alexametrics
23 C
Gresik
Thursday, 26 May 2022

Pusing Daring, Dosen Unair Ini Berbagi Tips Dampingi Anak Belajar

GRESIK-Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dan juga Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI-HIMPSI) Dr Wiwin Hendriani, S.Psi, M.Si berbagi tips bagaimana upaya orang tua menghadapi anak selama proses pembelajaran daring di rumah.  Pasalnya, kekerasan yang terjadi pada anak selama masa pandemi Covid-19 dominan dilakukan oleh ibu.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Trafficking dan Eksploitasi merinci, anak-anak 23 persen secara fisik mengakui dicubit orang tua. Total 63 persen dicubit ibu, 36 persen oleh kakak, diikuti dengan ayah sebesar 27 persen.

“Di sini dampaknya luar biasa memberikan highlight ibu menjadi pelaku karena ada efek domino dari beban ganda ibu bahkan multi. Beban mengurus rumah, ada yang bekerja. Belum lagi harus mendampingi belajar anak,” kata Wiwin saat webinar parenting bertajuk Strategi Jitu Mendidik Anak Hebat di Tengah Pandemi yang digelar Sekolah Dasar Nadhatul Ulama (SD NU) Nurul Ishlah Randuagung.

. Meski begitu, kondisi pandemi ini, orang tua dituntut untuk bisa beradaptasi dengan pembelajaran anak. Berbagai persoalan belajar anak muncul saat belajar. Orang tua pun harus memiliki berbagai strategi meghadapinya.

Alumnus S1 dan S2 Universitas Gadjah Mada itu mengatakan, persoalan pembelajaran daring bagi orang tua cukup banyak. Di antaranya, anak harus beradaptasi terhadap perubahan situasi belajar di rumah dan sekolah. Muncul kejenuhan, problem perilaku. Persoalan lainnya selama daring, muncul sikap tidak disiplin pada anak. Dalam menghadapi ketidaksiplinan, orang tua harus membuat komitmen baik dengan pendamping di rumah dan anak. Latih kemandirian belajar, misal dengan membuat jadwal harian, perbanyak diskusi refleksi proses belajar tiap hari, dan lain-lainnya. “Perlu diingat proses belajar dapat dilakukan beriring dengan upaya untuk mengoptimalkan perkembangan anak di berbagai aspek, tidak hanya kognitif atau kemampuan akademik. Karena itu, pendampingan tumbuh kembang anak di masa pandemi perlu dilakukan dengan tepat agar,” kata Wiwin.

Berikut beberapa persoalan belajar anak dan upaya yang dapat dilakukan orang tua.

Sulit Berkonsentrasi

  • Distraksi dari siswa lain yang tampak di layar
  • Faktor gaya belajar (visual/ auditorik/ kinestetik)

Tindak Lanjut

  • Pengaturan ulang jadwal daring dengan kelompok lebih kecil dan memperhatikan karakteristik siswa
  • Jadwal pendampingan tambahan apabila memungkinkan
  • Koreksi cara pendampingan orangtua, apakah ada kemungkinan tidak fokus juga

Bosan / Jenuh

  • Kurang tepat dalam pengaturan waktu
  • Kurang optimal dalam pengaturan variasi aktivitas

Tindak Lanjut

  • Pengaturan ulang waktu belajar
  • Pengaturan ulang variasi aktivitas belajar tiap harinya
  • Variasi tersebut dapat diatur dengan mempertimbangkan faktor daring-luring, mengakomodasi minat anak, juga pembelajaran aneka life skill yang dapat dilakukan orangtua

Tidak Disiplin & Bergantung

  • Faktor pembiasaan dari pendamping yang perlu diperbaiki

Tindak Lanjut

  • Membangun kesepakatan bersama anak
  • Latih kemandirian belajar, misal dengan membuat jadwal harian, perbanyak diskusi refleksi proses belajar tiap hari, dll
  • Pemberian motivasi, termasuk di dalamnya apresiasi terhadap perubahan perilaku positif
  • Penyediaan contoh perilaku konkrit dari orangtua / pendamping belajar anak

Bagaimana jika di rumah terbatas sarana bermain dan belajar?

