alexametrics
27 C
Gresik
Thursday, 19 May 2022

Pelda Imam Syafi’i Kembangkan Benih Vaname Berkualitas Tinggi

GRESIK – Usaha tambak merupakan mata pencarian dilakukan warga Gresik utara. Hal itu membuat anggota Koramil 0817/Dukun Pelda Imam Syafi’i terjun untuk melakukan budidaya udang vaname dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat.

Bintara Pembina Desa atau Babinsa Kodim 0817/Gresik berkontribusi dalam peningkatan ekonomi masyarakat di bantaran sungai Bengawan Solo yang melintas di wilayah Gresik utara. Seperti yang dilakukan Pelda Imam Syafi’i yang sukses membudidayakan udang vaname serta membuat benih berkualitas.

Sebagai tentara, ia tak pelit ilmu. Ia aktif menularkan cara membudidayakan udang vaname di air tawar ke masyarakat maupun petambak lain di wilayahnya. Tentara yang bertugas di Koramil 0817/Dukun ini sudah enam tahun ini berkecimpung di dunia budidaya udang. Selama jadi petambak, ia berupaya agar menghasilkan udang super nan berkualitas tinggi.

“Jadi awalnya saya berpikir, bagaimana udang vaname ini bisa bertahan di wilayah air tawar karena biasanya di air payau hal ini karena saya bertugas jadi babinsa yang desanya dekat dengan Bengawan Solo,” Ujarnya, Senin (2/11). Sejak 2017, dirinya mencoba melakukan pembenihan para petani tambak bisa membudidayakan vaname. Lalu, ia membuat penangkaran bibit udang vaname mulai dari benur dengan salinitas 20 hingga 25 persen kadar garam diturunkan menjadi 0 persen tawar.  “Berkat usaha dan terobosan yang saya lakukan ini petambak puas dengan hasil bibitnya. Dari saya yang asalnya satu rean 10 Kg sekarang bibit dari saya meningkat satu rean bisa 15-20 kg,” imbuhnya.

Meski wilayahnya berada di sepanjang bantaran sungai Bengawan Solo, Babinsa Desa Tiremenggal itu optimistis petani tambak bisa sukses meraih omzet ratusan juta dengan sentuhan teknologi. “Sebagai Babinsa melaksanakan tugas pokok sehari-hari merupakan kewajiban saya, pulang dinas ada waktu luang saya manfaatkan untuk budidaya udang,” ungkapnya. Dalam usaha budidaya udang, Pelda Imam Safi’i menjelaskan awal mula penjualan 25 rean perhari sudah 100-200 rean perhari, dengan harga rata rata saru rean Rp 100 ribu. “Alhamdulillah berkah usaha dan terobosan saya selama ini berhasil. Dalam proses penjualan atau Packing saya merekrut tenaga kerja desa sehingga membantu perekonomian masyarakat sekitar,” pungkasnya. (yud/han)

GRESIK – Usaha tambak merupakan mata pencarian dilakukan warga Gresik utara. Hal itu membuat anggota Koramil 0817/Dukun Pelda Imam Syafi’i terjun untuk melakukan budidaya udang vaname dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat.

Bintara Pembina Desa atau Babinsa Kodim 0817/Gresik berkontribusi dalam peningkatan ekonomi masyarakat di bantaran sungai Bengawan Solo yang melintas di wilayah Gresik utara. Seperti yang dilakukan Pelda Imam Syafi’i yang sukses membudidayakan udang vaname serta membuat benih berkualitas.

Sebagai tentara, ia tak pelit ilmu. Ia aktif menularkan cara membudidayakan udang vaname di air tawar ke masyarakat maupun petambak lain di wilayahnya. Tentara yang bertugas di Koramil 0817/Dukun ini sudah enam tahun ini berkecimpung di dunia budidaya udang. Selama jadi petambak, ia berupaya agar menghasilkan udang super nan berkualitas tinggi.

-

“Jadi awalnya saya berpikir, bagaimana udang vaname ini bisa bertahan di wilayah air tawar karena biasanya di air payau hal ini karena saya bertugas jadi babinsa yang desanya dekat dengan Bengawan Solo,” Ujarnya, Senin (2/11). Sejak 2017, dirinya mencoba melakukan pembenihan para petani tambak bisa membudidayakan vaname. Lalu, ia membuat penangkaran bibit udang vaname mulai dari benur dengan salinitas 20 hingga 25 persen kadar garam diturunkan menjadi 0 persen tawar.  “Berkat usaha dan terobosan yang saya lakukan ini petambak puas dengan hasil bibitnya. Dari saya yang asalnya satu rean 10 Kg sekarang bibit dari saya meningkat satu rean bisa 15-20 kg,” imbuhnya.

Meski wilayahnya berada di sepanjang bantaran sungai Bengawan Solo, Babinsa Desa Tiremenggal itu optimistis petani tambak bisa sukses meraih omzet ratusan juta dengan sentuhan teknologi. “Sebagai Babinsa melaksanakan tugas pokok sehari-hari merupakan kewajiban saya, pulang dinas ada waktu luang saya manfaatkan untuk budidaya udang,” ungkapnya. Dalam usaha budidaya udang, Pelda Imam Safi’i menjelaskan awal mula penjualan 25 rean perhari sudah 100-200 rean perhari, dengan harga rata rata saru rean Rp 100 ribu. “Alhamdulillah berkah usaha dan terobosan saya selama ini berhasil. Dalam proses penjualan atau Packing saya merekrut tenaga kerja desa sehingga membantu perekonomian masyarakat sekitar,” pungkasnya. (yud/han)

Most Read

Berita Terbaru

/