alexametrics
28 C
Gresik
Monday, 16 May 2022

Luka Korban Dinilai Janggal, Pelapor dan Terlapor Dikonfrontir

GRESIK- Dugaan kasus penganiyaan di lingkungan Yayasan Ushulul Hikmah Al-Ibrohimi Kecamatan Manyar dinilai banyak kejanggalan. Setelah dikonfrontir antara pelapor dan terlapor oleh penyidik satreskrim polres Gresik, pelapor mengaku tidak mengetahui pasti kejadian dugaan penganiayaan. Luka bagian mata kanannya korban dinilai oleh penasehat hukum terlapor seperti digigit serangga.

Penasehat terlapor hukum Abdullah Syafii mengatakan dari keterangan saksi semua yang dimintai keterangan penyidik PPA Polres Gresik, pelapor tidak mengetahui kejadian pemukulan itu. “Ada salah satu saksi ketika kejadi gendong anak korban tidak ada luka sama sekali. Namun saya menyayangkan, tiba-tiba keesokan harinya bengkak mata seperti digigit serangga. Saya mengapresiasi terhadap penyidik karena menggali fakta-fakta sebenarnya,” ujarnya. Senin (11/10).

Lebih lanjut Safi’i menyampaikan akan laporkan balik. Ada dugaan memberikan keterangan palsu. “Hasil visum hanya ada lebam,” ucapnya.

Sementara pihak pelapor Muhammad Tubashofiyur Rohman membenarkan sudah dipanggil ke Mapolres Gresik terkait konfrontir keterangan para saksi.  “Saya datang pukul 11.30 WIB sampai hingga 14.00 wib di Mapolres Gresik untuk dimintai keterangan bersama saksi lainya, ” kata Gus Sofi sapaan Muhammad Tubashofiyur Rohman.

Di sisi lain Kanit Unit PPA Polres Gresik Aiptu Selamet Mujino mengatakan, pemanggilan tersebut dilakukan terhadap para pelapor dan saksi – saksi.  “Terkait konfrontir pihak pelapor dan saksi untuk dimintai keterangan, ” ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, penganiayaan itu terjadi pada Kamis (5/8) sekitar pukul 08.45 WIB. Muhammad Tubashofiyur Rohman bersama anaknya WR ,2, mengantarkan surat pemberhentian Mohamad Said sebagai kepala sekolah (Kasek) MA Al-Ibrohimi.

Di tengah jalan, Gus Sofi bertemu Said dan wakil kepala sekolah lain berjumlah sekitar enam orang. Pertemuan dilakukan di Kantor MA.

“Pak Said diberhentikan karena tidak bisa menjalankan amanah yayasan. Keputusan tersebut sudah diterima pak Said dengan lapang dada,” kata Gus Sofi saat dikonfirmasi, Kamis (12/8).

Pada saat ditengah perbincangan yang santai, tiba-tiba Khoirul Atho’ masuk. Tanpa basa-basi, Atho’ langsung melayangkan pukulan berkali-kali ke bagian wajah Gus Sofi. “Saya langsung kaget dan reflek meringkuk di kursi menghindari pukulan. Anak saya nangis terus duduk di samping saya,” katanya.

Usai menyerang Gus Sofi, pelaku keluar mencari Ketua Yayasan, Muwafaq yang sedang rapat di aula yayasan. Di tengah perjalanan ke aula, pelaku merusak mobil Gus Sofi yang sedang parkir. “Dari rekaman cctv pelaku juga merusak mobil saya yang parkir di depan aula,” imbuh pemuda berusia 28 tahun tersebut.

Usai kejadian itu, Gus Sofi memutuskan pulang bersama anaknya. Sampai dirumah buah hatinya terus menangis sesenggukan. Setelah diperiksa, ternyata WR mengalami lebam di mata kanannya.

Tindakan arogan itu membuat pengurus yayasan sepakat membawa ke jalur hukum. “Kalau laporan saya di Polsek Manyar. Sementara laporan anak saya di Polres Gresik karena di sana (Polres, Red) ada PPA,” jelasnya.

