Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tradisi Kedundangan Gresik, Menghidupkan 10 Hari Terakhir Ramadan dengan Suara Bedug dan Salawat

H
Penulis: Hany Akasah❯

SEMARAK: Remaja dan anak berkeliling kampung meramaikan tradisi Kedundangan di Gresik.
SEMARAK: Remaja dan anak berkeliling kampung meramaikan tradisi Kedundangan di Gresik.


Advertisement

RADAR GRESIK - Di sepuluh malam terakhir Ramadan, ketika langit Gresik mulai berhias alunan bedug dan salawat terdengar syahdu. Bukan sekadar irama biasa, melainkan denyut nadi tradisi Kedundangan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini kembali hidup di berbagai sudut kota, mulai dari Lumpur, Kroman, hingga pelosok desa lainnya.

  

Kedundangan adalah sebuah ritual religi yang unik, perpaduan antara semangat ibadah dan kekayaan budaya lokal. Rombongan anak-anak dan remaja, dengan wajah berseri, berjalan kaki dari kampung ke kampung.

Advertisement

 

Di tangan mereka, tergenggam kotak amal, siap menampung sedekah yang akan disalurkan ke masjid atau langgar. Langkah mereka diiringi tabuhan bedug dan rebana, menciptakan suasana syiar Islam yang begitu khas.

 

 

Tujuan akhir dari perjalanan spiritual ini adalah Masjid Jami Gresik, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perkembangan Islam di kota ini. Di sana, mereka berkumpul, bermunajat, dan berharap mendapatkan limpahan berkah di malam Lailatul Qadar.

 

Lebih dari sekadar ritual tahunan, Kedundangan adalah bentuk dakwah kultural yang efektif. Bagaimana tidak, di tengah gempuran modernisasi, tradisi ini mampu menarik perhatian generasi muda untuk terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan.

 

"Saya ikut karena senang saja. Seru bisa jalan keliling sambil salawatan sama teman-teman," ujar Rizki Afriansa, 10, salah satu peserta Kedundangan, dengan mata berbinar.

 

 

Kedundangan menjadi bukti bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan, saling memperkuat, dan menciptakan harmoni dalam kehidupan masyarakat.

 

Di balik kesederhanaan tradisi Kedundangan, tersimpan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga warisan leluhur. Di tengah arus globalisasi, tradisi ini menjadi benteng pertahanan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

 

Harapannya, generasi muda Gresik dapat terus menjaga dan melestarikan tradisi Kedundangan, agar warisan budaya ini tidak lekang oleh waktu. Kedundangan adalah identitas kota santri, sebuah permata yang harus dijaga kilaunya. (far/han)

Advertisement

Artikel Terkait

Semarak Satu Dekade HSN 2026, Radar Gresik Siapkan Pesta Santri dan Festival UMKM

Semarak Satu Dekade HSN 2026, Radar Gresik Siapkan Pesta Santri dan Festival UMKM

RADAR GRESIK – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Gresik dipastikan bakal berlangsung semarak dan meriah. Mengusung tajuk Semarak Satu Dekade Hari Santri Nasional 2026, rangkaian kegiatan bernuansa

Perkuat Tumbuh Kembang Anak, IIDI Gresik Sosialisasikan Gizi Seimbang di Ponpes Hidayatullah Manyar

Perkuat Tumbuh Kembang Anak, IIDI Gresik Sosialisasikan Gizi Seimbang di Ponpes Hidayatullah Manyar

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas kesehatan generasi muda sejak dini, Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Gresik menggelar aksi edukasi kesehatan bagi kalangan santri. Agenda yang dikemas dalam rangka

Merawat Ingatan Warga, Festival Menjadi Gresik Jadikan Kampung Kemasan Ruang Arsip Sejarah Kota

Merawat Ingatan Warga, Festival Menjadi Gresik Jadikan Kampung Kemasan Ruang Arsip Sejarah Kota

RADAR GRESIK — Sejarah dan identitas Kota Gresik tidak hanya terpatri pada deretan bangunan kuno maupun lembaran dokumen resmi. Lebih dari itu, ingatan kolektif warga mengenai tradisi kuliner, busana, seluk-beluk kampung

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer