alexametrics
25 C
Gresik
Friday, 20 May 2022

Diserbu Jukir Liar, Warga Perum PPS Resah

GRESIK– Tidak ada angin maupun hujan, puluhan juru parkir dengan mengenakan rompu oranye menyerbu area perumahan Pondok Permata Suci (PPS). Dengan menumpang kendaraan mereka lantas menyebar ke berberapa area yang menjadi pusat keramaian. Mirisnya para jukir tersebut meminta uang parkir tanpa memberikan karcis.

Persoalan puluhan jukir di area PPS pertama kali dikeluhkan Dian Arfah Fibrianti di media sosial warga PPS. Dalam penjelasannya Ririn (sapaan akrab) mengaku resah karena diminta uang parkir sebesar Rp 2.000 saat mengambil uang di ATM Centre PPS.

“Saya kasih Rp 1.000 tidak mau, tetap meminta Rp 2.000. Padahal sebelumnya gratis. Ini jelas meresahkan warga penghuni perumahan,” kata Ririn.

Hal yang sama diungkapkan Maftuhin Sholeh, warga Permata Shmphony PPS. Saat hendak berbelanja di minimarket PPS dirinya diminta uang parkir. Anehnya, sang petugas yang masih terlihat usia remaja itu tidak memberikan karcis.

“Saya tanya mereka ini darimana, apakah dari Dishub atau Pemkab. Jawabannya dari Desa Suci. PPS ini pengelolaannya masih oleh pengembang, belum diserahkan ke pihak pemerintah,” kata Maftuhin. Dia meminta agar pengelola dan pihak desa melakukan koordinasi yang baik. Jika tidak ada komunikasi tentu masyarakat penghuni perumahan yang dirugikan.

Terpisah, salah satu tokoh warga PPS, Tono memberikan informasi jika puluhan jukir tersebut berasal dari Forum Komunikasi Warga Suci (FKWS).

“Perlu diklarifikasi juga kegiatan parkir hanya fokus di tiga titik tempat yang dalam proses pengajuan izin , namun karena salah komunikasi dan terlalu bersemangat sehingga juru parkir FKWS menyebar ke banyak titik yang berakibat salah tempat,” kata Tono.

Sekretaris Desa Suci, Miftah mengatakan, sebelum melakukan kegiatan FKWS sudah mengajukan permohonan izin ke pihak desa. Namun karena kurang sosialisasi membuat warga penghuni perumahan kaget. “Jika ada keberatan dari warga perumahan silahkan bisa datang ke balai desa nanti kita duduk bersama mencari solusi pemberdayaan bagi pemuda desa,” kata Miftah. (fir/han)

GRESIK– Tidak ada angin maupun hujan, puluhan juru parkir dengan mengenakan rompu oranye menyerbu area perumahan Pondok Permata Suci (PPS). Dengan menumpang kendaraan mereka lantas menyebar ke berberapa area yang menjadi pusat keramaian. Mirisnya para jukir tersebut meminta uang parkir tanpa memberikan karcis.

Persoalan puluhan jukir di area PPS pertama kali dikeluhkan Dian Arfah Fibrianti di media sosial warga PPS. Dalam penjelasannya Ririn (sapaan akrab) mengaku resah karena diminta uang parkir sebesar Rp 2.000 saat mengambil uang di ATM Centre PPS.

“Saya kasih Rp 1.000 tidak mau, tetap meminta Rp 2.000. Padahal sebelumnya gratis. Ini jelas meresahkan warga penghuni perumahan,” kata Ririn.

-

Hal yang sama diungkapkan Maftuhin Sholeh, warga Permata Shmphony PPS. Saat hendak berbelanja di minimarket PPS dirinya diminta uang parkir. Anehnya, sang petugas yang masih terlihat usia remaja itu tidak memberikan karcis.

“Saya tanya mereka ini darimana, apakah dari Dishub atau Pemkab. Jawabannya dari Desa Suci. PPS ini pengelolaannya masih oleh pengembang, belum diserahkan ke pihak pemerintah,” kata Maftuhin. Dia meminta agar pengelola dan pihak desa melakukan koordinasi yang baik. Jika tidak ada komunikasi tentu masyarakat penghuni perumahan yang dirugikan.

Terpisah, salah satu tokoh warga PPS, Tono memberikan informasi jika puluhan jukir tersebut berasal dari Forum Komunikasi Warga Suci (FKWS).

“Perlu diklarifikasi juga kegiatan parkir hanya fokus di tiga titik tempat yang dalam proses pengajuan izin , namun karena salah komunikasi dan terlalu bersemangat sehingga juru parkir FKWS menyebar ke banyak titik yang berakibat salah tempat,” kata Tono.

Sekretaris Desa Suci, Miftah mengatakan, sebelum melakukan kegiatan FKWS sudah mengajukan permohonan izin ke pihak desa. Namun karena kurang sosialisasi membuat warga penghuni perumahan kaget. “Jika ada keberatan dari warga perumahan silahkan bisa datang ke balai desa nanti kita duduk bersama mencari solusi pemberdayaan bagi pemuda desa,” kata Miftah. (fir/han)

Most Read

Berita Terbaru

/