alexametrics
25 C
Gresik
Friday, 20 May 2022

Jatim Bebas Zona Merah, Gresik Fokus Tekan Angka Kematian

GRESIK– Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, provinsi Jawa Timur akhirnya bebas dari zona merah. Hasil data dari Satgas Covid-19 pusat mengumumkan, Rabu (7/10), tidak ada lagi zona merah di Jawa Timur. Rincinya, dari total 38 kabupaten/kota di Jatim, saat ini 28 kabupaten kota sudah berubah warna menjadi oranye atau daerah dengan risiko sedang penularan Covid-19. Sisanya 10 kabupaten kota masuk dalam zona kuning atau risiko rendah penularan virus corona atau Covid-19.

Dengan kondisi tersebut, Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto tetap meminta masyarakat agar tetap waspada terhadap penularan Covid-19 di lingkungannya. Khususnya, penularan Covid 19 di lingkungan keluarga.  “Razia yustisi tetap kami optimalkan agar apa yang telah dicapai bisa ditingkatkan,” kata lulusan. Dalam upaya penegakan protokol kesehatan, pemkab Gresik bekerjasama dengan kabupaten/kota sekitar seperti Surabaya dan sekitarnya sebagai pelopor penanganan protokol kesehatan (P3A). “Perkara warna zona, tidak kami ributkan. Warna bukan menjadi alat ukur keberhasilan penanganan Covid-10. Maka dari itu, Gresik fokus pada kesembuhan dan menekan angka kematian pasien Covid-19. Di samping indikator-indikator lainnya untuk menunjang penegakan dalam protokol kesehatan, “ jelasnya.

Terpisah, Juru bicara gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Saifudin Ghozali membeberkan data kesembuhan pasien Covid-19 di Gresik kini memcapai 2.921 pasien.

Dari total 3.341 kasus positif, yang sudah sembuh mencapai 2.921 pasien.  “Semua itu harus dibarengi dengan kedisiplinan masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa melalui media sosialnya menlaskan bahwa memang dalam dua pekan terakhir rate of transmission atau laju penyebaran Covid-19 di Jatim sudah di bawah 1 yaitu 0,9. Artinya laju penyebaran virus corona sudah mulai bisa ditekan dengan angka penularan yang menurun.

Salah satu yang cukup berpengaruh besar adalah gerakan bermasker yang masif dan diimbangi dengan operasi yustisi yang ketat dari pihak yang berwajib. Hal tersebut membuat pendisiplinan masyarakat terhadap penggunaan masker, tidak berkerumun, dan menjaga jarak lebih terjaga. (fir/han)

GRESIK– Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, provinsi Jawa Timur akhirnya bebas dari zona merah. Hasil data dari Satgas Covid-19 pusat mengumumkan, Rabu (7/10), tidak ada lagi zona merah di Jawa Timur. Rincinya, dari total 38 kabupaten/kota di Jatim, saat ini 28 kabupaten kota sudah berubah warna menjadi oranye atau daerah dengan risiko sedang penularan Covid-19. Sisanya 10 kabupaten kota masuk dalam zona kuning atau risiko rendah penularan virus corona atau Covid-19.

Dengan kondisi tersebut, Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto tetap meminta masyarakat agar tetap waspada terhadap penularan Covid-19 di lingkungannya. Khususnya, penularan Covid 19 di lingkungan keluarga.  “Razia yustisi tetap kami optimalkan agar apa yang telah dicapai bisa ditingkatkan,” kata lulusan. Dalam upaya penegakan protokol kesehatan, pemkab Gresik bekerjasama dengan kabupaten/kota sekitar seperti Surabaya dan sekitarnya sebagai pelopor penanganan protokol kesehatan (P3A). “Perkara warna zona, tidak kami ributkan. Warna bukan menjadi alat ukur keberhasilan penanganan Covid-10. Maka dari itu, Gresik fokus pada kesembuhan dan menekan angka kematian pasien Covid-19. Di samping indikator-indikator lainnya untuk menunjang penegakan dalam protokol kesehatan, “ jelasnya.

Terpisah, Juru bicara gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Saifudin Ghozali membeberkan data kesembuhan pasien Covid-19 di Gresik kini memcapai 2.921 pasien.

-

Dari total 3.341 kasus positif, yang sudah sembuh mencapai 2.921 pasien.  “Semua itu harus dibarengi dengan kedisiplinan masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa melalui media sosialnya menlaskan bahwa memang dalam dua pekan terakhir rate of transmission atau laju penyebaran Covid-19 di Jatim sudah di bawah 1 yaitu 0,9. Artinya laju penyebaran virus corona sudah mulai bisa ditekan dengan angka penularan yang menurun.

Salah satu yang cukup berpengaruh besar adalah gerakan bermasker yang masif dan diimbangi dengan operasi yustisi yang ketat dari pihak yang berwajib. Hal tersebut membuat pendisiplinan masyarakat terhadap penggunaan masker, tidak berkerumun, dan menjaga jarak lebih terjaga. (fir/han)

Most Read

Berita Terbaru

/