alexametrics
25 C
Gresik
Friday, 20 May 2022

Kuli Bangunan Ngaku Jadi Anggota KPK, Tipu Guru Jutaan Rupiah

GRESIK –Kuli bangunan, Vicky Andreanto ,43, warga Desa Selat, Kecamatan Narmada-Lombok Barat diringkus aparat kepolisian lantaran memperdayai dua warga di Kecamatan Cerme. Pria yang juga ngontrak di Perumahan Citrasari Regency Desa Banjarsari Kecamatan Cerme itu mengaku sebagai penyidik tipikor Polda Jatim dan anggota KPK. Akibatnya, korban merugi jutaan Rupiah.

Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto mengungkapkan, tersangka memiliki nama lain Mohammad Eliyas. Ia sudah beraksi dua kali di Kecamatan Cerme dengan modus operandi yang sama. Sekitar September, tersangka kelahiran Lamongan itu mengaku sebagai Mohammad Eliyas mendatangi Khoirul Anam ,46, seorang guru asal Desa Kandangan RT 1 RW 1 Kecamatan Cerme. Ia menerangkan kedatangannya adalah sebagai Penyidik Tipikor Polda Jatim dan Anggota KPK. “Saat itu tersangka mengaku mendapat perintah dari pemerintah pusat untuk memberikan program bantuan di sekolah MI berupa dana hibah nasional dengan anggaran Rp 350 juta,” ujar Kapolres Gresik dalam pers release didampingi Kasatreskrim AKP Bayu Febrianto Prayoga, Kasubbag Humas AKP Bambang Angkasa dan Kapolsek Cerme AKP Nur Amin, Senin (19/10). Apabila sekolah tempat korban mengajar bersedia maka harus mengeluarkan uang Rp 5,750 juta. Dalih pelaku, uang digunakan pengurusan pajak dan pencairan dana hibah. Khoirul membayar uang dan dijanjikan mendapatkan pencairan dana hibah Jumat (9/10). Namun, saat jatuh tempo hari, tersangka menghilang.

Korban lainnya yakni Herdy Bramanta ,31, karyawan BUMN yang tinggal di Semolowaru Indah BLK R/25 Kelurahan Semolowaru, Kecamatan Sukolilo-Surabaya. “Sama, tersangka mengaku sebagai Penyidik Tipikor Polda Jatim dan Anggota KPK,” tandas perwira dengan tiga balok itu. Kedatangan tersangka dengan niatan menyewa rumah korban yang berada di Perum Citrasari Regency Blok C/3 Desa Banjarsari, Kecamatan Cerme. Kesepakatan harga sewa Rp 25 juta setahun. Tersangka menunjukkan kartu anggota KPK dan menunjukkan rekening buku tabungan dengan saldo miliaran Rupiah. Herdy memberikan rumahnya untuk disewa selama satu tahun. Namun sampai beberapa lama, Vicky Andreanto tidak kunjung membayar sewa rumahnya. Hingga pada Sabtu (26/9) sekitar pukul 10.00 pagi, tersangka memberikan cek BCA No.DH998500 tanggal 2 Oktober 2020 dengan nominal Rp 25 juta a.n Vicky Andreanto.  Namun, cek saldo kosong. Tersangka ditangkap di Komplek Perum PPS, Desa Suci Kecamatan Manyar, Senin (12/10) sekitar pukul 22.00 WIB.

