alexametrics
29 C
Gresik
Tuesday, 17 May 2022

Dewan Soroti Kekurangan Dokter Spesialis di RS Umar Mas’ud

GRESIK– Keberadaan dokter spesialis di RSUD Umar Mas’ud yang berada di Pulau Bawean masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan secara tuntas. Meskipun ada solusi namun sifatnya hanya jangka pendek.  Anggota DPRD Gresik dari Pulau Bawean, Bustami Hazim mengatakan, kebutuhan dokter spesialis anestesi sangat vital.  “Tanpa ada rekomendasi dari dokter spesialis anestesi, maka kalau ada pasien yang membutuhkan tindakan operasi, tak bisa dilakukan,. Termasuk, klaim BPJS Kesehatan tak bisa dicover, ”kata Bustami Hazim, kemarin.

Untuk itu, pihaknya berharap permasalahan tersebut bisa dituntaskan. Sebab, berkaca dari beberapa kasus yang lalu di Pulau Bawean, ada ibu hamil yang harus kehilangan buah hatinya karena tak bisa dilakukan tindakan operasi. Maka, pasien harus dibawa ke Gresik untuk bisa dilakukan tindakan operasi. Sebelum kapal bersandar sampai di Gresik, pasien sudah kehilangan buah hatinya.

“Jangan sampai terjadi lagi. Kita mendapat informasi kalau perawat penata ahli anestesi bisa menjadi merekomendasikan untuk tindakan operasi. Selama ini, perawat penata anestesi secara bergiliran dikirim oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik ke RSUD Umar Mas’ud,”paparnya.

Terpisah, Kepala Dinkes Gresik drg Saifudin Ghozali membenarkan kalau kekurangan memenuhi kebutuhan dokter spesialis anestesi untuk RSUD Umar Mas’ud. Selama ini, Dinkes Gresik ada ketergantungan dari Pemprov Jatim dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Pendayagunaan Dokter Spesialis (PGDS).

“Kita memang masih ketergantungan untuk dokter spesialis anestesi dari pusat. Tapi, kita sudah kirim perawat penata anestesi ke RSUD Umar Mas’ud. Perawat penata anestesi boleh merekomendasi tindakan operasi, tetapi tetap dalam koordinasi pusat,”terangnya. Pihaknya telah menugaskan perawat penata anestesi di RSUD Ibnu Sina untuk bertugas di RSUD Umar Mas’ud selama 3 bulan. Nanti secara bergiliran dengan perawat penata anestesi yang ada di RSUD Ibnu Sina wajib bertugas disana selama masih belum terisi kebutuhan dokter spesialis anesetesi.

“Setelah perubahan peraturan bupati (perbup) tentang insentif tenaga kesehatan, langsung kita kirim pearawat anestesi ke Pulau Bawean. Kasihan kalau mereka hanya ditugaskan ke Pulau Bawean selama 3 bulan meninggalkan keluarganya tanpa ada insentif. Makanya, begitu insentif cair, maka langsung berangkat,”tandas dia. Salah satu penyebab dokter spesialis anestesi enggan bertugas di Pulau Bawean karena insentif yang diberikan oleh Pemkab Gresik terlalu kecil dibandingkan daerah lain. “Kalau untuk perawat penata anestesi, insentifnya sekitar Rp 10 juta,’pungkas dia. (fir/han)

GRESIK– Keberadaan dokter spesialis di RSUD Umar Mas’ud yang berada di Pulau Bawean masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan secara tuntas. Meskipun ada solusi namun sifatnya hanya jangka pendek.  Anggota DPRD Gresik dari Pulau Bawean, Bustami Hazim mengatakan, kebutuhan dokter spesialis anestesi sangat vital.  “Tanpa ada rekomendasi dari dokter spesialis anestesi, maka kalau ada pasien yang membutuhkan tindakan operasi, tak bisa dilakukan,. Termasuk, klaim BPJS Kesehatan tak bisa dicover, ”kata Bustami Hazim, kemarin.

Untuk itu, pihaknya berharap permasalahan tersebut bisa dituntaskan. Sebab, berkaca dari beberapa kasus yang lalu di Pulau Bawean, ada ibu hamil yang harus kehilangan buah hatinya karena tak bisa dilakukan tindakan operasi. Maka, pasien harus dibawa ke Gresik untuk bisa dilakukan tindakan operasi. Sebelum kapal bersandar sampai di Gresik, pasien sudah kehilangan buah hatinya.

“Jangan sampai terjadi lagi. Kita mendapat informasi kalau perawat penata ahli anestesi bisa menjadi merekomendasikan untuk tindakan operasi. Selama ini, perawat penata anestesi secara bergiliran dikirim oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik ke RSUD Umar Mas’ud,”paparnya.

-

Terpisah, Kepala Dinkes Gresik drg Saifudin Ghozali membenarkan kalau kekurangan memenuhi kebutuhan dokter spesialis anestesi untuk RSUD Umar Mas’ud. Selama ini, Dinkes Gresik ada ketergantungan dari Pemprov Jatim dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Pendayagunaan Dokter Spesialis (PGDS).

“Kita memang masih ketergantungan untuk dokter spesialis anestesi dari pusat. Tapi, kita sudah kirim perawat penata anestesi ke RSUD Umar Mas’ud. Perawat penata anestesi boleh merekomendasi tindakan operasi, tetapi tetap dalam koordinasi pusat,”terangnya. Pihaknya telah menugaskan perawat penata anestesi di RSUD Ibnu Sina untuk bertugas di RSUD Umar Mas’ud selama 3 bulan. Nanti secara bergiliran dengan perawat penata anestesi yang ada di RSUD Ibnu Sina wajib bertugas disana selama masih belum terisi kebutuhan dokter spesialis anesetesi.

“Setelah perubahan peraturan bupati (perbup) tentang insentif tenaga kesehatan, langsung kita kirim pearawat anestesi ke Pulau Bawean. Kasihan kalau mereka hanya ditugaskan ke Pulau Bawean selama 3 bulan meninggalkan keluarganya tanpa ada insentif. Makanya, begitu insentif cair, maka langsung berangkat,”tandas dia. Salah satu penyebab dokter spesialis anestesi enggan bertugas di Pulau Bawean karena insentif yang diberikan oleh Pemkab Gresik terlalu kecil dibandingkan daerah lain. “Kalau untuk perawat penata anestesi, insentifnya sekitar Rp 10 juta,’pungkas dia. (fir/han)

Most Read

Berita Terbaru

/