RADAR GRESIK – Nama Nyai Ageng Pinatih tercatat dalam sejarah sebagai sosok perempuan yang memiliki peran besar di Kabupaten Gresik pada abad ke-15.
Ia dikenal sebagai saudagar sukses dan syahbandar (pemimpin pelabuhan) yang berpengaruh dalam perkembangan perdagangan dan penyebaran Islam di pesisir utara Jawa.
Nyai Ageng Pinatih adalah keturunan Majapahit yang pindah ke Jawa pada tahun 1415 setelah ayahnya meninggal, karena sebagai perempuan ia tidak bisa mewarisi ayahnya.
Dengan keuletan dan kecerdikannya, ia membangun usahanya hingga memiliki banyak perahu kecil. Karena dikenal dermawan dan memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik, ia dipercaya sebagai syahbandar pelabuhan Gresik, sebuah jabatan yang pada umumnya dipegang oleh kaum laki-laki. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan Nyai Ageng Pinatih dan peran besar perempuan pada masa itu.
Selain sebagai pedagang, Nyai Ageng Pinatih juga berkontribusi dalam dakwah Islam. Ia menggunakan jalur perdagangan untuk berinteraksi dengan masyarakat dan menyebarkan ajaran Islam.
Keberadaannya membuktikan bahwa Gresik bukan hanya pusat ekonomi maritim, tetapi juga pintu masuk penting bagi penyebaran Islam di Jawa.
Dikenal juga dengan beberapa julukan seperti Nyai Ageng Maloka, Nyai Ageng Tandes, Nyai Ageng Samboja, dan Nyai Ageng Salamah, ia datang ke Gresik sekitar tahun 1415 Masehi dan wafat pada tahun 1478 Masehi.
Makamnya yang berlokasi di Kelurahan Kebungson, Kecamatan Gresik, hingga kini masih ramai dikunjungi para peziarah. Situs ini menjadi saksi bisu jejak seorang perempuan yang memiliki peran strategis dalam sejarah Gresik.
"Semoga bisa menjaga budaya Nyai Ageng Pinatih dan memperkenalkannya kepada anak cucu kita," ujar Lurah Kebungson M. Fither Kuntajaya.
Sejarawan lokal menilai, sosok Nyai Ageng Pinatih merupakan bukti bahwa perempuan di masa lalu memiliki peranan penting dalam berbagai bidang, mulai dari perdagangan, kepemimpinan, hingga perkembangan peradaban Islam di Nusantara. (sof/han)
Editor : Hany Akasah