Sebenarnya, tersangka bekerja sebagai kuli proyek bangunan. Tersangka mengaku menjadi penyidik tipikor, anggota KPK, advokat, wartawan hingga LSM. Dari pengakuannya, barang-barang tersebut didapatkannya secara online. Ide kejahatan dilakukan tersangka berawal dari melihat televisi,” ujarnya. “Kasusnya masih terus dikembangkan guna mencari kemungkinan korban lain. Maka dari itu kepada masyarakat yang sekiranya merasa mengalami hal yang sama bisa melapor ke aparat kepolisian,”pungkasnya.(yud/han)

GRESIK –Kuli bangunan, Vicky Andreanto ,43, warga Desa Selat, Kecamatan Narmada-Lombok Barat diringkus aparat kepolisian lantaran memperdayai dua warga di Kecamatan Cerme. Pria yang juga ngontrak di Perumahan Citrasari Regency Desa Banjarsari Kecamatan Cerme itu mengaku sebagai penyidik tipikor Polda Jatim dan anggota KPK. Akibatnya, korban merugi jutaan Rupiah.

Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto mengungkapkan, tersangka memiliki nama lain Mohammad Eliyas. Ia sudah beraksi dua kali di Kecamatan Cerme dengan modus operandi yang sama. Sekitar September, tersangka kelahiran Lamongan itu mengaku sebagai Mohammad Eliyas mendatangi Khoirul Anam ,46, seorang guru asal Desa Kandangan RT 1 RW 1 Kecamatan Cerme. Ia menerangkan kedatangannya adalah sebagai Penyidik Tipikor Polda Jatim dan Anggota KPK. “Saat itu tersangka mengaku mendapat perintah dari pemerintah pusat untuk memberikan program bantuan di sekolah MI berupa dana hibah nasional dengan anggaran Rp 350 juta,” ujar Kapolres Gresik dalam pers release didampingi Kasatreskrim AKP Bayu Febrianto Prayoga, Kasubbag Humas AKP Bambang Angkasa dan Kapolsek Cerme AKP Nur Amin, Senin (19/10). Apabila sekolah tempat korban mengajar bersedia maka harus mengeluarkan uang Rp 5,750 juta. Dalih pelaku, uang digunakan pengurusan pajak dan pencairan dana hibah. Khoirul membayar uang dan dijanjikan mendapatkan pencairan dana hibah Jumat (9/10). Namun, saat jatuh tempo hari, tersangka menghilang.

Korban lainnya yakni Herdy Bramanta ,31, karyawan BUMN yang tinggal di Semolowaru Indah BLK R/25 Kelurahan Semolowaru, Kecamatan Sukolilo-Surabaya. “Sama, tersangka mengaku sebagai Penyidik Tipikor Polda Jatim dan Anggota KPK,” tandas perwira dengan tiga balok itu. Kedatangan tersangka dengan niatan menyewa rumah korban yang berada di Perum Citrasari Regency Blok C/3 Desa Banjarsari, Kecamatan Cerme. Kesepakatan harga sewa Rp 25 juta setahun. Tersangka menunjukkan kartu anggota KPK dan menunjukkan rekening buku tabungan dengan saldo miliaran Rupiah. Herdy memberikan rumahnya untuk disewa selama satu tahun. Namun sampai beberapa lama, Vicky Andreanto tidak kunjung membayar sewa rumahnya. Hingga pada Sabtu (26/9) sekitar pukul 10.00 pagi, tersangka memberikan cek BCA No.DH998500 tanggal 2 Oktober 2020 dengan nominal Rp 25 juta a.n Vicky Andreanto.  Namun, cek saldo kosong. Tersangka ditangkap di Komplek Perum PPS, Desa Suci Kecamatan Manyar, Senin (12/10) sekitar pukul 22.00 WIB.

-

Sebenarnya, tersangka bekerja sebagai kuli proyek bangunan. Tersangka mengaku menjadi penyidik tipikor, anggota KPK, advokat, wartawan hingga LSM. Dari pengakuannya, barang-barang tersebut didapatkannya secara online. Ide kejahatan dilakukan tersangka berawal dari melihat televisi,” ujarnya. “Kasusnya masih terus dikembangkan guna mencari kemungkinan korban lain. Maka dari itu kepada masyarakat yang sekiranya merasa mengalami hal yang sama bisa melapor ke aparat kepolisian,”pungkasnya.(yud/han)

Most Read

Berita Terbaru

/