 Berupaya kreatif, memanfaatkan apa yang ada di sekitar sebagai alat bantu belajar atau media stimulasi perkembangan. Melibatkan anak dalam aktivitas orangtua yang memungkinkan, untuk terus memelihara interaksi yang baik, serta menumbuhkan pemahaman anak terhadap pekerjaan orangtua, empati, juga toleransi.

Bagaimana jika orangtua harus bekerja, tidak punya cukup waktu menemani anak?

  • Mengaktifkan fungsi ko-parenting
  • Pelibatan peran serta saudara kandung sebagai ‘partner’ & pendamping belajar
  • Memanfaatkan waktu yang dimiliki (meski terbatas) untuk optimal berinteraksi dengan anak, memperhatikan anak secara penuh sambil memberikan pengertian à Memaksimalkan ‘kualitas’ meski secara kuantitas mungkin kurang ideal

Bagaimana jika di masa pandemi anak dan orangtua kesulitan mengakses teknologi untuk bisa belajar secara daring?

  • Mengkomunikasikan kepada sekolah
  • Mengusulkan penyederhanaan kurikulum secara mandiri dengan memperbanyak life skill (untuk anak usia dini dan awal SD)
  • Inisiatif membentuk kelompok belajar mandiri atau kelompok diskusi orangtua, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Strategi untuk Membantu Mengoptimalkan Pendidikan dan Pendampingan Belajar

    1. Kenali gaya atau kebiasaan anak dalam belajar à pentinguntuk menjaga motivasi internal anak
    2. Apabila memungkinkan, libatkan hal-hal yang disukai anak dalam proses belajar
    3. Mengatur waktu dan durasi belajar dengan tepat
    4. Membuat aturan menarik terkait proses belajar yang disepakati bersama
    5. Melibatkan peran saudara (kakak / adik)

Semoga bermanfaat. (han)

GRESIK-Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dan juga Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI-HIMPSI) Dr Wiwin Hendriani, S.Psi, M.Si berbagi tips bagaimana upaya orang tua menghadapi anak selama proses pembelajaran daring di rumah.  Pasalnya, kekerasan yang terjadi pada anak selama masa pandemi Covid-19 dominan dilakukan oleh ibu.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Trafficking dan Eksploitasi merinci, anak-anak 23 persen secara fisik mengakui dicubit orang tua. Total 63 persen dicubit ibu, 36 persen oleh kakak, diikuti dengan ayah sebesar 27 persen.

“Di sini dampaknya luar biasa memberikan highlight ibu menjadi pelaku karena ada efek domino dari beban ganda ibu bahkan multi. Beban mengurus rumah, ada yang bekerja. Belum lagi harus mendampingi belajar anak,” kata Wiwin saat webinar parenting bertajuk Strategi Jitu Mendidik Anak Hebat di Tengah Pandemi yang digelar Sekolah Dasar Nadhatul Ulama (SD NU) Nurul Ishlah Randuagung.

-

. Meski begitu, kondisi pandemi ini, orang tua dituntut untuk bisa beradaptasi dengan pembelajaran anak. Berbagai persoalan belajar anak muncul saat belajar. Orang tua pun harus memiliki berbagai strategi meghadapinya.

Alumnus S1 dan S2 Universitas Gadjah Mada itu mengatakan, persoalan pembelajaran daring bagi orang tua cukup banyak. Di antaranya, anak harus beradaptasi terhadap perubahan situasi belajar di rumah dan sekolah. Muncul kejenuhan, problem perilaku. Persoalan lainnya selama daring, muncul sikap tidak disiplin pada anak. Dalam menghadapi ketidaksiplinan, orang tua harus membuat komitmen baik dengan pendamping di rumah dan anak. Latih kemandirian belajar, misal dengan membuat jadwal harian, perbanyak diskusi refleksi proses belajar tiap hari, dan lain-lainnya. “Perlu diingat proses belajar dapat dilakukan beriring dengan upaya untuk mengoptimalkan perkembangan anak di berbagai aspek, tidak hanya kognitif atau kemampuan akademik. Karena itu, pendampingan tumbuh kembang anak di masa pandemi perlu dilakukan dengan tepat agar,” kata Wiwin.

