Tradisi Kedundangan Gresik, Menghidupkan 10 Hari Terakhir Ramadan dengan Suara Bedug dan Salawat

RADAR GRESIK - Di sepuluh malam terakhir Ramadan, ketika langit Gresik mulai berhias alunan bedug dan salawat terdengar syahdu. Bukan sekadar irama biasa, melainkan denyut nadi tradisi Kedundangan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini kembali hidup di berbagai sudut kota, mulai dari Lumpur, Kroman, hingga pelosok desa lainnya.
Kedundangan adalah sebuah ritual religi yang unik, perpaduan antara semangat ibadah dan kekayaan budaya lokal. Rombongan anak-anak dan remaja, dengan wajah berseri, berjalan kaki dari kampung ke kampung.
Di tangan mereka, tergenggam kotak amal, siap menampung sedekah yang akan disalurkan ke masjid atau langgar. Langkah mereka diiringi tabuhan bedug dan rebana, menciptakan suasana syiar Islam yang begitu khas.
Baca Juga: Berkah Ramadan dari Tangan Santri, Kopiah Ponpes KH M. Kholil Banjir Pesanan hingga NTT
Tujuan akhir dari perjalanan spiritual ini adalah Masjid Jami Gresik, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perkembangan Islam di kota ini. Di sana, mereka berkumpul, bermunajat, dan berharap mendapatkan limpahan berkah di malam Lailatul Qadar.
Lebih dari sekadar ritual tahunan, Kedundangan adalah bentuk dakwah kultural yang efektif. Bagaimana tidak, di tengah gempuran modernisasi, tradisi ini mampu menarik perhatian generasi muda untuk terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan.
"Saya ikut karena senang saja. Seru bisa jalan keliling sambil salawatan sama teman-teman," ujar Rizki Afriansa, 10, salah satu peserta Kedundangan, dengan mata berbinar.
Baca Juga: Tanamkan Empati pada Anak, KB TK Muslimat NU Nurul Ishlah Gelar Kegiatan Berbagi Berkah Ramadan
Kedundangan menjadi bukti bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan, saling memperkuat, dan menciptakan harmoni dalam kehidupan masyarakat.
Di balik kesederhanaan tradisi Kedundangan, tersimpan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga warisan leluhur. Di tengah arus globalisasi, tradisi ini menjadi benteng pertahanan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Harapannya, generasi muda Gresik dapat terus menjaga dan melestarikan tradisi Kedundangan, agar warisan budaya ini tidak lekang oleh waktu. Kedundangan adalah identitas kota santri, sebuah permata yang harus dijaga kilaunya. (far/han)



