alexametrics
27 C
Gresik
Sunday, 13 June 2021
Desktop_AP_Top Banner

Bea Cukai Gresik Antarkan UMKM Tembus Pasar Ekspor

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

GRESIK – Pandemi Covid 19 yang melanda Indonesia sejak setahun terakhir memukul banyak sendi perekonomian, salah satunya sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Di kabupaten Gresik dan Lamongan, banyak pelaku UMKM yang tidak kuasa bertahan dalam menghadapi badai pandemi hingga harus gulung tikar.

Melihat realitas tersebut Bea Cukai Gresik berupaya mencari terobosan untuk mendorong sektor UMKM agar kembali bergeliat. Salah satunya dengan memberika fasilitas para pelaku UMKM agar berani melakukan ekspor produk ke berbagai belahan dunia.

Nah, setelah melalui program pelatihan beberapa bulan akhirnya pada Jumat (29/01) tujuh UMKM di Gresik dan Lamongan resmi bisa melakukan ekspor produknya ke Hongkong. Kegiatan pengiriman produk ekspor dilakukan seremonial di kantor Bea Cukai Gresik. Adapun produk yang dikirim ke luar negeri yakni, minuman tradisional nila siwalan (legen), wedang uwuh, sambal krawu khas Gresik, kerupuk ikan bandeng hingga tas handmade.

Kepala Kantor Pelayanan Pengawasan Bea dan Cukai Gresik, Bier Budi Kismuljanto mengatakan, Bea Cukai Gresik membantu UMKM berkomunikasi dengan atase perdagangan RI di Hongkong agar dicarikan konsumen di negeri.

“Para UMKM yang akan mengekspor produknya sudah tahu caranya membuat NIB dan modul ekspor. Kami dampingi proses administrasinya. Jika biasanya melalui agensi, kali ini mereka sudah bisa mengirimkan barangnya langsung ke negara tujuan,” kata Bier Budi Kismuljanto.

Kantor Bea Cukai Gresik merupakan instansi pertama di Indonesia yang mengantarkan UMKM menjadi eksportir. Keberhasilan ini berkat dukungan semua pihak mulai dari pemerintah daerah, komunitas eksportir hingga jajarannya dilapangan.

Di tempat yang sama,  Ketua Komunitas Eskportir Indonesia, Iko Sukma mengaku, selama Pandemi banyak UMKM gulung tikar. Bea Cukai Gresik sukses menjadi pilot project dalam mencetak UMKM eksportir Indonesia. Tidak hanya memberikan pelatihan administrasi pemenuhan syarat ekspor namun mempertemukan UMKM dengan Lembaga Permodalan Eskpor Indonesia (LPEI).

Sementara itu, Owner Legend Trend, Indra Tony Sayuti salah satu pengusaha yang ikut mengekspor produknya ke Hongkong mengaku bangga akhirnya dia sudah bisa naik kelas dari UMKM menjadi eksportir.  “Biasanya saya jual minuman ini sekitar Rp 100 ribuan perbotol. Namun untuk buyer yang ada diluar negeri ada yang siap membeli Rp 250 ribu. Itupun akan dijual kembali dengan harga lebih mahal,” tuturnya. Minuman sari siwalan hasil produksinya merupakan pertama di Indonesia yang berhasil menembus pasar ekspor. Dia berharap minuman tradisional produknya sejajar dengan produk minuman Sake asal Jepang dan Soju asal Korea. (fir/han)

Mobile_AP_Rectangle 1

GRESIK – Pandemi Covid 19 yang melanda Indonesia sejak setahun terakhir memukul banyak sendi perekonomian, salah satunya sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Di kabupaten Gresik dan Lamongan, banyak pelaku UMKM yang tidak kuasa bertahan dalam menghadapi badai pandemi hingga harus gulung tikar.

Melihat realitas tersebut Bea Cukai Gresik berupaya mencari terobosan untuk mendorong sektor UMKM agar kembali bergeliat. Salah satunya dengan memberika fasilitas para pelaku UMKM agar berani melakukan ekspor produk ke berbagai belahan dunia.

Nah, setelah melalui program pelatihan beberapa bulan akhirnya pada Jumat (29/01) tujuh UMKM di Gresik dan Lamongan resmi bisa melakukan ekspor produknya ke Hongkong. Kegiatan pengiriman produk ekspor dilakukan seremonial di kantor Bea Cukai Gresik. Adapun produk yang dikirim ke luar negeri yakni, minuman tradisional nila siwalan (legen), wedang uwuh, sambal krawu khas Gresik, kerupuk ikan bandeng hingga tas handmade.

Mobile_AP_Half Page

Kepala Kantor Pelayanan Pengawasan Bea dan Cukai Gresik, Bier Budi Kismuljanto mengatakan, Bea Cukai Gresik membantu UMKM berkomunikasi dengan atase perdagangan RI di Hongkong agar dicarikan konsumen di negeri.

“Para UMKM yang akan mengekspor produknya sudah tahu caranya membuat NIB dan modul ekspor. Kami dampingi proses administrasinya. Jika biasanya melalui agensi, kali ini mereka sudah bisa mengirimkan barangnya langsung ke negara tujuan,” kata Bier Budi Kismuljanto.

Kantor Bea Cukai Gresik merupakan instansi pertama di Indonesia yang mengantarkan UMKM menjadi eksportir. Keberhasilan ini berkat dukungan semua pihak mulai dari pemerintah daerah, komunitas eksportir hingga jajarannya dilapangan.

Di tempat yang sama,  Ketua Komunitas Eskportir Indonesia, Iko Sukma mengaku, selama Pandemi banyak UMKM gulung tikar. Bea Cukai Gresik sukses menjadi pilot project dalam mencetak UMKM eksportir Indonesia. Tidak hanya memberikan pelatihan administrasi pemenuhan syarat ekspor namun mempertemukan UMKM dengan Lembaga Permodalan Eskpor Indonesia (LPEI).

Sementara itu, Owner Legend Trend, Indra Tony Sayuti salah satu pengusaha yang ikut mengekspor produknya ke Hongkong mengaku bangga akhirnya dia sudah bisa naik kelas dari UMKM menjadi eksportir.  “Biasanya saya jual minuman ini sekitar Rp 100 ribuan perbotol. Namun untuk buyer yang ada diluar negeri ada yang siap membeli Rp 250 ribu. Itupun akan dijual kembali dengan harga lebih mahal,” tuturnya. Minuman sari siwalan hasil produksinya merupakan pertama di Indonesia yang berhasil menembus pasar ekspor. Dia berharap minuman tradisional produknya sejajar dengan produk minuman Sake asal Jepang dan Soju asal Korea. (fir/han)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

Berita Terkait

Desktop_AP_Rectangle 1

Berita HITS

Desktop_AP_Rectangle 2

Berita Terbaru