alexametrics
29 C
Gresik
Tuesday, 17 May 2022

Upaya Pemkab Tanggulangi Gizi Buruk, 21 Desa Jadi Lokus Stunting

GRESIK – Stunting menjadi salah satu permasalahan besar yang dihadapi masyarakat Gresik. Pasalnya, stunting, kerdil atau gizi buruk itu berdampak pada perkembangan anak-anak. Dalam upaya menanggulangi stunting tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik menjadikan 21 desa/kelurahan dari 10 kecamatan desa lokus.

Ke-21 desa atau kelurahan itu yakni Tambakrejo, Setrohadi dan Sumengko dari Kecamatan Duduksampeyan. Di Kecamatan Kebomas yakni Desa Singosari, Klangonan, Kebomas, Sidomoro, Gending dan Kedanyang. Desa Bulangan, Tebuwung dan Lowayu di Kecamatan Dukun. Selanjutnya, Desa Wedoroanom dan Gadung Kecamatan Driyorejo. Desa Randuboto Sidayu dan Sidoharjo Kecamatan Kedamean, Cangaan Ujungpangkah, Gedangkulut dan Padeg Cerme dan Lebaniwaras Kecamatan Wringinanom. Terakhir, Desa Palemwatu Kecamatan Menganti.

Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah mengatakan, dalam upaya percepatan penanggulangan kasus stunting di Kabupaten Gresik, perlu komitmen dari semua pihak agar mampu memberikan kontribusi dan inovasi dalam berbagai program serta kegiatan yang relevan. Untuk mengejar penurunan angka stunting, pemkab menambah 21 desa/kelurahan dari 10 kecamatan sebagai lokus stunting di 2022. “Sebelumnya, sembilan kecamatan, tahun 2022 ditambah jadi 10 jadi supaya intervensi penurunan stunting lebih optimal,” kata Aminatun saat acara Rembug Stunting 2021 di pendopo Alun-Alun Gresik, Jum’at (15/10).

Dikatakan, Stunting di Gresik kini mencapai 27 persen, namun angka itu belum menyeluruh karena proses posyandu terhenti selama setahun. “Saat ini, angka stunting secara nasional prevelansi 30 persen, sedangkan Jatim 32 persen, Harapannya, angka stunting Gresik yang kini mencapai 27 persen bisa turun hingga 14 persen,” kata Aminatun.

 

Stunting yang merupakan suatu kondisi gagal tumbuh karena kekurangan gizi pada anak di bawah lima tahun. Kondisi stunting pada anak mempengaruhi kualitas hidup baik kesehatan maupun perkembangan otak. Seperti yang dialami Ardani Uzi, bayi asal Desa Singosari Kecamatan Kebomas. Berat bayi Uzi hanya 7,5 kilogram, seharusnya di usianya yang mau dua tahun, beratnya mencapai 10 kilogram. “Rewel banget, kakinya kurus seperti ini. Ini didampingi terus oleh desa,” kata ibunda Uzi, Ni’mah Rosyidah, 40 tahun.

 

Sementara itu, Ketua TPP PKK Nurul Haromaini mengungkapkan, stunting menjadi permasalahan keluarga prasejahtera. Hal itu dengan banyak alasan, dari pola asuh, gizi, lingkungan dan sebagainya. “Akses terhadap makanan bergizi, asupan vitamin dan mineral, keragaman pangan, serta akses kepada sumber protein hewani menjadi penyebab utama anak menderita stunting. Nantinya ukuran tubuh anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir,” ungkap Nurul.