Dengan kejadian ini, pihaknya berharap tidak ada lagi tindakan intimidasi dan arogan di lingkunyan yayasan yang notabennya tempat para pengajar dan santri. “Harapannya diproses secara hukum yang berlaku,” pungkasnya.(yud/han)

GRESIK- Dugaan kasus penganiyaan di lingkungan Yayasan Ushulul Hikmah Al-Ibrohimi Kecamatan Manyar dinilai banyak kejanggalan. Setelah dikonfrontir antara pelapor dan terlapor oleh penyidik satreskrim polres Gresik, pelapor mengaku tidak mengetahui pasti kejadian dugaan penganiayaan. Luka bagian mata kanannya korban dinilai oleh penasehat hukum terlapor seperti digigit serangga.

Penasehat terlapor hukum Abdullah Syafii mengatakan dari keterangan saksi semua yang dimintai keterangan penyidik PPA Polres Gresik, pelapor tidak mengetahui kejadian pemukulan itu. “Ada salah satu saksi ketika kejadi gendong anak korban tidak ada luka sama sekali. Namun saya menyayangkan, tiba-tiba keesokan harinya bengkak mata seperti digigit serangga. Saya mengapresiasi terhadap penyidik karena menggali fakta-fakta sebenarnya,” ujarnya. Senin (11/10).

Lebih lanjut Safi’i menyampaikan akan laporkan balik. Ada dugaan memberikan keterangan palsu. “Hasil visum hanya ada lebam,” ucapnya.

-

Sementara pihak pelapor Muhammad Tubashofiyur Rohman membenarkan sudah dipanggil ke Mapolres Gresik terkait konfrontir keterangan para saksi.  “Saya datang pukul 11.30 WIB sampai hingga 14.00 wib di Mapolres Gresik untuk dimintai keterangan bersama saksi lainya, ” kata Gus Sofi sapaan Muhammad Tubashofiyur Rohman.

Di sisi lain Kanit Unit PPA Polres Gresik Aiptu Selamet Mujino mengatakan, pemanggilan tersebut dilakukan terhadap para pelapor dan saksi – saksi.  “Terkait konfrontir pihak pelapor dan saksi untuk dimintai keterangan, ” ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, penganiayaan itu terjadi pada Kamis (5/8) sekitar pukul 08.45 WIB. Muhammad Tubashofiyur Rohman bersama anaknya WR ,2, mengantarkan surat pemberhentian Mohamad Said sebagai kepala sekolah (Kasek) MA Al-Ibrohimi.

Di tengah jalan, Gus Sofi bertemu Said dan wakil kepala sekolah lain berjumlah sekitar enam orang. Pertemuan dilakukan di Kantor MA.

“Pak Said diberhentikan karena tidak bisa menjalankan amanah yayasan. Keputusan tersebut sudah diterima pak Said dengan lapang dada,” kata Gus Sofi saat dikonfirmasi, Kamis (12/8).

Pada saat ditengah perbincangan yang santai, tiba-tiba Khoirul Atho’ masuk. Tanpa basa-basi, Atho’ langsung melayangkan pukulan berkali-kali ke bagian wajah Gus Sofi. “Saya langsung kaget dan reflek meringkuk di kursi menghindari pukulan. Anak saya nangis terus duduk di samping saya,” katanya.

Usai menyerang Gus Sofi, pelaku keluar mencari Ketua Yayasan, Muwafaq yang sedang rapat di aula yayasan. Di tengah perjalanan ke aula, pelaku merusak mobil Gus Sofi yang sedang parkir. “Dari rekaman cctv pelaku juga merusak mobil saya yang parkir di depan aula,” imbuh pemuda berusia 28 tahun tersebut.

Usai kejadian itu, Gus Sofi memutuskan pulang bersama anaknya. Sampai dirumah buah hatinya terus menangis sesenggukan. Setelah diperiksa, ternyata WR mengalami lebam di mata kanannya.

Tindakan arogan itu membuat pengurus yayasan sepakat membawa ke jalur hukum. “Kalau laporan saya di Polsek Manyar. Sementara laporan anak saya di Polres Gresik karena di sana (Polres, Red) ada PPA,” jelasnya.

Dengan kejadian ini, pihaknya berharap tidak ada lagi tindakan intimidasi dan arogan di lingkunyan yayasan yang notabennya tempat para pengajar dan santri. “Harapannya diproses secara hukum yang berlaku,” pungkasnya.(yud/han)

Most Read

Berita Terbaru

/