negara berkembang, masih banyak kejadian pneumonia karena bakteri ini. Apalagi angka kematian pada bayi cukup besar. Bisa jadi urutan dua setelah diare bahkan bisa urutan satu melebihi diare.

“Maka vaksin menjadi salah satu cara pencegahan,  khususnya untuk pneumonia yang disebabkan Pneumokokus. Sebab campak juga bisa menjadi penyebab pneumonia” kata dr Domi.

Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar, terjadi peningkatan prevalensi pneumonia pada balita dari 4,3 persen pada 2013 menjadi 5 persen pada 2018.
Juni 2021 lalu, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi G. Sadikin telah mencanangkan introduksi imunisasi PCV di Pendopo Kabupaten Gresik.

Menteri kesehatan menetapkan imunisasi PCV sebagai imunisasi rutin yang akan diberikan kepada bayi di seluruh wilayah Indonesia secara bertahap.

Pada 2021 dilaksanakan imunisasi PCV di daerah risiko tinggi Jatim dan Jabar, lalu tahun 2022 akan diperluas ke seluruh Indonesia.

Menteri kesehatan menyebut sejumlah 500 ribu dari sekitar 5 juta anak yang dilahirkan di Indonesia tiap tahun, terkena pneumonia.

Profil Kesehatan Indonesia 2019 mencatat sejumlah 551 balita meninggal dunia disebabkan oleh pneumonia.

Pada bayi, bahaya penyakit ini jauh lebih besar, yaitu dapat menyebabkan kematian dua kali lebih tinggi dibandingkan pada anak usia 1-4 tahun.

Pelaksanaan imunisasi pengenalan (introduksi) mulai Juni 2021 diawali di delapan kabupaten/kota di Jawa Timur dan enam Kabupaten/kota di Jawa Barat.

Di Jatim, yaitu di Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Malang, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Jember, Kota Kediri, Kabupaten Kediri dan Kota Malang.

Angka capaian kumulaif imunisasi PCV 1, PCV 2 dan PCV 3 untuk 8 kab/kota per minggu ketiga Oktober 2021 juga masih harus ditingkatkan. Dari 175.085 bayi yang lahir hidup di 8 kab/kota itu, capaian imunisasi PCV 1 sebanyak 15,3 persen dan PCV 2 sejumlah 7,7 persen.

Sebelumnya imunisasi PCV hanya bisa diakses sebagian kalangan secara mandiri, karena biayanya mencapai Rp 1 juta per dosis. Bila ada tiga tahap imunisasi, maka setidaknya dibutuhkan Rp 3 juta untuk imunisasi PCV lengkap. Setelah ditetapkan menjadi imunisasi rutin, maka masyarakat tidak dipungut biaya alias gratis.(jar/han)

GRESIK  – Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik membuka layanan imunisasi jemput bola khusus PCV (Pneumokokus Konyugasi Vaksin) bagi bayi usia 2, 3 dan 12 bulan, mulai November 2021. Upaya luar biasa ini dilakukan karena capaian imunisasi PCV sebagai pencegah penyakit pneumonia di Gresik masih rendah.

Layanan imunisasi jemput bola untuk PCV ini berarti petugas mendatangi para ibu yang punya bayi di bawah 1 tahun.

Imunisasi PCV dalam skema pemerintah ini masih baru dirilis Juni 2021. Imunisasi PCV diberikan kepada bayi untuk mencegah balita terserang penyakit pneumonia atau radang paru-paru akibat bakteri Pneumonokokus.

-

Imunisasi PCV dilakukan 3 tahap. Yaitu tahap 1 usia bayi dua bulan, tahap 2 usia tiga bulan dan tahap 3 usia 12 bulan.

“Sebelumnya, mungkin karena kondisi pandemi Covid, masyarakat takut.
Sehingga banyak jadwal imuniasi rutin dan PCV ini delay (tertunda). Nah, untuk mengejar ketertinggalan maka kami mengupayakan layanan imunisasi mobile atau jemput bola,” ungkap Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, Nur Farida SKM, MM, dalam talkshow bertajuk “Yuk, Jaga Anak Indonesia dari Pneumonia”.

