alexametrics
26 C
Gresik
Sunday, 29 May 2022

Pendapatan Ibnu Sina Anjlok 70 Persen

Gresik – Sejak pandemi covid-19 terjadi, pendapatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ibnu Sina anjlok. Tak tanggung-tanggung, nominalnya mencapai 70 persen. Kondisi ini disebabkan lantaran masyarakat enggan datang ke rumah sakit karena takut tertular covid-19.

Dari data yang berhasil dihimpun, pendapatan RSUD Ibnu Sina setiap bulan biasanya mencapai Rp 1 miliar. Namun setelah covid-19 melanda, pendapatan mereka hanya Rp 300 juta saja setiap bulannya.

Hal ini dibenarkan Direktur Utama RSUD Ibnu Sina Gresik, dr. Endang Puspitowati, Sp. THT-KL. Endang menyebut sejak pandemi covid-19 melanda masyarakat jadi takut untuk berobat ke rumah sakit sehingga pendapatan menurun.

“Semua rumah sakit kondisinya sekarang sepi. Tidak hanya RSUD Ibnu Sina saja yang menjadi rujukan utama covid-19 di Gresik. RS swasta yang lain juga merasakan hal yang sama,” kata Endang disela-sela kunjungan kerja Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di Gresik, kemarin.

Dokter spesialis THT itu memberikan contoh, pelayanan kesehatan di klinik yang dulunya ramai kini mendadak sepi. Begitu juga dengan kamar rawat inap yang saat ini semula selalu penuh dengan pasien kini cukup lengang. Akibat kondisi tersebut pendapatan rumah sakit plat merah itu anjlok.

“Di samping melakukan efisiensi pada semua sektor. Kemungkinan tahun ini kami belum bisa membangun fasilitas ataupun sarana kesehatan baru karena anggarannya tidak ada,” imbuhnya.

Di tempat terpisah, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Gresik, dr. Umar Nur Rachman, Sp.PD menyebut keengganan masyarakat datang ke rumah sakit lantaran takut tertular virus covid-19.

“Ada anggapan jika berobat ke RS langsung ditetapkan terpapar covid 19. Padahal tidak semudah itu rumah sakit mendiagnosis orang menjadi pasien covid 19,” kata dia.

Umar berharap agar pemerintah pusat maupun daerah gencar turun gunung untuk  melakukan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat.

“Kami berharap agar tokoh masyarakat juga dilibatkan dalam edukasi tersebut. Agar tidak ada pemahaman yang keliru. Sebab hal ini berbahaya, jika masyarakat takut ke RS bisa-bisa penyakit yang sedang diderita semakin bertambah parah apabila tidak ada pola penanganan yang benar,” pungkasnya. (fir/rof)

Gresik – Sejak pandemi covid-19 terjadi, pendapatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ibnu Sina anjlok. Tak tanggung-tanggung, nominalnya mencapai 70 persen. Kondisi ini disebabkan lantaran masyarakat enggan datang ke rumah sakit karena takut tertular covid-19.

Dari data yang berhasil dihimpun, pendapatan RSUD Ibnu Sina setiap bulan biasanya mencapai Rp 1 miliar. Namun setelah covid-19 melanda, pendapatan mereka hanya Rp 300 juta saja setiap bulannya.

Hal ini dibenarkan Direktur Utama RSUD Ibnu Sina Gresik, dr. Endang Puspitowati, Sp. THT-KL. Endang menyebut sejak pandemi covid-19 melanda masyarakat jadi takut untuk berobat ke rumah sakit sehingga pendapatan menurun.

-

“Semua rumah sakit kondisinya sekarang sepi. Tidak hanya RSUD Ibnu Sina saja yang menjadi rujukan utama covid-19 di Gresik. RS swasta yang lain juga merasakan hal yang sama,” kata Endang disela-sela kunjungan kerja Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di Gresik, kemarin.

Dokter spesialis THT itu memberikan contoh, pelayanan kesehatan di klinik yang dulunya ramai kini mendadak sepi. Begitu juga dengan kamar rawat inap yang saat ini semula selalu penuh dengan pasien kini cukup lengang. Akibat kondisi tersebut pendapatan rumah sakit plat merah itu anjlok.

“Di samping melakukan efisiensi pada semua sektor. Kemungkinan tahun ini kami belum bisa membangun fasilitas ataupun sarana kesehatan baru karena anggarannya tidak ada,” imbuhnya.

Di tempat terpisah, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Gresik, dr. Umar Nur Rachman, Sp.PD menyebut keengganan masyarakat datang ke rumah sakit lantaran takut tertular virus covid-19.

“Ada anggapan jika berobat ke RS langsung ditetapkan terpapar covid 19. Padahal tidak semudah itu rumah sakit mendiagnosis orang menjadi pasien covid 19,” kata dia.

Umar berharap agar pemerintah pusat maupun daerah gencar turun gunung untuk  melakukan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat.

“Kami berharap agar tokoh masyarakat juga dilibatkan dalam edukasi tersebut. Agar tidak ada pemahaman yang keliru. Sebab hal ini berbahaya, jika masyarakat takut ke RS bisa-bisa penyakit yang sedang diderita semakin bertambah parah apabila tidak ada pola penanganan yang benar,” pungkasnya. (fir/rof)

Most Read

Berita Terbaru

/