alexametrics
29 C
Gresik
Tuesday, 18 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Upaya Menekan Pernikahan Dini, MUI dan PA Bentuk Lembaga Konseling

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

GRESIK – Tingginya angka pernikahan dini di Kabupaten Gresik menjadi sorotan semua elemen. Untuk mengurangi pernikahan usia dini dan meningkatnya angka perceraian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengadilan Agama Kabupaten Gresik melakukan penandatangan Master of Understanding (MoU) di Aula Masjid Agung Gresik, (8/4).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik, KH M Mansoer Shodiq mengatakan, MoU itu untuk memberikan pendampingan kepada pasangan yang hendak menikah di usia dini. Pasalnya, usia mulai 16 tahun sampai 19 tahun ini masih membutuhkan konseling dan bimbingan untuk membangun rumah tangga. “Peran konseling seperti ini sangat diperlukan karena untuk mengurangi pernikahan di usia dini,”kata Mansoer.

Dikatakan, dalam membangun rumah tangga di usia dini seringkali muncul problema.  Terlebih, saat masih usia dini diharuskan mereka siap mulai fisik, lahiriyah, pemikiran maupun ekonominya. “Konseling sangat penting untuk memberikan pemahaman jika pasangan muda hendak menikah muda. Dengan adanya bimbingan seperti ini para pasangan memikirkan ulang jika ingin menikah muda sehingga tidak terjadi perceraian,”ujar dia.

 

Sementara dari Ketua Pengadilan Agama Gresik, Sugiri Permana mengaku, dengan perubahan perundangan – undangan perkawinan dari usia 16 menjadi 19 tahun bagi perempuan, jumlah pernikahan baru di Gresik naik signifikan. Akibatnya, dari tahun sebelum 2020 jumlah pernikahan dini hanya 50 orang, kini bisa mencapai 100 orang.

“Kami prihatin dengan kasus ini, MoU ini untuk  melakukan penyadaran kepada masyarakat agar memahami terkait pernikahan yang dianjurkan,” jelasnya.  Dengan dijalinnya kerjasama bimbingan konseling itu diharapkan meminimalisir terjadinya pernikahan dini yang ada di Kabupaten Gresik. (jar/han)

Mobile_AP_Rectangle 1

GRESIK – Tingginya angka pernikahan dini di Kabupaten Gresik menjadi sorotan semua elemen. Untuk mengurangi pernikahan usia dini dan meningkatnya angka perceraian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengadilan Agama Kabupaten Gresik melakukan penandatangan Master of Understanding (MoU) di Aula Masjid Agung Gresik, (8/4).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik, KH M Mansoer Shodiq mengatakan, MoU itu untuk memberikan pendampingan kepada pasangan yang hendak menikah di usia dini. Pasalnya, usia mulai 16 tahun sampai 19 tahun ini masih membutuhkan konseling dan bimbingan untuk membangun rumah tangga. “Peran konseling seperti ini sangat diperlukan karena untuk mengurangi pernikahan di usia dini,”kata Mansoer.

Dikatakan, dalam membangun rumah tangga di usia dini seringkali muncul problema.  Terlebih, saat masih usia dini diharuskan mereka siap mulai fisik, lahiriyah, pemikiran maupun ekonominya. “Konseling sangat penting untuk memberikan pemahaman jika pasangan muda hendak menikah muda. Dengan adanya bimbingan seperti ini para pasangan memikirkan ulang jika ingin menikah muda sehingga tidak terjadi perceraian,”ujar dia.

Mobile_AP_Half Page

 

Sementara dari Ketua Pengadilan Agama Gresik, Sugiri Permana mengaku, dengan perubahan perundangan – undangan perkawinan dari usia 16 menjadi 19 tahun bagi perempuan, jumlah pernikahan baru di Gresik naik signifikan. Akibatnya, dari tahun sebelum 2020 jumlah pernikahan dini hanya 50 orang, kini bisa mencapai 100 orang.

“Kami prihatin dengan kasus ini, MoU ini untuk  melakukan penyadaran kepada masyarakat agar memahami terkait pernikahan yang dianjurkan,” jelasnya.  Dengan dijalinnya kerjasama bimbingan konseling itu diharapkan meminimalisir terjadinya pernikahan dini yang ada di Kabupaten Gresik. (jar/han)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

Berita Terkait

Desktop_AP_Rectangle 1

Berita HITS

Desktop_AP_Rectangle 2

Berita Terbaru