alexametrics
31 C
Gresik
Saturday, 28 May 2022

Sejak 2016, TPA Ngipik Overload

GRESIK – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngipik kondisinya makin overload. Bagaimana tidak, saat ini sampah yang diterima TPA ini setiap harinya mencapai ratusan ton. Padahal, lahan tersisa saat ini tinggal dua hektar.

Kepala UPT  TPA Dinas Lingkungan Hidup Gresik, Siti Choni Andriati mengatakan sesuai dengan studi yang sudah dilakukan DLH, TPA tersebut seharusnya ditutup pada tahun 2018. Namun hingga menginjak awal tahun 2021, lahan tersebut terus ditumpuk oleh sampah sehingga menggunung.

“Cara yang kami lakukan salah satunya dengan menekan jumlah sampah yang masuk ke TPA. Nah, sejak tahun 2018, seluruh perusahaan yang membuang  sampah ke TPA, saya wajibkan untuk pilah dulu sampahnya. Mana sampah residu, lapak, dan organik. Dari situ, sampah organik kita olah jadi kompos, sementara sampah lapak sebelum masuk ke timbangan biasanya sudah dicegai pengepul dan dibeli. Itu sangat membantu mengurangi sampah yang masuk ke TPA, ” kata dia.

Berdasarkan data, Jumlah pemasukan sampah di TPA Ngipik sejak tahun 2016 memang mengalami penurunan. Tahun 2016, per hari sebanyak 239 ton sampah masuk TPA. Angka tersebut tidak mengalami penurunan di tahun 2017. Baru pada 2018, per hari jumlah sampah yang masuk ke TPA Ngipik sekitar 214 ton. Artinya ada penurunan sebanyak 25 ton. Sementara di tahun 2019, tercatat 175 ton  sampah per hari dan pada tahun 2020, hanya 165 ton per hari.

Upaya penekanan jumlah sampah yang masuk ke TPA tersebut tidak lain disebabkan karena ketersediaan lahan yang terbatas. Menurut Siti, jika tidak dilakukan penekanan kapasitas sampah yang masuk ke TPA Ngipik.

Dijelaskan, sebagaimana studi revitalisasi yang dilakukannya berdasarkan jumlah data sampah di tahun 2017, tempat pembuangan yang masih aktif hingga kini itu hanya bisa bertahan sampai 2018.

Terkait lahan baru TPA, menurut Siti ada 2 lokasi yang sudah dilakukan pengkajian, 1 di daerah Kedamean dan di Panceng.

“Untuk luas tanah di Kedamean hanya 1 ha. Namun realisasi tersebut terkendala oleh penolakan masyarakat akan adanya lokasi TPA didaerah mereka,” ujarnya. (fir/rof)

GRESIK – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngipik kondisinya makin overload. Bagaimana tidak, saat ini sampah yang diterima TPA ini setiap harinya mencapai ratusan ton. Padahal, lahan tersisa saat ini tinggal dua hektar.

Kepala UPT  TPA Dinas Lingkungan Hidup Gresik, Siti Choni Andriati mengatakan sesuai dengan studi yang sudah dilakukan DLH, TPA tersebut seharusnya ditutup pada tahun 2018. Namun hingga menginjak awal tahun 2021, lahan tersebut terus ditumpuk oleh sampah sehingga menggunung.

“Cara yang kami lakukan salah satunya dengan menekan jumlah sampah yang masuk ke TPA. Nah, sejak tahun 2018, seluruh perusahaan yang membuang  sampah ke TPA, saya wajibkan untuk pilah dulu sampahnya. Mana sampah residu, lapak, dan organik. Dari situ, sampah organik kita olah jadi kompos, sementara sampah lapak sebelum masuk ke timbangan biasanya sudah dicegai pengepul dan dibeli. Itu sangat membantu mengurangi sampah yang masuk ke TPA, ” kata dia.

-

Berdasarkan data, Jumlah pemasukan sampah di TPA Ngipik sejak tahun 2016 memang mengalami penurunan. Tahun 2016, per hari sebanyak 239 ton sampah masuk TPA. Angka tersebut tidak mengalami penurunan di tahun 2017. Baru pada 2018, per hari jumlah sampah yang masuk ke TPA Ngipik sekitar 214 ton. Artinya ada penurunan sebanyak 25 ton. Sementara di tahun 2019, tercatat 175 ton  sampah per hari dan pada tahun 2020, hanya 165 ton per hari.

Upaya penekanan jumlah sampah yang masuk ke TPA tersebut tidak lain disebabkan karena ketersediaan lahan yang terbatas. Menurut Siti, jika tidak dilakukan penekanan kapasitas sampah yang masuk ke TPA Ngipik.

Dijelaskan, sebagaimana studi revitalisasi yang dilakukannya berdasarkan jumlah data sampah di tahun 2017, tempat pembuangan yang masih aktif hingga kini itu hanya bisa bertahan sampai 2018.

Terkait lahan baru TPA, menurut Siti ada 2 lokasi yang sudah dilakukan pengkajian, 1 di daerah Kedamean dan di Panceng.

“Untuk luas tanah di Kedamean hanya 1 ha. Namun realisasi tersebut terkendala oleh penolakan masyarakat akan adanya lokasi TPA didaerah mereka,” ujarnya. (fir/rof)

Most Read

Berita Terbaru

/