Banyak Buku KIA Belum Terisi Lengkap, Dinkes Gresik Dorong Gerakan Bersama Libatkan Guru PAUD

RADAR GRESIK – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik terus memperkuat upaya deteksi dini terkait masalah kesehatan ibu dan anak melalui optimalisasi pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Langkah ini diambil menyusul temuan di lapangan yang menunjukkan masih banyaknya Buku KIA belum terisi secara lengkap serta rendahnya pemahaman ibu dan kader kesehatan dalam memanfaatkan informasi teknis di dalamnya.
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Gresik, dr. Anik Luthfiyah, membeberkan bahwa berdasarkan data akumulasi Dinkes Gresik, jumlah ibu hamil di Kabupaten Gresik sepanjang Januari hingga September 2026 telah mencapai 11.820 orang. Sementara pada periode sepanjang tahun 2025 lalu tercatat sebanyak 15.599 ibu hamil.
Baca Juga: Dinkes Gresik Cegah Penularan TBC Lewat Skrining Sistematis 100 Warga Desa Munggugebang Benjeng
“Untuk jumlah ibu hamil sepanjang tahun 2026 ini mencatatkan angka 11.820 orang,” terang dr. Anik, Jumat (23/10).
Lebih lanjut, dr. Anik menjelaskan bahwa hasil pemantauan dan evaluasi tim Dinkes di lapangan menemukan sejumlah kendala substantif terkait penggunaan Buku KIA. Salah satu poin utamanya adalah pengisian data instrumen yang belum lengkap, khususnya pada bagian catatan harian yang menjadi ranah orang tua atau keluarga.
“Ketika tim Dinkes beberapa kali melakukan verifikasi lapangan, kami mendapati banyak Buku KIA yang belum terisi lengkap, terutama pada bagian yang seharusnya menjadi tanggung jawab ibu atau keluarga pasien,” ungkapnya.
Baca Juga: Dinkes Gresik Gandeng Dokter Spesialis Anak untuk Pendampingan Tumbuh Kembang Balita Bermasalah Gizi
Di samping persoalan kelengkapan data, tingkat pemahaman kader kesehatan terhadap interpretasi data medis yang tercantum dalam Buku KIA juga menjadi perhatian serius.
Meski pengisian angka dan grafik oleh kader dinilai cukup memadai, kemampuan mengurai data untuk menentukan penanganan awal pada ibu dan balita bermasalah masih perlu ditingkatkan.
Kondisi tersebut berisiko membuat gangguan kesehatan serta hambatan tumbuh kembang anak tidak terdeteksi sejak fase awal. Dampaknya, balita yang membutuhkan penanganan medis khusus berpotensi terlambat mendapatkan perawatan intensif, termasuk saat mulai mengarah pada indikasi stunting.
“Pengisian data oleh kader sebenarnya sudah baik. Namun, interpretasi data untuk penanganan ibu dan balita yang mengalami masalah kesehatan masih kurang. Akibatnya, ada balita yang tidak tertangani sejak dini sehingga berisiko mengalami stunting dan keterlambatan perkembangan,” tegas dr. Anik.



