25 C
Gresik
Monday, 28 November 2022

Retribusi Dari Wisata Religi di Gresik Belum Maksimal

GRESIK – Pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi wisata religi masih belum maksimal. Penyebabnya, karena para pengunjung wisata religi banyak menggunakan kendaraan pribadi. Sehingga mereka tidak terkena retribusi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik.

Selama ini, para pengunjung wisata religi di Gresik memang tidak secara langsung dikenakan karcis. Retribusi dari para pengunjung ini tarik sekaligus kendaraan yang terparkir di area parkir wisata. Seperti wisata Makam Malik Ibrahim di lokasi parkir Lumpur dan wisata Sunan Giri di lokasi parkir Sekarkurung.

Namun dalam perjalanannya, peziarah yang parkir di area parkir itu hanya yang menggunakan bus besar. Sementara untuk peziarah yang menggunakan mobil pribadi maupun carteran elf langsung ke lokasi makam. “Sesuai perda memang sudah ada, sebetulnya seluruh pengunjung parkir di lokasi parkir,” ucap Kepala Upt Destinasi Wisata Terpadu Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudan dan Olahraga, Sudarmanto.

Sehingga pendapatan dari sektor wisata religi ini dinilai belum bisa maksimal. Mengingat banyak peziarah yang tidak melakukan parkir di area parkir. Namun pemerintah pun merasa dilema apabila retribusi itu ditarik di area makam. “Jika ditarik di makam kurang etis. Karena memang dari dulu sudah include parkir kendaraan,” ujarnya.

Saat ini pihaknya sedang menggodok cara agar tarikan retribusi itu bisa lebih maksimal. Apalagi untuk wisata religi ini ditarget Rp 1,5 miliar. “Kemarin ada rencana demikian, namun urung dilakukan karena tidak etis. Ini masih kami bahas bagaiaman solusinya. Yang jelas sesuai perda, retribusi itu ada,” tutupnya. (rof)

GRESIK – Pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi wisata religi masih belum maksimal. Penyebabnya, karena para pengunjung wisata religi banyak menggunakan kendaraan pribadi. Sehingga mereka tidak terkena retribusi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik.

Selama ini, para pengunjung wisata religi di Gresik memang tidak secara langsung dikenakan karcis. Retribusi dari para pengunjung ini tarik sekaligus kendaraan yang terparkir di area parkir wisata. Seperti wisata Makam Malik Ibrahim di lokasi parkir Lumpur dan wisata Sunan Giri di lokasi parkir Sekarkurung.

Namun dalam perjalanannya, peziarah yang parkir di area parkir itu hanya yang menggunakan bus besar. Sementara untuk peziarah yang menggunakan mobil pribadi maupun carteran elf langsung ke lokasi makam. “Sesuai perda memang sudah ada, sebetulnya seluruh pengunjung parkir di lokasi parkir,” ucap Kepala Upt Destinasi Wisata Terpadu Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudan dan Olahraga, Sudarmanto.

-

Sehingga pendapatan dari sektor wisata religi ini dinilai belum bisa maksimal. Mengingat banyak peziarah yang tidak melakukan parkir di area parkir. Namun pemerintah pun merasa dilema apabila retribusi itu ditarik di area makam. “Jika ditarik di makam kurang etis. Karena memang dari dulu sudah include parkir kendaraan,” ujarnya.

Saat ini pihaknya sedang menggodok cara agar tarikan retribusi itu bisa lebih maksimal. Apalagi untuk wisata religi ini ditarget Rp 1,5 miliar. “Kemarin ada rencana demikian, namun urung dilakukan karena tidak etis. Ini masih kami bahas bagaiaman solusinya. Yang jelas sesuai perda, retribusi itu ada,” tutupnya. (rof)

Most Read

Berita Terbaru

/