Acara bincang-bincang ini digelar di Radio MNC Trijaya FM Surabaya, Kamis 28 Oktober 2021.

Khusus untuk warga Gresik, Farida meminta para ibu yang bayinya belum diimunisasi PCV, mendaftar ke posyandu terdekat.

Petugas posyandu nanti akan menjadwalkan, lalu memberitahukan waktu imunisasi PCV yang bisa diikuti di puskemas, puskesdes atau posyandu wilayah tersebut.

“Nanti ibu-ibu bisa membuat janji dengan petugas imuniasi PCV melalui posyandu. Lokasi imunisasi tidak harus di fasilitas kesehatan (puskesmas, posyandu, puskesdes). Bisa di rumah warga, rumah Pak RT, Pak RW atau balai desa,” kata Farida yang alumnus Undip ini.

Upaya dinkes dengan layanan imunisasi jemput bola ini untuk mengejar capaian imunisasi PCV secara kumulatif di Kabupaten Gresik yang masih rendah. Baik untuk PCV tahap 1, tahap 2 maupun tahap 3.

Laporan yang masuk ke Dinas Kesehatan Provinsi Jatim menunjukkan, di Kabupaten Gresik jumlah kumulatif bayi penerima vaksin PCV tahap 1 (PCV 1 sejumlah 15,06 persen atau 2.990 bayi dari bayi lahir hidup sebanyak 19.859 bayi.

Lalu, untuk jumlah kumulatif bayi penerima PCV 2 sejumlah 8,60 persen atau 1.707 bayi dari bayi lahir hidup sebanyak 19.859 bayi.

Penyebab rendahnya capaian imunisasi PCV itu karena kendala petugas pelayan kesehatan yang sebelumnya difokuskan untuk penanganan pandemi COVID-19.

“Imunisasi PCV di Gresik ini gratis. Di Jatim ada 8 kab/kota yang gratis. Ini menjadi kesempatan bagi ibu yang punya bayi untuk memanfaatkannya. Kalau PCV yang mandiri di rumah sakit, mahal, sekitar 1 jutaan,” kata Farida.

Dalam kesempatan yang sama, Dr dr Dominikus Husada DTM&H, MCTM(TP) Sp.A(K) menjelaskan tentang bahaya penyakit pneumonia.

Pneumonia adalah radang paru-paru yang bisa disebabkan oleh jamur, bakteri, virus, atau bahan kimia. Namun prioritas dalam penanganan pemerintah saat ini adalah pneumonia yang disebabkan oleh bakteri Pneumokokus.

Ciri yang paling mudah dikenali oleh ibu tentang serangan pneumonia karena bakteri adalah, bayi mengalami batuk dan pilek, badan panas -karena infeksi- yang berakhir dengan sesak nafas. “Hampir seluruhnya, start dari batuk lalu sesak nafas,” ungkap dr Domi, sapaan akrabnya.

Menurut pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim ini, pneumonia ini paling rawan di usia bayi atau usia muda. Makin muda usia makin berbahaya. “Ini kebalikan dari covid, dimana makin tua makin bahaya,” terang dr Domi.

Apa beda batuk pneumonia dengan batuk yang lain? Menurut dr Domi, semua batuk bisa berujung pada pneumonia. Apalagi disertai panas tinggi dan berakhir dengan sesak nafas.

“Jadi bukan sesak berlendir, tapi cirinya kesulitan bernafas, hidung bayi sampai kembang kempis, nafas lebih cepat, anak merintih,” terang dr Domi.

Bayi yang rentan biasanya bayi dengan berat badan kurang atau bayi prematur. Sebab bayi dengan berat badan kurang disinyalir punya pertahanan tubuh lebih lemah. “Jagalah kesehatan ibu hamil lebih baik, agar anak bisa lahir normal dan sehat,” kata dr Domi.