Upaya pencegahan stunting menjadi tanggung jawab bersama. Selain keluarga, harus ada peran pemerintah maupun instansi swasta. Sejumlah langkah yang bisa dioptimalkan untuk mencegah stunting yakni pemenuhan nutrisi ibu hamil, pengaturan pola makan serta pola asuh anak, mempermudah akses pangan untuk masyarakat prasejahtera, dan edukasi kepada orang tua terhadap pemberian makanan pada anak dan balita.  (jar/han)

GRESIK – Stunting menjadi salah satu permasalahan besar yang dihadapi masyarakat Gresik. Pasalnya, stunting, kerdil atau gizi buruk itu berdampak pada perkembangan anak-anak. Dalam upaya menanggulangi stunting tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik menjadikan 21 desa/kelurahan dari 10 kecamatan desa lokus.

Ke-21 desa atau kelurahan itu yakni Tambakrejo, Setrohadi dan Sumengko dari Kecamatan Duduksampeyan. Di Kecamatan Kebomas yakni Desa Singosari, Klangonan, Kebomas, Sidomoro, Gending dan Kedanyang. Desa Bulangan, Tebuwung dan Lowayu di Kecamatan Dukun. Selanjutnya, Desa Wedoroanom dan Gadung Kecamatan Driyorejo. Desa Randuboto Sidayu dan Sidoharjo Kecamatan Kedamean, Cangaan Ujungpangkah, Gedangkulut dan Padeg Cerme dan Lebaniwaras Kecamatan Wringinanom. Terakhir, Desa Palemwatu Kecamatan Menganti.

Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah mengatakan, dalam upaya percepatan penanggulangan kasus stunting di Kabupaten Gresik, perlu komitmen dari semua pihak agar mampu memberikan kontribusi dan inovasi dalam berbagai program serta kegiatan yang relevan. Untuk mengejar penurunan angka stunting, pemkab menambah 21 desa/kelurahan dari 10 kecamatan sebagai lokus stunting di 2022. “Sebelumnya, sembilan kecamatan, tahun 2022 ditambah jadi 10 jadi supaya intervensi penurunan stunting lebih optimal,” kata Aminatun saat acara Rembug Stunting 2021 di pendopo Alun-Alun Gresik, Jum’at (15/10).

-

Dikatakan, Stunting di Gresik kini mencapai 27 persen, namun angka itu belum menyeluruh karena proses posyandu terhenti selama setahun. “Saat ini, angka stunting secara nasional prevelansi 30 persen, sedangkan Jatim 32 persen, Harapannya, angka stunting Gresik yang kini mencapai 27 persen bisa turun hingga 14 persen,” kata Aminatun.

 

Stunting yang merupakan suatu kondisi gagal tumbuh karena kekurangan gizi pada anak di bawah lima tahun. Kondisi stunting pada anak mempengaruhi kualitas hidup baik kesehatan maupun perkembangan otak. Seperti yang dialami Ardani Uzi, bayi asal Desa Singosari Kecamatan Kebomas. Berat bayi Uzi hanya 7,5 kilogram, seharusnya di usianya yang mau dua tahun, beratnya mencapai 10 kilogram. “Rewel banget, kakinya kurus seperti ini. Ini didampingi terus oleh desa,” kata ibunda Uzi, Ni’mah Rosyidah, 40 tahun.

 

Sementara itu, Ketua TPP PKK Nurul Haromaini mengungkapkan, stunting menjadi permasalahan keluarga prasejahtera. Hal itu dengan banyak alasan, dari pola asuh, gizi, lingkungan dan sebagainya. “Akses terhadap makanan bergizi, asupan vitamin dan mineral, keragaman pangan, serta akses kepada sumber protein hewani menjadi penyebab utama anak menderita stunting. Nantinya ukuran tubuh anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir,” ungkap Nurul.

Upaya pencegahan stunting menjadi tanggung jawab bersama. Selain keluarga, harus ada peran pemerintah maupun instansi swasta. Sejumlah langkah yang bisa dioptimalkan untuk mencegah stunting yakni pemenuhan nutrisi ibu hamil, pengaturan pola makan serta pola asuh anak, mempermudah akses pangan untuk masyarakat prasejahtera, dan edukasi kepada orang tua terhadap pemberian makanan pada anak dan balita.  (jar/han)

Most Read

Berita Terbaru

/