alexametrics
31 C
Gresik
Wednesday, 19 January 2022

Harga Merosot, Petani Garam Diajari Pengolahan Modern

GRESIK – Pengolahan garam yang masih tradisional membuat harga jualnya rendah. Hal ini membuat petani sering kali merugi. Untuk menangani hal tersebu, Dinas Perikanan Kabupaten Gresik melakukan pelatihan pengolahan modern kepada petani garam.

Kepala Dinas Perikanan Gresik, Choirul Anam mengatakan, Kabupaten Gresik memiliki potensi 207,32 hektar tambak garam. Dan saat ini lahan produksi baru mencapai 98,8 hektar yang tersebar di Kecamatan Manyar, Kecamatan Kebomas dan Kecamatan Panceng. Dari luas tersebut dihasilkan produk garam 2.649,19 ton dan selama ini banyak dijual ke pengepul, pabrik pengolahan ikan, pasar lokal dan budidaya ikan.

“Karena kualitas garam yang diolah secara konvensional dan penjualan yang bersifat tradisional tersebut sehingga harga jual garam saat ini masih rendah,”katanya.

Diharapkan, dengan semakin tingginya permintaan harga jual yang lebih baik maka secara tidak langsung akan merangsang produktivitas garam meningkat. Muaranya tentu pada semakin sejahteranya masyarakat petambak garam. “Karena Pengembangan Usaha Garam Rakyat (Pugar) salah satu outcome yang diharapkan oleh KKP (Kementerian Kelautan dan Perikan) adalah meningkatnya indeks nilai tukar petambak garam (NTPG) menjadi di atas 100,”jelasnya.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan dan Pengawasan Sumberdaya Perikanan Gresik, Zurron Arifin mengatakan, saat ini di Desa Karangrejo Manyar berdiri washing plat yang merupakan proyek dari KKP. Dalam waktu dekat akan segera beroperasi dan diharapkan mampu menghasilkan 20 ton garam konsumsi setiap hari.

“Kami berharap untuk kegiatan ini masyarakat khususnya petani garam akan memiliki variasi produk olahan garam non konsumen dan dapat memenuhi kebutuhan di washing plant. Semoga pengelola baik diperikaan maupun garam harus mampu menjaga kualitas produk dan bersaing dipasaran dan harga jual baik,”terangnya. (jar/rof)

GRESIK – Pengolahan garam yang masih tradisional membuat harga jualnya rendah. Hal ini membuat petani sering kali merugi. Untuk menangani hal tersebu, Dinas Perikanan Kabupaten Gresik melakukan pelatihan pengolahan modern kepada petani garam.

Kepala Dinas Perikanan Gresik, Choirul Anam mengatakan, Kabupaten Gresik memiliki potensi 207,32 hektar tambak garam. Dan saat ini lahan produksi baru mencapai 98,8 hektar yang tersebar di Kecamatan Manyar, Kecamatan Kebomas dan Kecamatan Panceng. Dari luas tersebut dihasilkan produk garam 2.649,19 ton dan selama ini banyak dijual ke pengepul, pabrik pengolahan ikan, pasar lokal dan budidaya ikan.

“Karena kualitas garam yang diolah secara konvensional dan penjualan yang bersifat tradisional tersebut sehingga harga jual garam saat ini masih rendah,”katanya.

-

Diharapkan, dengan semakin tingginya permintaan harga jual yang lebih baik maka secara tidak langsung akan merangsang produktivitas garam meningkat. Muaranya tentu pada semakin sejahteranya masyarakat petambak garam. “Karena Pengembangan Usaha Garam Rakyat (Pugar) salah satu outcome yang diharapkan oleh KKP (Kementerian Kelautan dan Perikan) adalah meningkatnya indeks nilai tukar petambak garam (NTPG) menjadi di atas 100,”jelasnya.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan dan Pengawasan Sumberdaya Perikanan Gresik, Zurron Arifin mengatakan, saat ini di Desa Karangrejo Manyar berdiri washing plat yang merupakan proyek dari KKP. Dalam waktu dekat akan segera beroperasi dan diharapkan mampu menghasilkan 20 ton garam konsumsi setiap hari.

“Kami berharap untuk kegiatan ini masyarakat khususnya petani garam akan memiliki variasi produk olahan garam non konsumen dan dapat memenuhi kebutuhan di washing plant. Semoga pengelola baik diperikaan maupun garam harus mampu menjaga kualitas produk dan bersaing dipasaran dan harga jual baik,”terangnya. (jar/rof)

Most Read

Berita Terbaru