alexametrics
26 C
Gresik
Sunday, 3 July 2022

Bahaya Self Diagnose pada Gangguan Kesehatan Jiwa

GRESIK – Istilah Mental Illness atau gangguan kesehatan jiwa kini tidak asing lagi di telinga masyarakat awam. Gangguan jiwa merupakan gangguan proses pikir yang melibatkan perasaan, emosi, dan kepribadian seseorang. Gangguan ini memiliki banyak jenis dan faktor penyebab, setiap penderita mendapatkan pengobatan yang berbeda-beda tergantung perjalanan penyakitnya.

Untuk menegakkan diagnosa pasti, diperlukan pemeriksaan lanjutan oleh tim medis profesional yakni dokter spesialis kesehatan jiwa. Gangguan kesehatan jiwa seringkali diabaikan gejalanya namun lebih fatalnya adalah keliru penanganan akibat self diagnose. Seberapa bahayakah self diagnose dalam kasus gangguan kesehatan jiwa?

Upaya mendiagnosa diri sendiri berdasarkan informasi yang diperoleh secara mandiri atau singkatnya dikenal dengan self diagnose sering ditemui di media sosial. Dalam konteks kesehatan jiwa, akhir-akhir ini kerap dijumpai para remaja mengunggah cerita berbentuk video di platform media sosial tentang pengalaman pribadinya sebagai penyintas ataupun penderitayang direspon oleh banyak pengguna lain, yang perlu disorot ialah mayoritas dari respon tersebut berisi ungkapan bahwa mereka terdiagnosa gangguan jiwa serupa / sejenisnya tetapi hanya berdasar dari pencarian di internet maupun karena merasa memiliki persamaan gejala dengan pemilik konten.

Seiring semakin terjangkaunya akses jejaring sosial, kini tidak sulit bagi orang-orang dari usia muda hingga tua untuk mendapatkan pengetahuan maupun bertukar pengalaman dengan berbagai macam topik di internet, khususnya kesehatan.

Positifnya, hal ini memudahkan pengguna untuk lebih mawas diri terhadap kondisi kesehatannya dengan mencari informasi menyeluruh, namun masih banyak masyarakat yang belum bisa memanfaatkan teknologi dengan bijak, berbekal informasi dari internet seringkali digunakan sebagai satu-satunya patokan untuk mendiagnosa diri sendiri tanpa melakukan pemeriksaan lanjutan ke fasilitas kesehatan.

Salah seorang psikiater, dr. Jiemi Ardian Sp.KJ pernah mengatakan bahwa tindakan self diagnose membuat seseorang memberatkan yang ringan ataupun meringankan yang berat,kedua hal tersebut hanya akan melukai penderita gangguan jiwa lain yang benar terdiagnosa maupun bagi pelaku self diagnose itu sendiri. Hal itu benar adanya, seseorang yang melakukan self diagnose akan merasakan ketakutan dan panik dengan kondisinya ataupun sebaliknya, ia akan menghindar, menyangkal, dan akhirnya menyepelekan, padahal asumsi tersebut timbul dari pemikiran subyektifnya sendiri.Apabila asumsi itu dibagikan di media sosial dan meluas, tentu akan memicu pengguna lain untuk percaya bahkan ikut melakukan self diagnose, sedangkan jelas-jelasdi antara merekabelum ada yang menjalanipemeriksaan apapun.

Kasus gangguan kesehatan jiwa memerlukan perhatian khusus dan penanganan yang sesuai. Jenis dan derajat berat ringannyagangguan jiwa hanya bisaditentukanmelaluipenegakan diagnosa medis oleh dokter spesialis kesehatan jiwa melalui tahap-tahap pemeriksaan yang akurat dan obyektif. Terkadang orang-orang merasa bahwa gangguan yang dialami adalah normal, walaupun hanya berawaldari perasaan sedih situasional, stress ringan, ataupun perasaan tidak nyaman lainnya, jika sampai muncul persepsi seperti “dari gejala ini, sepertinya aku terkena bipolar”, “mengapa gejala depresi ini cocok sekali denganku? tidak mungkin aku terkena depresi,” yang timbul berkala dan mengganggu aktivitas sehari-hari, maka sudah saatnya berhenti mendiagnosa diri sendiri dan melakukan pemeriksaan ke professional. Melakukan self diagnose sama saja seperti membuka jalan untuk masuknya penyakit baru.

Problematika gangguan kesehatan jiwa masih menjadi  topik tabu di beberapa lapisan masyarakat, masih ada anggapan bahwa gangguan jiwa semata-mata terjadi karena penderita memiliki masalahterhadap kereligiusannya, sehingga saat seseorang merasa ada yang salah dengan proses pikirnya, ia enggan meminta bantuan dan memilih untuk mencari informasi sendiri di media massa yang berujung self diagnose.

