alexametrics
25 C
Gresik
Friday, 27 May 2022

Kesulitan BBM, Nelayan Mengare Gagal Melaut

GRESIK– Sejumlah nelayan di wilayah Gresik Utara kesulitan mendapatkan solar atau bahan bakar untuk mencari ikan di laut. Adanya SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar) khusus menjadi salah satu solusi.

Kelompok Nelayan Mengare (KNM), Fadil menuturkan kebutuhan solar harian satu nelayan diperkirakan mencapai 5 liter. Dengan total armada di Mengare yang melingkupi tiga desa yakni Kramat, Watu Agung, Tajung Widoro) terdapat 969 perahu.

“Sedangkan mereka harus menempuh jarak kurang lebih 13 km untuk mendapatkan bahan bakar melalui SPBU di Sembayat dengan kondisi jalan kabupaten yang kurang bagus,” ujarnya, Senin (22/3). Fakta di lapangan banyak nelayan yang terpaksa tidak melaut karena tidak mendapatkan bahan bakar solar subsidi. Mereka harus antre berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar. “Kami butuh SPBU khusus bagi nelayan,” terangnya.

Sementara itu Wakil Ketua Komisi II M Syahrul Munir mengatakan, saat bertemu dengan nelayan beberapa hari lalu dirinya diwaduli sulitnya mendapatkan solar. Baik nelayan atau petani tambak.

“Jadi kemarin, publik hearing bersama Nelayan Mengare. Mereka ingin adanya SPBU khusus nelayan. Selama ini, para nelayan kesulitan dapat bahan bakar,” ujarnya.

Saat komisinya fokus menggodok rancangan peraturan daerah (perda) tentang perlindungan nelayan. Saat publik hearing, dirinya mendapatkan usulan terkait SPBU khusus nelayan dan petambak. Dalam waktu dekat, politisi muda PKB juga bakal berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menuntaskan persoalan sulitnya bahan bakar subsidi. Salah satunya bakal berkoordinasi dengan Gresik Migas.

“Melalui ranperda ini, masyarakat nelayan Mengare menginginkan fasilitas SPBU Khusus Nelayan sehingga mereka tidak kesulitan untuk pergi melaut,” terangnya.

Masalah lain yang menjadi hambatan adalah banyaknya nelayan besar yang memaki Trawl untuk menangkap ikan. Banyak nelayan tradisional yang mengeluhkan penggunaan alat tangkap yang terlarang.

“Penindakan terhadap penggunaan jaring trawl harus jelas. Selain itu terumbu karang dan ikan-ikan ekosistem laut juga terancam dengan penggunaan jaring trawl atau pukat harimau tersebut,” pungkasnya. (yud/han)

GRESIK– Sejumlah nelayan di wilayah Gresik Utara kesulitan mendapatkan solar atau bahan bakar untuk mencari ikan di laut. Adanya SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar) khusus menjadi salah satu solusi.

Kelompok Nelayan Mengare (KNM), Fadil menuturkan kebutuhan solar harian satu nelayan diperkirakan mencapai 5 liter. Dengan total armada di Mengare yang melingkupi tiga desa yakni Kramat, Watu Agung, Tajung Widoro) terdapat 969 perahu.

“Sedangkan mereka harus menempuh jarak kurang lebih 13 km untuk mendapatkan bahan bakar melalui SPBU di Sembayat dengan kondisi jalan kabupaten yang kurang bagus,” ujarnya, Senin (22/3). Fakta di lapangan banyak nelayan yang terpaksa tidak melaut karena tidak mendapatkan bahan bakar solar subsidi. Mereka harus antre berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar. “Kami butuh SPBU khusus bagi nelayan,” terangnya.

-

Sementara itu Wakil Ketua Komisi II M Syahrul Munir mengatakan, saat bertemu dengan nelayan beberapa hari lalu dirinya diwaduli sulitnya mendapatkan solar. Baik nelayan atau petani tambak.

“Jadi kemarin, publik hearing bersama Nelayan Mengare. Mereka ingin adanya SPBU khusus nelayan. Selama ini, para nelayan kesulitan dapat bahan bakar,” ujarnya.

Saat komisinya fokus menggodok rancangan peraturan daerah (perda) tentang perlindungan nelayan. Saat publik hearing, dirinya mendapatkan usulan terkait SPBU khusus nelayan dan petambak. Dalam waktu dekat, politisi muda PKB juga bakal berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menuntaskan persoalan sulitnya bahan bakar subsidi. Salah satunya bakal berkoordinasi dengan Gresik Migas.

“Melalui ranperda ini, masyarakat nelayan Mengare menginginkan fasilitas SPBU Khusus Nelayan sehingga mereka tidak kesulitan untuk pergi melaut,” terangnya.

Masalah lain yang menjadi hambatan adalah banyaknya nelayan besar yang memaki Trawl untuk menangkap ikan. Banyak nelayan tradisional yang mengeluhkan penggunaan alat tangkap yang terlarang.

“Penindakan terhadap penggunaan jaring trawl harus jelas. Selain itu terumbu karang dan ikan-ikan ekosistem laut juga terancam dengan penggunaan jaring trawl atau pukat harimau tersebut,” pungkasnya. (yud/han)

Most Read

Berita Terbaru

/