Berikut beberapa persoalan belajar anak dan upaya yang dapat dilakukan orang tua.

Sulit Berkonsentrasi

  • Distraksi dari siswa lain yang tampak di layar
  • Faktor gaya belajar (visual/ auditorik/ kinestetik)

Tindak Lanjut

  • Pengaturan ulang jadwal daring dengan kelompok lebih kecil dan memperhatikan karakteristik siswa
  • Jadwal pendampingan tambahan apabila memungkinkan
  • Koreksi cara pendampingan orangtua, apakah ada kemungkinan tidak fokus juga

Bosan / Jenuh

  • Kurang tepat dalam pengaturan waktu
  • Kurang optimal dalam pengaturan variasi aktivitas

Tindak Lanjut

  • Pengaturan ulang waktu belajar
  • Pengaturan ulang variasi aktivitas belajar tiap harinya
  • Variasi tersebut dapat diatur dengan mempertimbangkan faktor daring-luring, mengakomodasi minat anak, juga pembelajaran aneka life skill yang dapat dilakukan orangtua

Tidak Disiplin & Bergantung

  • Faktor pembiasaan dari pendamping yang perlu diperbaiki

Tindak Lanjut

  • Membangun kesepakatan bersama anak
  • Latih kemandirian belajar, misal dengan membuat jadwal harian, perbanyak diskusi refleksi proses belajar tiap hari, dll
  • Pemberian motivasi, termasuk di dalamnya apresiasi terhadap perubahan perilaku positif
  • Penyediaan contoh perilaku konkrit dari orangtua / pendamping belajar anak

Bagaimana jika di rumah terbatas sarana bermain dan belajar?

 Berupaya kreatif, memanfaatkan apa yang ada di sekitar sebagai alat bantu belajar atau media stimulasi perkembangan. Melibatkan anak dalam aktivitas orangtua yang memungkinkan, untuk terus memelihara interaksi yang baik, serta menumbuhkan pemahaman anak terhadap pekerjaan orangtua, empati, juga toleransi.

Bagaimana jika orangtua harus bekerja, tidak punya cukup waktu menemani anak?

  • Mengaktifkan fungsi ko-parenting
  • Pelibatan peran serta saudara kandung sebagai ‘partner’ & pendamping belajar
  • Memanfaatkan waktu yang dimiliki (meski terbatas) untuk optimal berinteraksi dengan anak, memperhatikan anak secara penuh sambil memberikan pengertian à Memaksimalkan ‘kualitas’ meski secara kuantitas mungkin kurang ideal

Bagaimana jika di masa pandemi anak dan orangtua kesulitan mengakses teknologi untuk bisa belajar secara daring?

  • Mengkomunikasikan kepada sekolah
  • Mengusulkan penyederhanaan kurikulum secara mandiri dengan memperbanyak life skill (untuk anak usia dini dan awal SD)
  • Inisiatif membentuk kelompok belajar mandiri atau kelompok diskusi orangtua, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Strategi untuk Membantu Mengoptimalkan Pendidikan dan Pendampingan Belajar

    1. Kenali gaya atau kebiasaan anak dalam belajar à pentinguntuk menjaga motivasi internal anak
    2. Apabila memungkinkan, libatkan hal-hal yang disukai anak dalam proses belajar
    3. Mengatur waktu dan durasi belajar dengan tepat
    4. Membuat aturan menarik terkait proses belajar yang disepakati bersama
    5. Melibatkan peran saudara (kakak / adik)

Semoga bermanfaat. (han)

Most Read

Berita Terbaru

/