Kasus self diagnose pada gangguan jiwa marak terjadi, hal ini erat kaitannya dengan masih banyaknya stigma serta kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan kesehatan jiwa. Gangguan jiwa juga penyakit, ada tim professional di bidangnya dan ada prosedur tetap untuk proses pengobatan. Oleh karena itu, sudah seyogyanya kita memulai bergotong royong untuk melawan stigma, menghindari self diagnose, dan berani meminta pertolongan. (*)

GRESIK – Istilah Mental Illness atau gangguan kesehatan jiwa kini tidak asing lagi di telinga masyarakat awam. Gangguan jiwa merupakan gangguan proses pikir yang melibatkan perasaan, emosi, dan kepribadian seseorang. Gangguan ini memiliki banyak jenis dan faktor penyebab, setiap penderita mendapatkan pengobatan yang berbeda-beda tergantung perjalanan penyakitnya.

Untuk menegakkan diagnosa pasti, diperlukan pemeriksaan lanjutan oleh tim medis profesional yakni dokter spesialis kesehatan jiwa. Gangguan kesehatan jiwa seringkali diabaikan gejalanya namun lebih fatalnya adalah keliru penanganan akibat self diagnose. Seberapa bahayakah self diagnose dalam kasus gangguan kesehatan jiwa?

Upaya mendiagnosa diri sendiri berdasarkan informasi yang diperoleh secara mandiri atau singkatnya dikenal dengan self diagnose sering ditemui di media sosial. Dalam konteks kesehatan jiwa, akhir-akhir ini kerap dijumpai para remaja mengunggah cerita berbentuk video di platform media sosial tentang pengalaman pribadinya sebagai penyintas ataupun penderitayang direspon oleh banyak pengguna lain, yang perlu disorot ialah mayoritas dari respon tersebut berisi ungkapan bahwa mereka terdiagnosa gangguan jiwa serupa / sejenisnya tetapi hanya berdasar dari pencarian di internet maupun karena merasa memiliki persamaan gejala dengan pemilik konten.

-

Seiring semakin terjangkaunya akses jejaring sosial, kini tidak sulit bagi orang-orang dari usia muda hingga tua untuk mendapatkan pengetahuan maupun bertukar pengalaman dengan berbagai macam topik di internet, khususnya kesehatan.

Positifnya, hal ini memudahkan pengguna untuk lebih mawas diri terhadap kondisi kesehatannya dengan mencari informasi menyeluruh, namun masih banyak masyarakat yang belum bisa memanfaatkan teknologi dengan bijak, berbekal informasi dari internet seringkali digunakan sebagai satu-satunya patokan untuk mendiagnosa diri sendiri tanpa melakukan pemeriksaan lanjutan ke fasilitas kesehatan.

Salah seorang psikiater, dr. Jiemi Ardian Sp.KJ pernah mengatakan bahwa tindakan self diagnose membuat seseorang memberatkan yang ringan ataupun meringankan yang berat,kedua hal tersebut hanya akan melukai penderita gangguan jiwa lain yang benar terdiagnosa maupun bagi pelaku self diagnose itu sendiri. Hal itu benar adanya, seseorang yang melakukan self diagnose akan merasakan ketakutan dan panik dengan kondisinya ataupun sebaliknya, ia akan menghindar, menyangkal, dan akhirnya menyepelekan, padahal asumsi tersebut timbul dari pemikiran subyektifnya sendiri.Apabila asumsi itu dibagikan di media sosial dan meluas, tentu akan memicu pengguna lain untuk percaya bahkan ikut melakukan self diagnose, sedangkan jelas-jelasdi antara merekabelum ada yang menjalanipemeriksaan apapun.

Kasus gangguan kesehatan jiwa memerlukan perhatian khusus dan penanganan yang sesuai. Jenis dan derajat berat ringannyagangguan jiwa hanya bisaditentukanmelaluipenegakan diagnosa medis oleh dokter spesialis kesehatan jiwa melalui tahap-tahap pemeriksaan yang akurat dan obyektif. Terkadang orang-orang merasa bahwa gangguan yang dialami adalah normal, walaupun hanya berawaldari perasaan sedih situasional, stress ringan, ataupun perasaan tidak nyaman lainnya, jika sampai muncul persepsi seperti “dari gejala ini, sepertinya aku terkena bipolar”, “mengapa gejala depresi ini cocok sekali denganku? tidak mungkin aku terkena depresi,” yang timbul berkala dan mengganggu aktivitas sehari-hari, maka sudah saatnya berhenti mendiagnosa diri sendiri dan melakukan pemeriksaan ke professional. Melakukan self diagnose sama saja seperti membuka jalan untuk masuknya penyakit baru.

Problematika gangguan kesehatan jiwa masih menjadi  topik tabu di beberapa lapisan masyarakat, masih ada anggapan bahwa gangguan jiwa semata-mata terjadi karena penderita memiliki masalahterhadap kereligiusannya, sehingga saat seseorang merasa ada yang salah dengan proses pikirnya, ia enggan meminta bantuan dan memilih untuk mencari informasi sendiri di media massa yang berujung self diagnose.

Kasus self diagnose pada gangguan jiwa marak terjadi, hal ini erat kaitannya dengan masih banyaknya stigma serta kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan kesehatan jiwa. Gangguan jiwa juga penyakit, ada tim professional di bidangnya dan ada prosedur tetap untuk proses pengobatan. Oleh karena itu, sudah seyogyanya kita memulai bergotong royong untuk melawan stigma, menghindari self diagnose, dan berani meminta pertolongan. (*)

Most Read

Berita Terbaru

/