alexametrics
30 C
Gresik
Saturday, 23 October 2021

Hadiri Festival Layang-Layang, Gus Yani Terbangkan Naga Raksasa

GRESIK – Ratusan layang-layang naga menghiasi langit biru di Desa Dohaagung, Kecamatan Balongpanggang. Layang-layang menyerupai naga raksasa itu seperti terlihat nyata. Ekornya menari-nari  dsn meliuk liuk di angkasa, Minggu (3/10) sore.

Layang-layang naga dinggap paling sakral dibanding dengan jenis lainnya. Selain modelnya yang megah, juga membutuhkan empat orang hingga lebih agar bisa melayang. Maklum, kebanyakan layang-layang hanya memiliki panjang 75 meter sampai 100 meter.

Penerbangan layang-layang merupakan tradisi di desa setempat pada musim panas setelah panen padi. Tahun ini kali ke lima event festival berskala nasional digelar. Beragam peserta dari berbagai kota dan kabupaten turut hadir ikut meramaiakan.

Suyono ,46, salah satu pemilik layangan naga mengatakan butuh proses panjang untuk mengerjakan kerangka sampai menjadi layang-layang yang sempurna. Kendala terbesar dalam pembuatannya adalah detail kemiripan naga. Mulai dari mata, sisik naga sampai taring.

“Proses pembuatannya memakan waktu hingga empat bulan lebih. Bahan layang-layang terbuat dari kepingan berbahan fiber dan kain parasit. Kain ini cenderung tidak berat karena itu mudah diterbangkan,” ujarnya, Minggu (3/20).

Dikatakan, biaya pembuatan layang-layang beragam.  Biasanya mulai Rp 4 bahkan Rp 30 juta lebih.  “Mahal biayanya tapi sangat puas dengan hasilnya. Saya sendiri sempat menang lomba di tingkal lokal. Sepadan dengan harga pembuatannya,” jelasnya.

Ketua Panitia Festival Adieb Hazmy mengatakan, 300 peserta yang mengikuti gelaran festival layang-layang. Pihaknya membagi festival ini dengan tiga kategori lomba, dari biasa hingga termegah.  “Banyak kriterinya untuk menang lomba. Antara kain, penilaian bawah 40 persen meliputi desain dan keindahan model, 60 persen meliputi kestabilan saat mengudara,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Ahmad Yani yang turut hadir dalam acara tersebut mengapresiasi langkah positif panitia dalam menggelar acara ini. “Alhamdulilah festival luar biasa menjadi hiburan tidak hanya di desa atau kecamatan jadi hiburan nasional. Ini semnagat kita keluar pandemi covid-19 karena festival, layang-layang menjadi kearifan lokal benar benar kita jaga. Target kami ekonomi kerakayatan bangkit di pandemi covid-19,” pungkasnya.(yud/han)


GRESIK – Ratusan layang-layang naga menghiasi langit biru di Desa Dohaagung, Kecamatan Balongpanggang. Layang-layang menyerupai naga raksasa itu seperti terlihat nyata. Ekornya menari-nari  dsn meliuk liuk di angkasa, Minggu (3/10) sore.

Layang-layang naga dinggap paling sakral dibanding dengan jenis lainnya. Selain modelnya yang megah, juga membutuhkan empat orang hingga lebih agar bisa melayang. Maklum, kebanyakan layang-layang hanya memiliki panjang 75 meter sampai 100 meter.

Penerbangan layang-layang merupakan tradisi di desa setempat pada musim panas setelah panen padi. Tahun ini kali ke lima event festival berskala nasional digelar. Beragam peserta dari berbagai kota dan kabupaten turut hadir ikut meramaiakan.

-

Suyono ,46, salah satu pemilik layangan naga mengatakan butuh proses panjang untuk mengerjakan kerangka sampai menjadi layang-layang yang sempurna. Kendala terbesar dalam pembuatannya adalah detail kemiripan naga. Mulai dari mata, sisik naga sampai taring.

“Proses pembuatannya memakan waktu hingga empat bulan lebih. Bahan layang-layang terbuat dari kepingan berbahan fiber dan kain parasit. Kain ini cenderung tidak berat karena itu mudah diterbangkan,” ujarnya, Minggu (3/20).

Dikatakan, biaya pembuatan layang-layang beragam.  Biasanya mulai Rp 4 bahkan Rp 30 juta lebih.  “Mahal biayanya tapi sangat puas dengan hasilnya. Saya sendiri sempat menang lomba di tingkal lokal. Sepadan dengan harga pembuatannya,” jelasnya.

Ketua Panitia Festival Adieb Hazmy mengatakan, 300 peserta yang mengikuti gelaran festival layang-layang. Pihaknya membagi festival ini dengan tiga kategori lomba, dari biasa hingga termegah.  “Banyak kriterinya untuk menang lomba. Antara kain, penilaian bawah 40 persen meliputi desain dan keindahan model, 60 persen meliputi kestabilan saat mengudara,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Ahmad Yani yang turut hadir dalam acara tersebut mengapresiasi langkah positif panitia dalam menggelar acara ini. “Alhamdulilah festival luar biasa menjadi hiburan tidak hanya di desa atau kecamatan jadi hiburan nasional. Ini semnagat kita keluar pandemi covid-19 karena festival, layang-layang menjadi kearifan lokal benar benar kita jaga. Target kami ekonomi kerakayatan bangkit di pandemi covid-19,” pungkasnya.(yud/han)


Most Read

Berita HITS

Berita Terbaru