Untuk pencegahan pertama dengan meningkatkan daya tahan bayi lewat ASI (air susu ibu). Sebab ASI lebih baik dibanding formula dalam meningkatkan daya tahan bayi sebelum 6 bulan.

Bentuk pencegahan  lainnya adalah dengan vaksin. Walau pun tidak semua pneumonia bisa dicegah dengan vaksin. Misalnya pneumonia karena bahan kimia atau penyakit lain.

Yang paling penting untuk pencegahan adalah mengatur lingkungan adik bayi. Usahakan bayi jangan dicium di wajah. Sebab penularan pneumonia paling besar dari saluran nafas.

“Cegah saluran nafas orang lain atau saudara berdekatan dengan saluran nafas bayi. Kalau mau mencium bayi, perutnya saja atau tangan atau kakinya, jangan wajahnya. Jangan mendekatkan hidung ke saluran nafas bayi,” saran dr Domi.

Tentang seberapa penting vaksin PCV bagi bayi, menurut dr Domi di negara maju, bahaya pneumonia karena bakteri ini sudah berkurang karena program vaksinasinya bagus.

Namun di negara berkembang, masih banyak kejadian pneumonia karena bakteri ini. Apalagi angka kematian pada bayi cukup besar. Bisa jadi urutan dua setelah diare bahkan bisa urutan satu melebihi diare.

“Maka vaksin menjadi salah satu cara pencegahan,  khususnya untuk pneumonia yang disebabkan Pneumokokus. Sebab campak juga bisa menjadi penyebab pneumonia” kata dr Domi.

Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar, terjadi peningkatan prevalensi pneumonia pada balita dari 4,3 persen pada 2013 menjadi 5 persen pada 2018.
Juni 2021 lalu, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi G. Sadikin telah mencanangkan introduksi imunisasi PCV di Pendopo Kabupaten Gresik.

Menteri kesehatan menetapkan imunisasi PCV sebagai imunisasi rutin yang akan diberikan kepada bayi di seluruh wilayah Indonesia secara bertahap.

Pada 2021 dilaksanakan imunisasi PCV di daerah risiko tinggi Jatim dan Jabar, lalu tahun 2022 akan diperluas ke seluruh Indonesia.

Menteri kesehatan menyebut sejumlah 500 ribu dari sekitar 5 juta anak yang dilahirkan di Indonesia tiap tahun, terkena pneumonia.

Profil Kesehatan Indonesia 2019 mencatat sejumlah 551 balita meninggal dunia disebabkan oleh pneumonia.

Pada bayi, bahaya penyakit ini jauh lebih besar, yaitu dapat menyebabkan kematian dua kali lebih tinggi dibandingkan pada anak usia 1-4 tahun.

Pelaksanaan imunisasi pengenalan (introduksi) mulai Juni 2021 diawali di delapan kabupaten/kota di Jawa Timur dan enam Kabupaten/kota di Jawa Barat.

Di Jatim, yaitu di Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Malang, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Jember, Kota Kediri, Kabupaten Kediri dan Kota Malang.

Angka capaian kumulaif imunisasi PCV 1, PCV 2 dan PCV 3 untuk 8 kab/kota per minggu ketiga Oktober 2021 juga masih harus ditingkatkan. Dari 175.085 bayi yang lahir hidup di 8 kab/kota itu, capaian imunisasi PCV 1 sebanyak 15,3 persen dan PCV 2 sejumlah 7,7 persen.

Sebelumnya imunisasi PCV hanya bisa diakses sebagian kalangan secara mandiri, karena biayanya mencapai Rp 1 juta per dosis. Bila ada tiga tahap imunisasi, maka setidaknya dibutuhkan Rp 3 juta untuk imunisasi PCV lengkap. Setelah ditetapkan menjadi imunisasi rutin, maka masyarakat tidak dipungut biaya alias gratis.(jar/han)

Most Read

Berita Terbaru

/