alexametrics
25 C
Gresik
Saturday, 28 May 2022

Pembunuh Mat Molah Keberatan Dihukum Mati

GRESIK – Meski terbukti membunuh Mohammad Molah (Mat Molah) karena berselingkuh dengan istrinya hingga hamil, Jebpar warga Sampang, Madura keberatan dengan tuntutan hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ia berdalih, pembunuhan yang dilakukan merupkan bentuk tanggungjawab melindungi keluarganya.

Hal ini disampaikan dalam surat eksepsi yang dibacakan Penasehat Hukumnya. Muhammad Nali. Dalam eksepsinya terdakwa merasa keberatan atas dakwaan JPU. Karena perbuatan terdakwa semata-mata dilakukan sebagai pertanggungjawaban untuk melindungi keluarganya.

Nali mengilustrasikan masyarakat Madura sangat menjunjung tinggi kehormatan diri dan keluarganya, tidak membiarkan perbuatan yang menghina mereka, karena dianggap pengecut. Dimana korban menghamili istri terdakwa saat terdakwa menjadi TKI di Malaysia.

Hal tersebut sangat melukai dan menghina martabat, kehormatan diri dan keluarga terdakwa. “Perbuatan semacam itu, masyarakat Madura hanya diselesaikan dengan pertanggungjawaban diri pelaku,” lanjut Nali membacakan eksepsinya, Rabu (9/9).

Pertanggungjawaban tersebut, lanjut Nali dimaksudkan untuk menghindarkan pertumpanan darah antar dua keluarga besar yang bermasalah yang dapat menjatuhkan lebih banyak korban.

“Perbuatan terdakwa sesuai ajaran Agama Islam, dimana perbuatan perzinahan yang dilakukan korban dengan memaksa istri terdakwa, saat terdakwa bekerja di Malaysia adalah diganjar hukuman mati dengan cara dirajam,” ujar Nali.

Demikian pula mengingat sistem hukum di Indonesia tidak mengenal hukuman dengan cara dirajam bagi pelaku perzinahan dan juga karena hukuman yang dijatuhkan sangatlah ringan. Maka terdakwa melakukan tindakan sebagaimana yang dilakukan kepada korban, agar memenuhi ketentuan dalam masyarakat Madura dan Agama Islam sebagaimana dianut oleh terdakwa.

“Hal ini dimaksudkan terdakwa untuk meringankan dosa korban yang memaksa berzinah dengan istri nya. Oleh karena itu dakwaan Jaksa Penuntut Umum tidak tepat dan karenanya terdakwa mohon dibebaskan dari dakwaan dan tuntutan dalam perkara ini,” tukas Nali.

Dalam sidang sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa terhadap terdakwa Jebpar dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana juncto pasal 55 ayat (1) KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati. (yud/rof)

GRESIK – Meski terbukti membunuh Mohammad Molah (Mat Molah) karena berselingkuh dengan istrinya hingga hamil, Jebpar warga Sampang, Madura keberatan dengan tuntutan hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ia berdalih, pembunuhan yang dilakukan merupkan bentuk tanggungjawab melindungi keluarganya.

Hal ini disampaikan dalam surat eksepsi yang dibacakan Penasehat Hukumnya. Muhammad Nali. Dalam eksepsinya terdakwa merasa keberatan atas dakwaan JPU. Karena perbuatan terdakwa semata-mata dilakukan sebagai pertanggungjawaban untuk melindungi keluarganya.

Nali mengilustrasikan masyarakat Madura sangat menjunjung tinggi kehormatan diri dan keluarganya, tidak membiarkan perbuatan yang menghina mereka, karena dianggap pengecut. Dimana korban menghamili istri terdakwa saat terdakwa menjadi TKI di Malaysia.

-

Hal tersebut sangat melukai dan menghina martabat, kehormatan diri dan keluarga terdakwa. “Perbuatan semacam itu, masyarakat Madura hanya diselesaikan dengan pertanggungjawaban diri pelaku,” lanjut Nali membacakan eksepsinya, Rabu (9/9).

Pertanggungjawaban tersebut, lanjut Nali dimaksudkan untuk menghindarkan pertumpanan darah antar dua keluarga besar yang bermasalah yang dapat menjatuhkan lebih banyak korban.

“Perbuatan terdakwa sesuai ajaran Agama Islam, dimana perbuatan perzinahan yang dilakukan korban dengan memaksa istri terdakwa, saat terdakwa bekerja di Malaysia adalah diganjar hukuman mati dengan cara dirajam,” ujar Nali.

Demikian pula mengingat sistem hukum di Indonesia tidak mengenal hukuman dengan cara dirajam bagi pelaku perzinahan dan juga karena hukuman yang dijatuhkan sangatlah ringan. Maka terdakwa melakukan tindakan sebagaimana yang dilakukan kepada korban, agar memenuhi ketentuan dalam masyarakat Madura dan Agama Islam sebagaimana dianut oleh terdakwa.

“Hal ini dimaksudkan terdakwa untuk meringankan dosa korban yang memaksa berzinah dengan istri nya. Oleh karena itu dakwaan Jaksa Penuntut Umum tidak tepat dan karenanya terdakwa mohon dibebaskan dari dakwaan dan tuntutan dalam perkara ini,” tukas Nali.

Dalam sidang sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa terhadap terdakwa Jebpar dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana juncto pasal 55 ayat (1) KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati. (yud/rof)

Most Read

Berita Terbaru

/