alexametrics
30 C
Gresik
Saturday, 23 October 2021

Tradisi Rebo Wekasan Digelar Secara Sederhana di Desa Suci

GRESIK- Rebo Wekasan Desa Suci digelar dengan sederhana menerapkan protokol kesehatan ketat tanpa kirab tumpeng. Tradisi Rabu pungkasan atau masyarakat Kota Santri lazim menyebutnya Rebo wekasan. Di Desa Suci, Kecamatan Manyar digelar pada hari Rabu terakhir di Bulan Safar. Tidak seperti tahun-tahun sebelum pandemi Covid-19, kali ini hanya dimaknai dengan tasyakuran dan doa bersama di Masjid Mambaul Thoat, Selasa  (5/10) malam.

Ahmad Hilmi Afandi ,36, selaku ketua panitia Rebo Wekasan mengatakan, Rebo Wekasan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelum pandemi. “Yang biasanya ada kirab tumpeng berukuran besar dan pasar malam, namun karena situasi pandemi Covid-19 yang belum juga berlalu, panitia memutuskan untuk meniadakan kirab tumpeng dan pasar malam. Satu tumpeng berukuran besar telah disediakan panitia di halaman Masjid Mambaul Thoat,” kata Hilmi.

Lebih lanjut dia membeberkan asal muasal tradisi Rebo Wekasan. Menurut cerita tutur, pada hari Rabu terakhir di Bulan Safar, Allah SWT mengabulkan permintaan masyarakat Desa Suci. “Yang telah lama menantikan sumber air guna mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari, akhirnya dapat ditemukan. Sehingga pada malam hari Rabu terakhir pada bulan Safar masyarakat mengadakan selamatan secara turun temurun hingga saat ini,” ujarnya.

Acara tasyakuran dan doa bersama yang dihadiri sekitar 100 orang warga juga tokoh agama Desa Suci tersebut menjalankan protokol kesehatan secara ketat. “Mulai Khotmil Qur’an dan pembacaan Tahlil hingga santunan anak yatim, Alhamdulillah berjalan lancar,” ucapnya.

Dihadiri Forkopimcam Manyar, tampak mengikuti rangkaian acara kearifan lokal itu dengan khidmat.  Di antaranya, Kapolsek Manyar AKP Windu Priyo Prayitno, Danramil 0817 / 06 Manyar Kapten Inf Imam Suudi, Camat Manyar Moh Nadlelah, Kades Suci Khoirul Dolam serta KH Fahmi Faqih pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Roudlotul Muta’allimin.

Kapolsek Manyar AKP Windu menuturkan hormati kearifan lokal dengan protokol kesehatan karena pandemi belum berakhir.

“Selain menghadiri tasyakuran Rebo Wekasan, kami juga mengawal protokol kesehatan dan menjaga Kamtibmas agar acara ini berjalan lancar,” tuturnya.

Sementara Kepala Desa Suci Achmad Rizal mengatakan kirim doa dan selamatan Rebo Wekasan ini merupakan tradisi tahunan.

“Sekaligus memperingati hari jadi Desa Suci ke-630,” kata Rizal.

Dia juga mengapresiasi panitia penyelenggara, telah mensukseskan acara ditengah pandemi Covid-19 ini tetap menerapkan protokol kesehatan.

Selaku kepala desa dia berharap, generasi muda kedepannya tetap melestarikan tradisi Rebo Wekasan hingga nanti anak cucu.(yud/han)


GRESIK- Rebo Wekasan Desa Suci digelar dengan sederhana menerapkan protokol kesehatan ketat tanpa kirab tumpeng. Tradisi Rabu pungkasan atau masyarakat Kota Santri lazim menyebutnya Rebo wekasan. Di Desa Suci, Kecamatan Manyar digelar pada hari Rabu terakhir di Bulan Safar. Tidak seperti tahun-tahun sebelum pandemi Covid-19, kali ini hanya dimaknai dengan tasyakuran dan doa bersama di Masjid Mambaul Thoat, Selasa  (5/10) malam.

Ahmad Hilmi Afandi ,36, selaku ketua panitia Rebo Wekasan mengatakan, Rebo Wekasan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelum pandemi. “Yang biasanya ada kirab tumpeng berukuran besar dan pasar malam, namun karena situasi pandemi Covid-19 yang belum juga berlalu, panitia memutuskan untuk meniadakan kirab tumpeng dan pasar malam. Satu tumpeng berukuran besar telah disediakan panitia di halaman Masjid Mambaul Thoat,” kata Hilmi.

Lebih lanjut dia membeberkan asal muasal tradisi Rebo Wekasan. Menurut cerita tutur, pada hari Rabu terakhir di Bulan Safar, Allah SWT mengabulkan permintaan masyarakat Desa Suci. “Yang telah lama menantikan sumber air guna mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari, akhirnya dapat ditemukan. Sehingga pada malam hari Rabu terakhir pada bulan Safar masyarakat mengadakan selamatan secara turun temurun hingga saat ini,” ujarnya.

-

Acara tasyakuran dan doa bersama yang dihadiri sekitar 100 orang warga juga tokoh agama Desa Suci tersebut menjalankan protokol kesehatan secara ketat. “Mulai Khotmil Qur’an dan pembacaan Tahlil hingga santunan anak yatim, Alhamdulillah berjalan lancar,” ucapnya.

Dihadiri Forkopimcam Manyar, tampak mengikuti rangkaian acara kearifan lokal itu dengan khidmat.  Di antaranya, Kapolsek Manyar AKP Windu Priyo Prayitno, Danramil 0817 / 06 Manyar Kapten Inf Imam Suudi, Camat Manyar Moh Nadlelah, Kades Suci Khoirul Dolam serta KH Fahmi Faqih pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Roudlotul Muta’allimin.

Kapolsek Manyar AKP Windu menuturkan hormati kearifan lokal dengan protokol kesehatan karena pandemi belum berakhir.

“Selain menghadiri tasyakuran Rebo Wekasan, kami juga mengawal protokol kesehatan dan menjaga Kamtibmas agar acara ini berjalan lancar,” tuturnya.

Sementara Kepala Desa Suci Achmad Rizal mengatakan kirim doa dan selamatan Rebo Wekasan ini merupakan tradisi tahunan.

“Sekaligus memperingati hari jadi Desa Suci ke-630,” kata Rizal.

Dia juga mengapresiasi panitia penyelenggara, telah mensukseskan acara ditengah pandemi Covid-19 ini tetap menerapkan protokol kesehatan.

Selaku kepala desa dia berharap, generasi muda kedepannya tetap melestarikan tradisi Rebo Wekasan hingga nanti anak cucu.(yud/han)


Most Read

Berita HITS

Berita Terbaru