alexametrics
28C
Gresik
Monday, 12 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Selama Pandemi Jualan Peternak Burung Anggungan Makin Laris

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

GRESIK – Pandemi Covid -19 tidak selamanya membuat orang kesulitan mencari rezeki. Ini dibuktikan Arip Ridwan, 47. Peternak burung ini mengaku jualan burungnya makin laris selama pandemic berlangsung.

Tinggal di Perumahan Gresik Kota Baru (GKB), Kecamatan Manyar dirinya berhasil menyulap halaman sempit miliknya menjadi lokasi ternak burung.

“Saya juga tidak menyangka, di musim pandemi ini permintaan burung justru semakin banyak. Saya sampai mendatangkan burung dari peternak lain untuk memenuhi permintaan” ujarnya, Jumat (5/3).

Arip mengungkapkan selama masa pandemi dirinya sanggup menjual setidaknya puluhan ekor burung anggungan selama sebulan. Puter pelung yang terjual memiliki kualitas yang bervariasi. Kebanyakan permintaan ialah puter pelung dengan kelas standart meski tak jarang ada yang kualitas super. Untuk kelas standart, harga puter pelung muda yang sudah bisa makan sendiri harganya sekitar Rp 350 ribu sampai Rp 1,5 juta.

Harga itu berbeda untuk puter pelung yang sudah mulai manggung. Harga yang dipatok bervariasi, tergantung durasi manggungnya. Bila ditotal selama dia berternak burung anggungan, omzet minimal penjualan puter pelung puluhan juta.

Ia optimis bisnisnya akan semakin berkembang. Hal ini didasarkan atas perkembangan penghobi puter pelung yang semakin lama semakin banyak.

“Beberapa tahun lalu tidak sebanyak ini. Saat ini penghobi perkutut sudah berkembang pesat dan saya berharap tidak menutup diri untuk bekerjasama bagi perternak lain untuk dalam menyilangkan burung puter pelung yang di ternaknya, ” pungkasnya. (yud/rof)

Mobile_AP_Rectangle 1

GRESIK – Pandemi Covid -19 tidak selamanya membuat orang kesulitan mencari rezeki. Ini dibuktikan Arip Ridwan, 47. Peternak burung ini mengaku jualan burungnya makin laris selama pandemic berlangsung.

Tinggal di Perumahan Gresik Kota Baru (GKB), Kecamatan Manyar dirinya berhasil menyulap halaman sempit miliknya menjadi lokasi ternak burung.

“Saya juga tidak menyangka, di musim pandemi ini permintaan burung justru semakin banyak. Saya sampai mendatangkan burung dari peternak lain untuk memenuhi permintaan” ujarnya, Jumat (5/3).

Mobile_AP_Half Page

Arip mengungkapkan selama masa pandemi dirinya sanggup menjual setidaknya puluhan ekor burung anggungan selama sebulan. Puter pelung yang terjual memiliki kualitas yang bervariasi. Kebanyakan permintaan ialah puter pelung dengan kelas standart meski tak jarang ada yang kualitas super. Untuk kelas standart, harga puter pelung muda yang sudah bisa makan sendiri harganya sekitar Rp 350 ribu sampai Rp 1,5 juta.

Harga itu berbeda untuk puter pelung yang sudah mulai manggung. Harga yang dipatok bervariasi, tergantung durasi manggungnya. Bila ditotal selama dia berternak burung anggungan, omzet minimal penjualan puter pelung puluhan juta.

Ia optimis bisnisnya akan semakin berkembang. Hal ini didasarkan atas perkembangan penghobi puter pelung yang semakin lama semakin banyak.

“Beberapa tahun lalu tidak sebanyak ini. Saat ini penghobi perkutut sudah berkembang pesat dan saya berharap tidak menutup diri untuk bekerjasama bagi perternak lain untuk dalam menyilangkan burung puter pelung yang di ternaknya, ” pungkasnya. (yud/rof)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

Berita Terkait

Desktop_AP_Rectangle 1

Berita HITS

Desktop_AP_Rectangle 2

Berita Terbaru