alexametrics
27 C
Gresik
Thursday, 19 May 2022

Banyaknya Industri di Gresik Jadi Alasan Lokasi Pembangunan Smelter

GRESIK – Progres pembangunan smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) menjelang tutup tahun 2021 baru mencapai 8 persen. Dengan luas lahan 100 hektar di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), PT Ciyoda International Indonesia (CII) terus mengebut proses Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) proyek Smelter.

Vice President PTFI Riza Pratama menyampaikan apabila tahap permulaan pembangunan smelter itu lama. Sebab, sebelum pembangunan smelter, rekanan perlu meratakan dan memadatkan tanah hingga mencapai kestabilan yang sudah ditentukan. “Apalagi, dalam tahap ini sempat terdampak pandemi pada 2020 lalu,” kata Riza.

Pembangunan dalam skala besar akan dimulai 2022 mendatang. Selama pembangunan hingga 2023 nanti, PT Ciyoda International Indonesia sebagai pelaksana kebiatan Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) membutuhkan sekitar 40 ribu pekerja.

Lalu ketika pemurnian konsentrat tembaga pada 2024 nanti beroperasi, kebutuhan tenaga kerja PTFI sekitar 1.000 orang. Riza menyampaikan apabila tenaga kerja yang dibutuhkan untuk operasional smelter harus memiliki kualifikasi khusus. “Yang jelas butuh skill metalurgis. Nanti spesifikasi SDM yang dibutuhkan akan kami share ke pemerintah daerah,” jelasnya.

Terkait dengan pilihan tempat pembangunan smelter di Kota Industri Gresik sangat cukup beralasan. Salah satunya berkaitan dengan serapan limbah dari produk katoda tembaga. Jenis limbah yang dihasilkan smelter rata-rata menjadi bahan dasar pengolahan pabrik lain.

Seperti limbah asam sulfat yang digunakan untuk bahan dadar pupuk Petrokimia. Kemudian terak tembaga untuk bahan pabrik semen. Jadi pilihan tempat di Gresik dianggap sangat tepat. Tidak ada materiil yang akan dibuang sembarangan, melainkan ada industri yang bisa menyerap limbah.  “Kenapa tidak dibangun di Papua, biayanya cukup tinggi. Karena tidak ada industri yang menyerap,” paparnya.

Riza memastikan, pihak Freeport akan mengelola limbah dengan baik. Ia juga keberatan jika proyek smelter disamakan dengan tambang Freeport papua. Karena dari segi produksinya sangat berbeda.  “Di Papua Freeport usahanya adalah tambang, kalau di Gresik smelter adalah industri,” pungkasnya.  (fir/han)

GRESIK – Progres pembangunan smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) menjelang tutup tahun 2021 baru mencapai 8 persen. Dengan luas lahan 100 hektar di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), PT Ciyoda International Indonesia (CII) terus mengebut proses Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) proyek Smelter.

Vice President PTFI Riza Pratama menyampaikan apabila tahap permulaan pembangunan smelter itu lama. Sebab, sebelum pembangunan smelter, rekanan perlu meratakan dan memadatkan tanah hingga mencapai kestabilan yang sudah ditentukan. “Apalagi, dalam tahap ini sempat terdampak pandemi pada 2020 lalu,” kata Riza.

Pembangunan dalam skala besar akan dimulai 2022 mendatang. Selama pembangunan hingga 2023 nanti, PT Ciyoda International Indonesia sebagai pelaksana kebiatan Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) membutuhkan sekitar 40 ribu pekerja.

-

Lalu ketika pemurnian konsentrat tembaga pada 2024 nanti beroperasi, kebutuhan tenaga kerja PTFI sekitar 1.000 orang. Riza menyampaikan apabila tenaga kerja yang dibutuhkan untuk operasional smelter harus memiliki kualifikasi khusus. “Yang jelas butuh skill metalurgis. Nanti spesifikasi SDM yang dibutuhkan akan kami share ke pemerintah daerah,” jelasnya.

Terkait dengan pilihan tempat pembangunan smelter di Kota Industri Gresik sangat cukup beralasan. Salah satunya berkaitan dengan serapan limbah dari produk katoda tembaga. Jenis limbah yang dihasilkan smelter rata-rata menjadi bahan dasar pengolahan pabrik lain.

Seperti limbah asam sulfat yang digunakan untuk bahan dadar pupuk Petrokimia. Kemudian terak tembaga untuk bahan pabrik semen. Jadi pilihan tempat di Gresik dianggap sangat tepat. Tidak ada materiil yang akan dibuang sembarangan, melainkan ada industri yang bisa menyerap limbah.  “Kenapa tidak dibangun di Papua, biayanya cukup tinggi. Karena tidak ada industri yang menyerap,” paparnya.

Riza memastikan, pihak Freeport akan mengelola limbah dengan baik. Ia juga keberatan jika proyek smelter disamakan dengan tambang Freeport papua. Karena dari segi produksinya sangat berbeda.  “Di Papua Freeport usahanya adalah tambang, kalau di Gresik smelter adalah industri,” pungkasnya.  (fir/han)

Most Read

Berita Terbaru

/