Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ritukan: Tradisi Patrol Sahur Warga Pesisir Utara Gresik, Penanda Syahdu Menjelang Akhir Ramadan

F
Penulis: Fajar Yuliyanto❯

SUASANA : Patrol sahur di suasana warga pesisir utara Gresik.
SUASANA : Patrol sahur di suasana warga pesisir utara Gresik.


Advertisement

RADAR GRESIK – Suasana dini hari di pesisir utara Kabupaten Gresik, khususnya di Kecamatan Ujungpangkah, berubah menjadi panggung seni rakyat yang meriah.

Menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, warga setempat membangkitkan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan Ritukan.

Bukan sekadar aktivitas membangunkan sahur biasa, Ritukan merupakan perpaduan antara religi, seni budaya, dan kegembiraan warga dalam menyambut datangnya Idulfitri.

Advertisement

Di Desa Pangkahwetan, tradisi ini menjelma menjadi pawai budaya yang megah. Warga tidak hanya membawa alat musik seadanya, tetapi juga menampilkan atraksi kesenian tradisional seperti Pencak Macan dan Reog.

Suara tetabuhan musik patrol berpadu dengan atraksi seni, menciptakan atmosfer sahur yang semarak dan penuh keceriaan.

Kepala Desa Pangkahwetan, Syaifullah Mahdi, mengungkapkan bahwa Ritukan telah mendarah daging bagi masyarakat Ujungpangkah. Ia sendiri mengaku telah mengenal istilah ini sejak masa kanak-kanak sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas desa.

Advertisement

“Ritukan di Pangkah sudah menjadi warisan nenek moyang. Ini adalah cara kami menikmati sepuluh hari terakhir Ramadan. Semua terlibat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa,” jelas Syaifullah.

Bagi masyarakat pesisir, kehadiran rombongan Ritukan di depan rumah menjadi alarm alami sekaligus pengingat bahwa bulan suci akan segera berakhir.

Tradisi ini biasanya mencapai puncaknya pada malam-malam ganjil di akhir Ramadan (malam likuran).

Selain sebagai sarana syiar, Ritukan menjadi momentum silaturahmi akbar bagi warga setelah seharian disibukkan dengan aktivitas masing-masing.

Usai pawai berkeliling kampung, warga biasanya pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira untuk bersantap sahur bersama keluarga.

Dalam tiga tahun terakhir, skala kemeriahan Ritukan terus meningkat. Penambahan unsur seni seperti Reog dan Pencak Macan sengaja dilakukan untuk menarik minat generasi muda sekaligus melestarikan budaya lokal Gresik.

“Kami ingin Ritukan tidak hanya sekadar membangunkan sahur, tapi juga menjadi ajang promosi seni budaya dan mempererat kerukunan warga. Alhamdulillah, setiap tahun antusiasmenya semakin luar biasa,” tutup Syaifullah. (jar/han) 

Advertisement
Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Gresik

Artikel Terkait

Meracik Kepedulian dari Tungku Pemberdayaan: Pemkab Gresik Uji Program PIRINGKU Jaga Gizi Lanssia

Meracik Kepedulian dari Tungku Pemberdayaan: Pemkab Gresik Uji Program PIRINGKU Jaga Gizi Lanssia

RADAR GRESIK – Nenek Nduk Urfiah duduk menanti di balai-balai depan rumah kontrakannya di Desa Pangkahkulon, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Selasa (3/11/2026) pagi. Senyum hangat terlukis di bibirnya

Sasar Kafe di Ujungpangkah, Satresnarkoba Polres Gresik Sita Ratusan Botol Miras Ilegal

Sasar Kafe di Ujungpangkah, Satresnarkoba Polres Gresik Sita Ratusan Botol Miras Ilegal

RADAR GRESIK – Peredaran minuman keras (miras) tanpa izin di wilayah Gresik utara terus menjadi sasaran penindakan tegas Polres Gresik. Kali ini, jajaran Satresnarkoba Polres Gresik bergerak menyasar sebuah warkop dan

Lewat Gerakan ASRI, Kader Gerindra Gresik Hijaukan Pesisir Ujungpangkah dengan 750 Mangrove

Lewat Gerakan ASRI, Kader Gerindra Gresik Hijaukan Pesisir Ujungpangkah dengan 750 Mangrove

RADAR GRESIK – Memperingati ulang tahun Presiden Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, yang ke-75, jajaran kader dan pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kabupaten

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer